SHU Bukan Tujuan Utama Berkoperasi

Oleh: Firdaus Putra, HC.

DRAFT (BELUM BOLEH DIKUTIP)

Boleh jadi judul di atas adalah the inconvenient truth, sebuah kebenaran yang membuat kita tak nyaman. Pasalnya banyak orang memahami tujuan berkoperasi itu untuk memperoleh Sisa Hasil Usaha (SHU). Sehingga bila koperasi tak bisa mencetak SHU, koperasi tersebut dianggap tak mampu merealisasikan aspirasi anggota dan tujuan adanya.

Mari kita bedah sebenarnya bagaimana posisi SHU dalam koperasi? Adakah karakternya sama dengan deviden di Perseroan Terbatas (PT)? Apakah SHU sama dengan laba dalam pengertian pada umumnya?

Filosofi Koperasi dan Ironi SHU
Praktik di lapangan orang senantiasa mengharapkan SHU saat berkoperasi. Ironisnya, SHU yang mereka terima nilainya tak akan bisa lebih besar daripada penghasilan bulanannya (gaji, honor, upah dan sebagainya). Hal ini mudah dipahami karena SHU dibayarkan setahun sekali yang angkanya dihitung dari kontribusi (modal) dan partisipasi (transaksi) anggota tersebut.

Sehingga bila SHU digunakan sebagai alat untuk menciptakan kesejahteraan anggota, demikian secara umum kita pahami visi koperasi, maka hal itu tak akan pernah tercapai. Dalam hal ini kesejahteraan yang dimaksud adalah tercukupinya kebutuhan-kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan serta pendukung pokok lainnya seperti pulsa, bensin dan lain-lain.

Sebenarnya ironi SHU itu tak akan terjadi ketika kita memahami filosofi koperasi. International Cooperative Alliance (ICA) mendeskripsikan koperasi sebagai perhimpunan orang otonom yang bersatu untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis. Definisi itu menyiratkan bahwa tujuan berkoperasi yakni dalam rangka memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya anggotanya. Bila mana kita buat matriknya akan muncul seperti ini:

Jenis
Kebutuhan
Produksi
Konsumsi
Keuangan
Ekonomi
·         Bahan baku
·         Pemasaran
·         Pengembangan kapasitas produksi
·         Barang kebutuhan
·         Barang bermutu
·         Layanan prima
·         Harga murah
·         Simpanan
·         Pinjaman
·         Produk keuangan lainnya
Sosial-Budaya
·         Asuransi komunitas
·         Ruang sharing
·         Asuransi komunitas
·         Ruang sharing
·         Ruang sharing

Bila mencermati matriks di atas, maka sebenarnya SHU tidak menjadi tujuan berkoperasi. Apa-apa yang tercantum dalam matriks di atas bila dikuantifikasi dalam uang, nilainya tentu lebih besar daripada SHU yang diterima anggota tiap tahunnya.

SHU seperti penyebutannya sekedar sisa dari hasil usaha koperasi yang digunakan untuk pemupukan modal dan keperluan lainnya. Terakhir bila mana masih bersisa, dibagilah kepada para anggota. Namun ekstrimnya bila sampai tidak bersisa untuk anggota pun, hal itu bukan masalah karena tujuan utama anggota berhimpun dalam rangka mencukupi kebutuhan seperti di atas.

SHU menjadi ironi dalam koperasi bila motivasi anggota dalam berkoperasi seperti motif mereka misalnya dalam berinvestasi atau berdagang. Yang kemudian mereka menganggap bahwa SHU adalah laba yang harus ada karena tujuan utama usaha itu adalah mencari laba. Nalar mencari laba (profit oriented) ini yang sebenarnya menyesatkan. Hal itu akan membuat perusahaan koperasi menjadi kapitalistik dan bisa kontra produktif terhadap kebutuhan dan aspirasi utama anggota-anggotanya. Misalnya, dalam rangka mempertinggi laba (SHU) koperasi akhirnya menyelenggarakan usaha yang paling menguntungkan meskipun tidak dibutuhkan anggotanya.

Beda SHU, Deviden dan Laba
Sudah tepat sekali koperasi menggunakan istilah SHU bukan deviden atau laba. Istilah ini sangat filosofis maknanya dan bisa menjelaskan secara utuh modus usaha koperasi. SHU yang dimaknai sebagai sisa menyiratkan bahwa tujuan utama koperasi bukan mencetak laba atau deviden. Melainkan adalah memenuhi, memfasilitasi atau meyelenggarakan kebutuhan anggota. Dengan demikian perusahaan koperasi sesungguhnya bersifat sosial atau yang sering disebut sebagai social enterprise.

Contoh sederhana dari sifat perusahaan sosial itu misalnya pada fungsi efisiensi kolektifnya. Saya membutuhkan sabun untuk mandi. Teman saya juga, teman yang lain juga. Sebutlah ada sekitar 50 orang membutuhkan sabun untuk mandi. Jika saya beli satu buah untuk sendiri, harganya sabun itu Rp. 3.000. Namun ketika saya beli 50 buah untuk saya dan teman-teman lainnya, harga sabun menjadi Rp. 2.500. Dengan membeli jumlah lebih banyak atau membeli dengan berkelompok kita akan memperoleh harga yang paling efisien. Itu yang berlaku dalam koperasi konsumen.

Pada koperasi produksi hampir mirip. Misalnya pada pengadaan bahan baku, harganya akan lebih murah ketika beli dalam jumlah banyak. Anggota koperasi produksi itu juga akan memperoleh efisiensi dalam pemasaran bersama. Dengan adanya pengurus/ manajemen, para anggota cukup berkonsentrasi pada produksi dan koperasi yang bertanggungjawab dalam pemasarannya. Distribusi peran ini akan membuat rantai produksi dan pasca produksi menjadi lebih efektif dan efisien.

Dalam koperasi sektor keuangan, seorang anggota yang berlebih kekayaan menabungkan uangnya. Di sisi lain anggota yang membutuhkan akan meminjamnya melalui mekanisme kredit. Berbeda dengan bank yang sudah mematok mekanisme kredit serta balas jasanya, melalui koperasi anggota-anggota tersebut dapat mencapai titik yang paling efisien dan adil. Fungsi intermediari berjalan yakni memediasi lalu lintas uang dari yang berlebih ke yang kekurangan.

Untuk menyelenggarakan itu semua, anggota kemudian menunjuk wakil-wakilnya sebagai pengurus. Usaha makin membesar dengan konsekuensi biaya yang makin besar juga. Biaya ini mulai dari sewa kantor, gaji pengurus, listrik, penyusutan dan lain sebagainya. Biaya-biaya tersebut dikeluarkan koperasi dalam rangka menyelenggarakan kebutuhan anggotanya. Pada akhir tahun, setelah total biaya-biaya dihitung dan total pendapatan dihitung, ternyata masih ada sisanya. Itulah yang kemudian disebut sebagai Sisa Hasil Usaha.

Maka SHU merupakan imbas dari proses usaha yang mana usaha tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. Yang menjadi orientasi pertama usaha koperasi adalah kebutuhan anggota, bukan besar-kecilnya SHU. Matriks di bawah ini akan menggambarkan perbedaan antara SHU, deviden dan laba pada umumnya, sebagai berikut:

Dimensi
SHU
Deviden
Laba
Deskripsi
Sisa hasil proses usaha koperasi
Balas jasa yang diterima atas investasi tertentu
Keuntungan dari proses usaha
Peruntukkan
·         Pemupukan modal
·         Pengurus
·         Area kerja
·         Dana pendidikan
·         Anggota
Pesaham/ investor
Pemilik usaha
Sifat
Imbas dari proses usaha
Orientasi utama usaha
Orientasi utama usaha
Dihitung dari
·         Transaksi anggota
·         Modal anggota
Modal investor
Keuntungan usaha





Bila SHU adalah sisa yang tidak direncanakan, maka deviden adalah capaian yang direncanakan. Orang berinvestasi tidak mempertimbangkan apakah usaha tersebut berhubungan dengan kebutuhan dirinya atau tidak, namun menghitung berapa besar return yang diterimanya. Maka sangat mungkin terjadi seorang investor dengan pekerjaan tetap sebagai karyawan rumah sakit makan berinvestasi pada sektor rumah makan.

Laba dalam pengertian umum pun mirip dengan deviden. Pemilik usaha tak akan berpikir apakah jenis usaha tersebut berhubungan dengan kebutuhan dasarnya atau tidak. Yang terpenting adalah apa yang bisa dia kerjakan, berapa tingkat keuntungan dan seberapa bagus pasarnya. Pengusaha telur asin memproduksi telur asin bukan karena ia suka dan akan memakannya tiap hari, melainkan karena pasar potensial usaha tersebut.

Sebenarnya SHU tidak bisa disebut sebagai laba dalam pengertian umum. Mengingat karakteristik antara SHU, deviden dengan laba sangat berbeda. SHU muncul atas efisiensi biaya-biaya operasional penyelenggaraan usaha koperasi sedangkan deviden merupakan alokasi khusus untuk investor. Berbeda juga laba yang adalah target yang harus diraih pengusaha.

Target dan Indikator Usaha Koperasi
Bila SHU bukan tujuan utama dalam berkoperasi, lantas target apa yang wajib ada? Ini merupakan pertanyaan lanjutan yang harus kita jawab. Seperti diungkap di awal, bahwa alasan adanya (raison d’etre) perusahaan koperasi adalah untuk memfasilitas pemenuhan kebutuhan anggota, sehingga target usaha koperasi harus diturunkan dari hal tersebut.

Koperasi
Target Layanan
Indikator Capaian
Metode Kuantifikasi
Koperasi Produksi
·         Bahan baku


·         Pengemasan


·         Perizinan


·         Alat produksi



·         Harga jual
·         Bahan baku murah dan suplai yang stabil untuk anggota
·         Pengemasan (cara, alat dan bahan) yang murah dan bagus
·         Produk anggota terdaftar dalam perizinan usaha bersama
·         Tersedianya kelengkapan alat produksi atau penunjang produksi anggota
·         Harga jual yang lebih baik dengan akses pasar yang tepat
Tingkat profitabilitas dan efisiensi yang dicapai dengan membanding-kannya bila usaha tersebut diselenggarakan secara perorangan dan berkoperasi.

Benchmarking ini akan memperlihatkan tingkat optimum dari usaha produksi yang diselenggarakan melalui koperasi.
Koperasi Konsumsi
·         Harga barang


·         Layanan prima


·         Kualitas barang



·         Keamanan barang




·         Akses tempat
·         Harga barang yang sama lebih murah daripada tempat lain
·         Delivery order untuk menghemat ongkos yang dikeluarkan anggota
·         Barang bermutu sehingga awet dan tidak bolak balik membeli barang yang sama
·         Barang aman bagi kesehatan anggota sehingga secara jangka panjang efisien dalam pengeluaran kesehatan
·         Anggota bisa ikut menjual produknya di toko koperasi
Tingkat efisiensi yang diperoleh anggota dibanding dengan layanan tempat lain. Sehingga untuk menunjukkan bahwa koperasi lebih bagus, maka dapat disajikan nilai pembanding pada produk/ layanan yang sama.

Metode umum yang dapat digunakan adalah dengan benchmarking dengan layanan yang diselengga-rakan non-koperasi.

Koperasi Keuangan
·         Simpanan

·         Pinjaman


·         Mekanisme

·         Jaminan


·         Produk-produk lain
·         Balas jasa simpanan yang adil
·         Bunga pinjaman yang rendah dibanding tempat lain
·         Mekanisme kredit yang mudah dan murah
·         Jaminan berupa asuransi untuk pinjaman, investasi dan lainnya
·         Produk-produk keuangan lain yang menjawab siklus kehidupan anggota
Macam-macam pemanfaatan simpanan dan tabungan untuk memperlihatkan dampak sosial-ekonomi dari usaha koperasi. Misalnya berapa jumlah anggota yang memanfaatkan pinjaman pendidikan untuk anak-anaknya.

Juga benchmarking dengan tempat lain yang sepadan untuk menunjukkan tingkat efisiensinya.

Pelaporan Akhir
Bila SHU tidak menjadi target utama, maka apa yang akan dilaporkan Pengurus dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT)? Umumnya anggota akan melihat kolom terakhir laporan keuangan untuk melihat besar-kecilnya capaian SHU. Dengan paradigma koperasi sebagai perusahaan sosial, maka hal itu menjadi tidak relevan. Sehingga dibutuhkan juga model pelaporan akhir yang berbeda dengan model usaha/ perusahaan non-koperasi.

Pelaporan akhir Pengurus harus menitikberatkan pada capaian atas indikator-indikator sebagaimana di atas. Dengan metode kuantifikasi maka Pengurus dapat melaporkan kepada anggota tentang apa-apa yang sudah dicapai selama ini. Metode kuantifikasi tetap dibutuhkan untuk membantu mempermudah dan menyederhanakan dalam orang memahami rangkaian capaian tersebut. Contoh pelaporan akhirnya sebagai berikut:

Koperasi Produsen
Perbandingan
Bahan Baku
Pengemasan
Perizinan
Alat Produksi
Harga Jual
Koperasi
1.000.000.000
100.000.000
300.000
400.000.000
2.500.000.000
Perorangan
1.200.000.000
300.000.000
10.000.000
1.000.000.000
1.800.000.000
Nilai Efisiensi
200.000.000
200.000.000
9.700.000
600.000.000
700.000.000
Total Efisiensi

Total Profitabilitas


Koperasi Konsumen
Perbandingan
Transaksi
Ekspedisi
Kualitas
Keamanan
Akses
Layanan Koperasi
1.000.000.000
1.000.000
50.000.000
400.000.000
10.000.000
Tempat Lain Sepadan
1.200.000.000
10.000.000
150.000.000
1.000.000.000
0
Nilai Efisiensi
200.000.000
9.000.000
100.000.000
600.000.000
10.000.000
Total Efisiensi

Total Profitabilitas


Koperasi Keuangan
Sebaran Simpanan dan Pinjaman
Jenis Layanan
Volume
Pengguna
Simpanan


Simpanan Harian
1.000.000.000
200 anggota
Simpanan Hari Raya
30.000.000
100 anggota
Simpanan Pendidikan
50.000.000
80 anggota
Simpanan Deposito
100.000.000
20 anggota
Total Simpanan


Pinjaman


Pinjaman Pendidikan
300.000.000
100 anggota
Pinjaman Usaha
200.000.000
10 anggota
Pinjaman Darurat
50.000.000
10 anggota
Pinjaman Konsumtif
600.000.000
180 anggota
Total Pinjaman



Tingkat Efisiensi
Perbandingan
Simpanan
Pinjaman
Mekanisme
Jaminan
Produk Lain
Layanan Koperasi
20.000.000
30.000.000
5.000.000
400.000.000
300.000.000
Tempat Lain Sepadan
10.000.000
50.000.000
7.000.000
300.000.000
50.000.000
Nilai Efisiensi
10.000.000
20.000.000
2.000.000
100.000.000
250.000.000
Total Efisiensi

Total Profitabilitas


Tabel capaian itu bisa melengkapi laporan keuangan yang selama ini sudah ada. Hasil akhir dari laporan capaian di atas adalah kesimpulan yang menerangkan bahwa:
  1. Produksi yang dikerjakan secara bersama-sama melalui koperasi lebih efisien 5,3 kali lipat dibanding dikerjakan perorangan dengan nilai profitabilitas 45% lebih tinggi daripada perorangan dengan tingkat profitabilitas sebesar Rp. 2.500.000.000.
  2. Belanja yang diusahakan secara bersama-sama melalui koperasi lebih efisien 2,7 kali lipat belanja di tempat lain dengan total nilai efisiensi sebesar Rp. 200.000.000.
  3. Simpan-pinjam yang diusahakan koperasi lebih menjawab kebutuhan anggota dengan efisiensi sekitar 1,2 kali lipat dibanding simpan-pinjam tempat lain dengan total nilai efisiensi sebesar Rp. 300.000.000.


Sehingga laporan tersebut akan membuat anggota paham betul bahwa koperasi memberi manfaat lebih besar dibanding bila seandaianya ia tak berkoperasi. Ada potensi loss cost atau high cost yang hal tersebut ditutup oleh koperasi. Maka capaian angka-angka tersebut dengan sendirinya akan melampaui dari capaian SHU koperasi. Yang mana anggota akan termotivasi: makin tinggi angka-angka efisiensi tersebut, makin bermanfaat koperasi kepada dirinya. []


PS: Angka-angka di atas saya tetapkan secara sewenang-wenang. Belum saya kalkulasi, kehabisan energi. Imajinasi lebih dituntut untuk menafsir maksud angka-angka tersebut. Mohon masukannya. Terimakasih.
Share on Google Plus

About Firdaus Putra

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :