Pengakuan dan Kerelaan

Beberapa waktu ini saya punya kasus menarik yang membuat, tiba-tiba, saya refleksikan ihwal syahadat. Syahadat itu, dalam tradisi Islam, adalah pernyataan pengakuan bahwa Allah menjadi sesembahan kita. Kemudian saya menjadi teringat mengapa syahadat itu menjadi rukun iman yang pertama, bukannya salat atau puasa dan seterusnya. Beberapa referensi saya baca ada yang mengatakan bahwa bila kita salat, puasa dan seterusnya, namun tidak syahadat, hal itu tak akan dihitung sebagai amal ibadah.

Lalu saya merenung sebegitu pentingnya kah syahadat atau pernyataan pengakuan itu dilakukan. Sampai kemudian saya dapati kasus mirip dalam konteks berbeda ihwal pernyataan pengakuan ini. Kasus ini sangat manusiawi dan tak berhubungan dengan ketuhanan, namun memiliki dimensi yang mirip. Begini kisahnya.

***
Di zaman media sosial ini, jejak digital bisa mengisahkan banyak hal. Bahkan beberapa perusahaan menggunakan jejak digital di media sosial dalam proses validasi rekrutmen SDM. Jejak digital cenderung tak berbohong karena dibuat secara spontan dalam waktu lama. Ada konsistensi di sana.

Kemudian secara tak sengaja saya menemukan bahwa salah satu karyawan ternyata jarang menunjukkan dan mengekspresikan diri bahwa yang bersangkutan bekerja dan beraktivitas di lembaga yang saya pimpin. Hal itu mulanya sederhana ketika saya peroleh email yang bersangkutan, digital signature yang digunakan dalam email itu, sama sekali tak cantumkan nama institusi. Ini berbeda dengan kolega yang lain, meskipun belum lama bergabung, cantumkan institusi. Ada penghayatan yang berbeda.

Kemudian tak sengaja juga saya menemukan di rekam jejak lain bagaimana yang bersangkutan profilkan diri di sebuah website. Lagi-lagi, tidak ada nama institusi kami, justru menyebut beberapa institusi yang lain. Agar tidak berburuk sangka, kemudian saya konfirmasi, "Apakah luput mencantumkan atau ada hambatan psikologis tertentu?"

Dalam posisi dimana Anda menjadi seorang leader lembaga tertentu, Anda pasti akan merasa curious melihat hal seperti itu. Tentu akan bertanya-tanya, misalnya, apakah malu berkarir di lembaga ini, atau apakah merasa terbebani dengan lembaga ini dan seterusnya.

Dalam posisi saya, pengakuan itu perlu dilakukan. Yang seharusnya dilakukan secara sukarela. Itu merupakan cerminan dari apa yang namanya engagement atau keterlibatan dalam berkarir/ berkarya.  Tentu saja kita cenderung akan mengisahkan soal apa-apa yang kita cintai, kepedulian serta soal apa-apa yang kita kerjakan. Itu biasanya terjadi secara spontan, sukarela, tanpa perlu diminta. Karena itu adalah insting alamiah manusia.

Di sisi lain, ketika yang bersangkutan dievaluasi, ia akan membela diri dengan menyampaikan apa-apa yang sudah dikerjakan. Namun saya merasa ada yang kurang. Nah ketemulah itu, saya merasa saya belum rela karena yang bersangkutan tidak pernah mengakui darimana ia dilahirkan.

Apa-apa yang dikerjakan itu, dari pagi sampai sore atau malam di kantor, saya sebut sebagai aspek kuantitatif. Sedangkan pernyataan pengakuan itu saya sebut sebagai aspek kualitatif. Secara kuantitatif dia telah banyak melakukan pekerjaan, namun secara kualitatif, ada spirit yang hilang, ada api yang tak menyala. 

***
Saya kemudian merenungkan, bilamana dianggap paralel atau analog, itu sebab mengapa keimanan pertama kali menyaratkan adanya syahadat atau pernyataan pengakuan. Bahwa, ya saya menyembah Tuhan yang satu. Dalam konteks lain itu mirip seperti pengakuan, bahwa ya saya berkarir dan besar di ruang ini. 

Pengakuan ini berhubungan dengan kerelaan. Kerelaan pertama adalah yang bersangkutan. Kerelaan kedua adalah dari pihak yang diakui. Kerelaan itu cerminan dari engangement tadi, tentu bukan suatu permintaan resmi lembaga untuk mencantumkan. Meskipun beberapa lembaga atau perusahaan lain melakukan itu. Namun akan lebih murni bila itu lahir secara alamiah.

Yang kedua hasilnya adalah kerelaan dari yang diakui. Dengan kerelaan itu, maka daya dukung akan lebih besar. Dalam konteks beriman kepada Tuhan, itu mirip dengan sebuah fatsun yang mengatakan, bila Tuhan rela/ ridlo, maka apapun akan diberikan. Meski tidak terlalu apple to apple untuk membanding, hanya menggunakan polanya saja, dalam konteks karir, pengakuan itu akan membuat lembaga atau pimpinan lembaga rela untuk memberikan daya dukungnya secara prima. Itu yang kemudian dalam bahasa lain disebut sebagai efek dari loyalitas.

Pimpinan lembaga biasanya mengetahui, dan bukan hanya itu, dapat merasakan tingkat loyalitas dari setiap orang yang dipimpinnya. Dari hal remeh temeh atau hal-hal nampak lainnya, biasanya kita bisa merasakan siapa yang loyalitasnya tinggi dan siapa yang kurang. Hal itu yang melampaui alat hitung kinerja secara kuantitatif.

Orang-orang dengan loyalitas tertentu biasanya dapat bertahan pada situasi apapun. Di saat lembaga naik, pun sebaliknya, saat capaiannya turun atau krisis. Alat ukur kinerja statistikal atau kuantitatif akan sulit untuk menerka orang mana yang bisa bertahan pada kondisi krisis. Namun pimpinan lembaga biasanya, dengan intuisinya atau pengalamannya, bisa mengetahui siapa-siapa saja yang bertahan dan tidak.

***
Kerelaan untuk mengakui asal dan usul, dalam hal ini adalah institusi, merupakan kerendahhatian dari mana kita tumbuh dan berkembang. Ini akan senada dengan pameo klasik, "Jangan sampai menjadi orang seperti kacang yang lupa kulitnya". Dalam riil di kehidupan, kulit kacang itu selalu dibuang setelah kacangnya kita makan. Namun kenapa pepatah justru berbunyi begitu?

Saya temukan kisah pendek yang menjelaskan itu dan membuat make sense. Kacang itu bermula kecil terus membesar. Adanya kulit untuk melindunginya, misalnya dari ulat atau hewan tanah lainnya. Juga dari himpitan/ tekanan tanah. Dengan adanya kulit, si kacang bisa tumbuh dengan baik. Sehingga bila ada kacang melupakan kulitnya, dianggap sebagai orang yang lupakan budi. Karena kulit memberikan pengayom atau rumah yang baik untuk kacang bisa tumbuh dan membesar. 

Dalam konteks pekerjaan, sebagai pimpinan, saya merasakan bedanya. Contohnya adalah saya rela memberikan daya dukung yang besar kepada Si A, namun tidak kepada Si B. Padahal Si A adalah orang baru daripada Si B yang sudah beberapa tahun sebelumnya bergabung di lembaga. Saya periksa diri saya, apa yang salah atau keliru dari sikap saya?

Ternyata hal itu merupakan kebelum relaan saya kepada Si B. Tentu saja karena Si B tak melakukan "syahadatnya" dengan sempurna. Berbeda dengan yang lain, meskipun Si A, Si C, Si D baru saja bergabung, namun antusiasme mereka lebih besar. Jejak digital di media sosialnya berisi aktivitas lembaga kami. Padahal tak pernah saya minta sekalipun. Artinya mereka menikmati, mereka engange dan mereka mengakui bahwa lembaga kami adalah "kulitnya".

***
Kembali ke soal syahadat dalam Islam, tentu tanpa bermaksud lakukan simplifikasi, boleh jadi itulah mengapa syahadat itu menjadi rukun yang pertama. Dilanjutkan kemudian adalah aktivitas seperti salat, puasa dan seterusnya. Yang pertama adalah aspek kualitatifnya, apinya, spiritnya, keimanannya. Baru kemudian dilanjutkan syariatnya, aktivitasnya, tindakannya.

Sampai-sampai, ustadz/ kyai mengisahkan secara umum, bahwa seseorang dipastikan masuk surga, meski penuh dosa, selama ia bersyahadat. Selama ia menyatakan pengakuan bahwa ia menyembah Tuhan yang satu dan tidak menyekutukannya.

Meski kasus di atas berbeda dimensi, wilayah ketuhanan dan satunya kemanusiaan, namun akhirnya saya bisa merasakan urgensi syahadat dan "syahadat" itu. Kabar baiknya, setelah saya konfirmasi, Si B mulai melakukan pengakuan dengan meninggalkan jejak digital di media sosialnya, bahwa yang bersangkutan berkarir dan berkarya di lembaga kami. Semoga penuh kerelaan dan tulus. []


Disclaimer:
Catatan ini tak dimaksudkan sebagai catatan keagamaan/ religius. Hanya mengambil analogi dari kehidupan beragama saja. Mohon tidak disalah pahami pembaca. Tentu saja, bila tafsir saya atas syahadat itu dianggap terlalu menyederhanakan, saya mohon maaf atas keterbatasan ilmu saya.

Share on Google Plus

About Unknown

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :