Mau Menulis tapi Berat

"Mau menulis tapi rasanya berat", demikian banyak orang bilang. Biasanya yang paling susah adalah mencari kata dan membuat kalimat pertama. Bila sudah terketik satu kata dan kalimat, biasanya, lancar. Selain itu biasanya adalah soal ide tulisan. Sudah dapat ide, namun bingung mengembangkannya agar menjadi tulisan yang padu.

Beberapa waktu terakhir ini saya sedang memotivasi kader saya untuk rajin menulis. Saya sampaikan bahwa menulis yang paling mudah itu menggunakan gaya bahasa bertutur. Ya, seperti yang sedang saya gunakan sekarang ini. Karena bertutur, maka seperti yang sedang bicara atau ngomong, bedanya adalah saya tuliskan.

Ini merupakan cara paling mudah, selain juga punya kelebihan tersendiri, renyah. Buat pembaca gaya bertutur ini juga asik diikuti. Tak seperti artikel yang kaku atau bahkan tulisan akademik. Gaya bertutur ini enak dibaca karena mengalir. Bagi pembaca, rasanya seperti mendengarkan dongeng. Alhasil, tidak capai.

Kader tersebut sedang saya latih agar terbiasa menulis. Ia merasa bahwa menulis harus mengangkat topik yang serius atau berbobot. Bagi tahap newbie atau pemula, itu tak perlu dilakukan. Bisa-bisa, kita akan terbebani oleh "mencari tema besar" yang justru kemudian penuh bimbang. Bagaimana tidak, bayangkan saja di jagad maya ini berapa tulisan yang bicara tema besar itu? Banyak. Bisa jadi kemudian kita loyo karena membayangkan tema tulisan kita sudah ada yang menuliskannya. Atau analisis yang kita tawarkan tak sehebat penulis lain. Alhasil, tak jadi menulis.

Bagi pemula sering saya sampaikan bahwa yang terpenting adalah membangun kebiasaan menulis terlebih dulu. Caranya adalah dengan menulis apapun. Bersikaplah bak komentator, yang apapun dikomentari. Sekali lagi, apapun. Mulai dari yang besar, sampai yang remeh-temeh. Targetnya belum bicara soal kualitas atau bobot, melainkan soal kebiasaan.

Kebiasaan ini perlu dibangun, sebab menulis itu merupakan pekerjaan merangkai kata dan kalimat. Soalnya adalah kata-kata itu seperti file-file di suatu folder. Kita harus memanggil file tertentu untuk ditampilkan. Maksudnya adalah kita perlu menyerap perbendaharaan kata baru (diksi) dan berlatih menggunakannya. Lalu juga menggunakan aneka diksi yang tersedia.

Kemudian melatih kemampuan kreasi kita ciptakan frasa-frasa baru yang tak monoton atau membosankan. Lalu membiasakan membuat kalimat yang efektif. Itu semua harus dibiasakan.

Sehingga, orang belajar menulis boleh jadi bila dimulai tahun 2018, ia akan mahir di tahun 2020. Cepat tidaknya tergantung dari kemauan dan seringnya ia berlatih. Mengapa begitu? Sebab menulis adalah kecakapan atau keterampilan. Kita tak akan pandai menulis hanya dengan membaca tulisan how to seperti tulisan ini. Ia harus dipraktikkan berulang-ulang.

Yang sedang kita bangun adalah myelin. Myelin itu merupakan selubung syarat pusat manusia. Berbagai aktivitas terekam di sana. Makin banyak aktivitas kita, makin tebal myelin kita. Myelin itu ibarat berbagai pengetahuan-keterampilan yang mendaging dalam syaraf kita. Kuncinya, sering dilatih.

Penulis pemula harus sadar diri akan proses yang demikian. Artinya tak perlu gede rumongso harus menulis bagus dan berbobot dalam tempo sekaligus. Bila tahap pertama tuntas, yakni membangun kebiasaan, barulah masuk tahap kedua: bobot serta gaya penulisan.

Bobot tulisan itu tergantung topik yang mau kita angkat. Tulisan-tulisan seperti di blog saya ini sebagian formatnya adalah journal script. Artinya catatan-catatan hasil refleksi saya soal segala hal yang saya alami, pikirkan, rasakan dan seterusnya. Sehingga bobot tulisan seperti ini bisa diukur dari kedalaman refleksinya.

Model yang lain yakni bobot analisisnya. Berbeda dengan yang di atas, tulisan analitis membutuhkan riset dan penalaran. Riset artinya mencari. Cara paling mudah adalah dengan riset by google. Artinya mencari, mencari dan mencari lagi hal-hal yang berhubungan. Tentu saja, harus dibaca.

Setelah riset barulah kemudian dinalar. Maksudnya adalah kita urai apa-apa yang menjadi sebab, apa yang akibat. Itu misalnya pada hubungan kausalitas. Atau apa-apa yang berhubungan dan yang tidak, itu misalnya korelatif. Atau apa-apa yang bisa dikawin mawinkan dan mana yang tidak, itu artinya sintetik.

Proses seperti itu juga butuh jam terbang, tidak sekonyong-konyong. Orang mahir lakukan analisis karena terbiasa. Lambat laun pikirannya akan terbentuk. Ya, seperti secara otomatis pikiran kita akan bisa menyingkap hal-hal yang berada di belakang fenomena.

Bayangkan sebuah kotak rokok. Bagi pikiran awam akan melihatnya sebungkus kotak. Namun bagi orang yang analitis melihatnya bahwa kotak itu tersusun dari empat rangka utama dengan ukuran sekian kali sekian senti meter. Bahwa kotak itu harus dipotong sedemikian rupa secara presisi sehingga antara tutup dengan badannya klop.

Yang ketiga adalah soal gaya menulis. Penulis pemula tak perlu hiraukan soal ini. Gaya menulis itu akan terbentuk dengan sendirinya. Meskipun, bisa saja kita sedari awal belajar dengan mengadaptasi gaya menulis tokoh tertentu. Namun itu bisa menjadi beban dan berakhir frustrasi. Yang lebih mudah adalah biarkan hal itu mengalir. Biasanya dengan sendirinya gaya menulis kita akan dipengaruhi dari bahan-bahan yang kita baca.

Bila suka membaca Rhenald Kasali, gaya menulis kita, tanpa sadar, akan seperti dia. Bila suka Goenawan Mohammad, juga secara tak sadar akan mengimitasinya. Bila suka Bre Redana, juga akan mirip dengannya. Semua hal itu akan terjadi secara alamiah. Sebabnya, apa-apa yang kita baca itu juga menjadi myelin kita.

Bagi seorang newbie, saya harus katakan bahwa menulis itu penting. Sekurang-kurangnya ada tiga sebab:

  1. Dalam era Revolusi Industri ke-4 ini, menulis adalah kecakapan wajib yang harus dimiliki. Sebabnya era ini mengandalkan pengetahuan atau informasi. Orang bilang ini adalah era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Kita membaca sama dengan kita mengonsumsi. Sebaliknya, kita menulis berarti memproduksi. Makin banyak menulis, makin produktif.
  2. Menulis membuat psikologi kita lebih sehat. Dalam menulis (dalam tradisi journal blog) ada dua hal yang dilakukan sekaligus. Pertama adalah membuka diri untuk mengisahkannya pada orang (pembaca yang anonim). Kedua adalah merefleksikan hal ihwal yang tengah dialaminya. Itu mirip proses self healing.
  3. Bagi pembicara publik atau aktivitas yang sering berhubungan dengan itu, menulis akan membantu kita mengonstruksi pokok-pokok pikiran yang mau disampaikan. Retorika kita akan makin bagus, bangunan argumentasi makin ciamik. Penulis yang mahir biasanya dapat berbicara dengan bagus juga. Meski, tak selalu demikian.
Nah, bagi newbie yang sedang dalam proses belajar, menulislah sebelum terlambat. Kita tak pernah tahu kapan waktunya pekerjaan atau aktivitas kita menuntut lebih kecakapan itu. Bila momen itu tiba, akan merasa rugi sekali bila kita tak kuasai kecakapan dasar ini.

By the way, judul itu merupakan coretan orang di whatsapp statusnya. Saya beri komentar kepadanya, bahwa "Mau menulis tapi kok berat", itu bisa jadi satu tulisan sendiri. Lewat tulisan ini, saya ingin buktikan padanya. Semoga dia memulai ikhtiar menebalkan myelin-myelinnya. []







Share on Google Plus

About Unknown

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :