Dare to Think!

Oleh: Firdaus Putra

Sampai saat ini, saya merasa hanya baru beberapa kali berpikir secara serius. Serius dalam arti bahwa hasil pikir tersebut punya konsekuensi logis jangka panjang.                                                                  

Misalnya, dulu saya memilih pindah sekolah saat kelas tiga SMA atas kemauan sendiri; Kemudian pilihan jurusan saat kuliah; Organisasi atau idealisme; Pilihan pekerjaan dan beberapa lainnya. Sisanya lebih sering let it flow.  

Dulu saat hanyut dalam aktivitas kampus, orang tua sering bertanya kapan saya lulus. Dan saya masih ingat betul untuk jawab itu saya tulis surat yang kurang-lebih isinya pinta mereka tak perlu risau.                                         
Kemudian jelang lulus, orang tua kembali bertanya, akan kerja apa. Dan saat itu saya jawab, “Ibu, tak perlu risau dengan masa depan saya. Saya yakin semua ada jalannya”. Maklum, Ibu saya seperti ibu-ibu yang lain, berharap anaknya jadi PNS.                                                                  

Saya meyakini bahwa tiap individu punya momen seperti itu. Momen dimana ia dituntut untuk merumuskan sikap atau tindakannya dengan serius. Pada momen seperti inilah ia dituntut untuk berani berpikir sendiri. Dare to think by self.                                      

Dalam film Law Abiding Citizen, saya temukan pernyataan menarik. “Bertindak atau membuat keputusan itu mudah. Yang sulit adalah menjalaninya”. Karenanya dare to think menuntut juga adanya dare to be responsible. Misal, saya harus terima konsekuensi bahwa saya jadi tak bisa baca Kitab Kuning lantaran pindah sekolah dulu kala.      

Pada momen tertentu kita dituntut bertanggungjawab sendiri. Tak berlindung di balik kekuasaan, kekayaan, nama besar orang tua, misalnya. Namun menerimanya dengan suka hati sebagai imbas tindakan diri sendiri.    
Pengalaman merantau nampaknya berperan membangun kedirian saya waktu itu. Tak seperti di rumah bergantung pada orang tua, di tanah rantau mau tak mau saya belajar mandiri.                                      

Meski merantau tak selalu enak, saya bersyukur pernah mengalaminya. Paling tidak pilihan jodoh jadi lebih variatif, tak melulu cewek sekampung halaman. Betul, bukan? Hehe. []  

Diterbitkan di Buletin Kopkun Corner Edisi 15 September 2012

Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments :

anis saadah mengatakan...

hahahahaiiiii... 😂