About

BIODATA FORMAT 1 DI SINI ATAU FORMAT 2 KLIK DI SINI | Firdaus Putra Aditama, dengan nama sebenarnya (versi KTP/SIM/KTM/STTB/dll) Firdos Putra Aditama. Saya lebih senang menggunakan Firdaus daripada Firdos. Karena sejatinya nama depan tersebut diambil dari bahasa Arab (isim alam)atau kata benda,Firdaus, salah satu nama surga. Lafadl itu tersusun dari huruf hijaiyah fa-ra-dal-wawu-sin. Berbeda jauh dengan itu, Firdos tersusun dari fa-ra-dlhot-sin yang artinya "puting susu".

Namun dalam keadaan tertentu saya tetap menggunakan kata Firdos. Mengapa? Karena kata itulah yang pertama kali terdaftar di kantor catatan sipil (Surat Kelahiran dan Akta Kelahiran). Sempat saya tanyakan kepada ayahanda, mengapa terjadi kesalahan fatal pada nama tersebut. Menurut beliau, dulu sebenarnya terucap "Firdaus" hanya saja, entah karena lafal Jawa atau memang kurang mendengar, staf catatan sipil menulis dengan "Firdos". Jadilah nama itu sebagai "nama resmi" yang diakui negara.

Selanjutnya kata "Putra". Ini jelas menunjukan jenis kelamin saya. Meskipun tanpa menambahkan "Putra" jenis kelamin tetap dapat dikenali melalui kata "Firdaus". Mengapa? Karena dalam bahasa Arab bentuk kata itu merujuk pada mudzakkar atau laki-laki. Sedang untuk perempuan biasanya ditulis dengan "Faradisa". Jadi menambahkan kata "Putra" setelah "Firdaus" merupakan bentuk pentaukidan atau peneguhan, bahwa orang ini adalah benar-benar lelaki.

Dan kata terakhir, "Aditama". Banyak orang yang salah kira pada saya, mereka mengira kalau saya adalah anak pertama. Itu Salah besar. Justru sebaliknya, saya adalah anak terakhir (bontot) dari tiga bersaudara. Saya mempunyai kakak, pertama Izzana Murniati (perempuan) dan Azza Pringganafita (laki-laki). Karena dua kakak itu menggunakan kata dasar "izza" dan "azza" yang dalama bahasa Arab berasal dari satu rumpun kata, ada yang membuat joke kalau seharusnya nama saya adalah "azzu". Its just joke!

Saya lahir di sebuah desa, Wiroditan Kec. Bojong Kab. Pekalongan. Tepatnya dulu pada 31 Maret 1985. Saya besar di antara dua desa, Wiroditan dan Bojongminggir. Di desa yang pertama, saya ikut nenek dan kakek. Sedang di desa yang kedua, saya ikut orang tua. Karena berbagai kondisi, misal ekonomi yang kurang stabil, keluarga saya orang tua) pindah rumah sampai lima kali. Sembari becanda, kadang saya bilang, "Eh kita semua kan suka kucing. Dan ternyata ilmu kucing nurun ke kita, senang pindah rumah". Tentu saja itu sekedar joke untuk menertawakan kegetiran hidup.

Saya dibesarkan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Apalagi ayah saya, dulu pernah nyantri. Akhirnya semua putra-putrinya dipesantrenkan juga. Mbak saya, Izza, sempat tiga tahun di Magelang. Sedang Azza dan saya sempat di Lirboyo - Kediri. Berbeda dengan mbak dan mas, saya yang tidak sampai menamatkan belajar di pesantren. Ya ... hanya dua tahun. Alasannya ... (baca saja di blog saya, pasti kalau cermat Anda akan temukan panjang-lebar mengapa saya keluar pondok).

Sehabis keluar, saya lanjutkan masa SMA saya di MAN 1 Kedungwuni Pekalongan. Di sana saya sangat bersyukur, pasalnya saya memperoleh teman-teman yang berada di Pekalongan. Berbeda dulu (sewaktu mondok) dengan sekarang (saat masih kuliah) sebagian besar saya berasal dari luar kota. Alhasil, sewaktu saya pulang ke rumah, saya merasa kesepian apabila tak bertepatan dengan hari libur, seperti Idul Fitri atau peringatan besar lainnya.

Pada tahun 2003, dengan alasan tertentu, saya pikir cukup heroik, saya memilih program studi Sosiologi sebagai pilihan pertama. Karena faktor ekonomi dan kemudahan akses (passing grade) saya pilih UNSOED. Pilihan kedua jatuh pada program studi Hukum di Universitas Jember. Dan tentu saja, seperti Anda tahu, saya diterima di Sosiologi FISIP UNSOED melalui jalur SPMB Nasional.

Saat awal kuliah itulah masa sulit keluarga saya. Bayangkan saja, bulan Agustus setelah mengetahui saya diterima di UNSOED, saya membutuhkan dana untuk membayar uang gedung dan berbagai hal lainnya. Saat itu ayah saya bekerja menjadi TKI di Madinah - Saudi Arabia. Beliau sudah kerja hampir satu setengah tahun. Dan pada tahun 2003, bulan Agustus itu, beliau terkena musibah. Beliau masuk tahanan karena kecelakaan lalu lintas. Ya inilah resiko seorang sopir. Sehati-hatinya tetap saja di antara menabrak atau ditabrak.

Suatu malam saya hubungi beliau untuk menginformasikan dan meminta kiriman dana. Dan begitu kagetnya saya, di ujung gagang telepon sana teman dari ayah saya menyampaikan informasi tak mengenakan itu. Malam itu saya pulang dengan lemas. Perasaan saya galau, antara senang sudah bisa menembus SPMB Nasional, sedang di sisi lain, ayah di tahan. Malam itu keluarga dirundung sedih. Akhirnya saya bilang sama ibu, "Bu kalau memang sulit, tak haruslah saya kuliah tahun ini. Biar saya kuliah tahun depan menunggu semuanya lancar". Ibu saya menangis, saya pun turut tangis.

Memang tak ada orang tua yang rela anaknya bersedih. Saat itu ibu tetap memberi saya dukungan dan harapan. Dipilihnya tanah halaman belakang rumah untuk dijual ke tetangga sebagai biaya pendidikan saya.

Enam bulan penuh, dimana saat awal kuliah, ayah sama sekali tak mengirim uang. Kami sekeluarga hidup dari bantuan orang tua ibu-ayah. Dan pada tahun 2004, saya ingat betul tanggal 25 Desember saat Natal tiba, tanpa kabar apapun, tiba-tiba ayah saya pulang. Saat itu saya sedang di rumah untuk liburan. Saya peluk dia. Dia peluk dan cium saya.

Ya, keluarga kami saat itu bahagia luar biasa. Yang dinanti-nantikan selama ini tiba juga. Syukur tak kurang suatu apa. Badan ayah tidak kurus, bahkan gemuk. Mbak saya, Izza, menangis sejadi-jadinya. Ya, pasalnya mbak saya pada tahun-tahun sulit itu menikah dengan wali hakim. Saat ijab-qabul, diputarlah rekaman penyerahan kewalian dari ayah (via SLI) ke orang tertentu. Ijab-qabul saat itu berlangsung hikmat dan haru. Tahun-tahun itu sulit untuk saya lupakan.

Biodata saya, klik di sini atau klik di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment