Ada Apa dengan Ekspresi Berkesenian Kita?


Oleh: Firdaus Putra, S.Sos.

Sebuah ajakan untuk lebih jujur, polos dan spontan. Mari menari bersama!

Ada struktur tak kasat mata yang mengkonstruksi kita, “Bahwa joget relatif berkonotasi buruk, daripada baik”. Ada suatu tembok yang menghalangi kita membayangkan, “Perlunya mengadakan pesta kostum saat ulang tahun”. Dan dalam konteks itu, secara umum ada semacam conciousness blocking yang kita alami, hingga kita tak pernah memikirkan, membayangkan bahkan melakukan itu semua.

Yang saya maksud dengan itu semua adalah suatu praktik berkesenian massal. Yang menempatkan diri kita sebagai subyek, bukan sekedar penonton suatu pagelaran, misalnya tarian, jogetan atau sejenisnya. Dan selama ini, kita hanya diposisikan sebagai penonton belaka dari apa yang saya sebutkan.


Ini berbeda misalnya dengan ekspresi budaya di Amerika, Eropa, Amerika Latin. Dari film yang kita tonton, kita bisa mengetahui bahwa misalnya saja adalah wajar dan pantas bagi semua orang untuk menari, berdansa, berjoget atau apapun istilahnya. Misalnya adanya pesta dansa, pesta topeng, pesta kostum dan perayaan-perayaan lain yang memberikan ruang bagi individu-individu untuk mengekspresikan dirinya sebagai insan budaya.

Di negeri ini, khususnya di Jawa, ekspresi itu jarang saya jumpai. Sedari kecil, saya tak pernah lihat ayah-ibu saya menari bersama, misalnya. Atau lihat ayah saya berjoget. Atau lihat kakak laki-laki, perempuan saya kenakan kostum, topeng dalam hajatan tertentu. Memang benar bahwa ada kode budaya yang berbeda antara keluarga saya yang Jawa dengan misalnya keluarga Eropa lainnya.

Namun, lebih jauh dari perbedaan kode budaya itu, saya ingin mengakui dengan jujur, jangan-jangan ekspresi berkesenian-budaya masyarakat Eropa, Amerika itu lebih jujur, lebih polos daripada masyarakat kita. Dan menariknya, mereka mempunyai channel-channel budaya yang lebih beragam daripada kita.

Aktivitas-aktivitas kesenian, seperti menari hanya saya jumpai dalam seremonial. Dan tentu saja, saya duduk sebagai penonton. Ini berbeda misalnya dengan pesta dansa, yang semua orang ikut berdansa. Tak sekedar menonton, melainkan mengikuti alunan musik dan turut melantai.

Dalam seremonial itulah praktik berkesenian masyarakat kita mandeg. Hingga tak aneh jika banyak seminar mengangkat masalah, “Surutnya minat generasi muda pada seni tari”, misalnya. Atau isu-isu sejenis yang mengisyaratkan bahwa ekspresi berkesenian semacam itu mulai pudar dan sepi peminat.

Saya melihat hal itu terjadi karena terbatasnya channel budaya yang ada. Jogetan hanya muncul saat konser musik, di diskotik, hajatan dan sebagainya. Dan seperti saya singgung di atas, bagi yang turut serta, akan dikonotasikan kurang pantas, kurang sopan daripada sebaliknya. Jadilah ruang atau channel ekspresi budaya itu menjadi mengecil.

Pertanyaannya seberapa signifikan berkesenian itu perlu bagi kita? Artinya kita menjadi subyek aktif, bukan sekedar penonton atau penikmat. Saya belum menelusuri akar teoritik tertentu untuk menjawabnya. Namun saya punya pengandaian, bahwa ekspresi berkesenian itu penting untuk mengembalikan sisi kemanusiaan kita; Membebaskan diri dari perangkap rutinitas kehidupan yang semakin mekanis; Melibas sekat status sosial-ekonomi dan pertinggi integrasi sosial; Mengembalikan salah satu fitrah kita sebagai homo ludens, manusia yang bermain.

Saya merindukan suatu ruang yang mana orang-orang menari bersama, berjoget bersama atau berdansa bersama. Mereka lakukan itu penuh riang dan hangat. Saya merindukan sebuah momen bak orang-orang di suku pedalaman menari bersama dalam ritus tertentu. Saya merindukan suatu momen dimana semua tubuh bergerak mengikuti irama musik, menikmati kediriannya sebagai individu yang tak melulu bekerja, berpikir, berbasa-basi dan seterusnya.

Saya meyakini bahwa praktik berkesenian adalah praktik yang harusnya menubuh dalam tiap individu. Tak sekedar dimonopoli oleh para seniman dan menempatkan kita sebatas penonton atau penikmat. Saya meyakini bahwa berkesenian membantu manusia menjaga elan vitalnya sebagai manusia yang utuh. Manusia dengan ekspresi spontanitasnya, yang membuatnya menjadi begitu menggairahkan dan mempesona.

Saya ingin di suatu masa muncul sebuah sejarah baru, yang mana anak-anak saya, cucu-cucu saya hidup penuh gairah. Mereka menari, joget, berdansa bersama teman-temannya bukan karena mata pelajaran mewajibkannya. Namun karena mereka menikmati sebagai ekspresi kebersamaan untuk perayaan tertentu, suka cita tertentu atau sekedar ingin menari.

Saya memimpikan di masa yang akan datang bahwa anak-anak saya, cucu-cucu saya akan menari, joget atau berdansa atau lainnya, tanpa beban. Tanpa ada klaim bahwa mereka berbuat tak sopan, tak pantas. Justru sebaliknya, mereka sedang merayakan dan mengembalikan kepolosannya, kemanusiaannya.

Saya meyakini bahwa ikhtiar ke arah itu itu harus dilakukan mulai sekarang. Dan 30-50 tahun yang akan datang, masyarakat kita punya tradisi yang baru. Tradisi yang lebih spontan, lebih hidup, yang menempatkan masyarakat banyak sebagai subyek berkesenian. Karenanya, saya mengusulkan bahwa ikhtiar itu perlu dimulai dengan menyelenggarakan sebuah gala dinner, yang dihadiri banyak orang dan menari bersama sesudahnya.

Saya mendambakan sebuah masyarakat yang ekspresif, yang polos, yang jujur pada kemanusiaannya. Karenanya, saya ingin menari, menari bersama, penuh suka cita dan kehangatan. []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

9 comments :

el-ferda mengatakan...

Respon via Facebook

 Wildan Shah sayangnya kosakata sudah tak ada lagi di bale adarma
 Firdaus Putra Bhinneka Ceria bisa wadahi dan.
 Tino Achmad Saptono Dan akupun langsung membayangkan menari bersama yahya brajamusti.
 Prima Sulistya Wardhani Kayaknya yang jadikan tarian hanya tontonan itu cuma orang Jawa, Mas. Jawa ningrat. Haha. Kalo tari-tari kelas rakyat yang modelnya macam lengger, kadang kan masih bs ikutan, walau seringnya ya laki-laki. Tapi kalau di budaya suku lain, misal Batak, Manado, atau orang-orang Timur, nari rame-rame kayaknya hal yang lumrah. Jadi "kita" yang mas Firdaus rujuk nih siapa, ya? Hehehe.
 Firdaus Putra kan aku dah bilang jawa prim. hehehe. iya, aku dah liat seperti batak, masih punya channel budaya macam itu. dan kalo di jawa pun, kita ikut nari lengger, itu masih ada beban "kepantasan". begitu prim.
 Prima Sulistya Wardhani Ya mas Fir sebut diri orang Jawa, tapi habis itu bawa-bawa "kita", kan bs aja merujuk ke org Indonesia, mana bandingannya sama Eropa lagi, hahaha. Kalau coba lacak latar belakang sejarahnya, bs ketebak gak ya kenapa orang Jawa gak biasa nari massal?
 Firdaus Putra Nah, yang perlu kamu jelasin itu prim. "bs ketebak gak ya kenapa orang Jawa gak biasa nari massal", tolong cari tahu kenapa. Mbok kamu ga pernah nari kan?
 Prima Sulistya Wardhani Lah, kok aku? Haha *cari mahasiswa antropologi* Aku sih curiganya itu pengaruh budaya istana aja mas. Kalau di aras rakyat mah, budaya agraris malah identik dengan upacara yang diisi dengan tari-tarian. Anggaplah budaya istana itu bikin semacam tata krama ala Victorian yang ekstrem dalam hal kesopanan, jadi kebiasaan--yang sekilas kelhatan--barbar macam nari rame-rame itu diberangus. Hehe.

Pernah! Jaman sekolah, ada pelajaran nari. Tapi kalau pas acara ya isin Aku suka note-nya, tak share ah
 Syahid Muhammad Muthahhari mas firdaus ga pernah ikutan joged dangdutan di pantura ya? Hehehe
 Firdaus Putra Kecurigaanku bukan pada istana prim. Tapi pada agama, islam, misalnya.
 Firdaus Putra Kadang aja klo di acara-acara, tapi jarang banget hid. Seumur hidup bisa diitung jari.
 Syahid Muhammad Muthahhari Dangdut itu udah gebrakan kok, hehehe

el-ferda mengatakan...

 Firdaus Putra Yaaa tapi kamu jarang njoget dangdut juga kan?
 Yogi Prasetyo thank's us..pemikiranmu ini yg menjadikan alasan aku ikut capoeira..menjadikanku bebas menari, bernyanyi,& berolahraga tanpa mengenal malu..sayangnya Olah raga ini lahir dari barat..
 Firdaus Putra Saya tak ambil pusing dengan barat atau timur yog. Selama bisa jadi channel untuk temukan kedirianmu, why not?
 Efi Sofiana Pemikiran yg bagus mas daus. Jd ingin mencari akarnya juga ini. Barangkali ada yg lebih dr sekedar kedok agama yg mjd titiknya
 Manunggal K. Wardaya Yang barangkali perlu ditelaah adalah akar sejarah, karakter, dan lokus masyarakat di mana kesenian yang dimaksud berasal, apakah ia berawal mula dari sebuah ekspresi komunal ataukah kesenian itu beriwayat untuk melayani kepentingan individual yang elitik. Apakah ia telah tumbuh di masyarakat yang equal ataukah patriarkik. Tari tari keraton yang bersifat elitik, adalah tontonan mereka kaum istana dan kemudian seiring dengan demokratisasi bisa diapresiasi masyarakat luas, namun toh tetap sebagai tontonan. Ia menempatkan banyak orang sebagai penonton. Adakah kita mempunyai sejarah yang egaliter ketika laki laki dan perempuan bisa turun bersama to celebrate something? Jika kita masih mengerami budaya perempuan sebagai pemberes segala macam urusan yang terbilang domestik, maka kesenian dengan pelakon bareng-bareng itu barangkali bukan tradisi kita. Atau, jangan-jangan kita harus mentradisikannya, mengkreasi sekarang juga. Di Eropa, orang memiliki tradisi egaliter, berkesamaan. Merayakan pergantian musim bersama dengan menari bersama. Perayaan Hari Ratu akhir April tiap tahunnya di Belanda dinikmati warga negara dengan berdansa bersama. Tradisi di kampus saya (dulu di Den Haag) maupun yang hingga kini kerap saya saksikanadalah dancing together, karena mindset Belanda (dan juga Eropa in general) adalah lebih kepada egalitarian: kamu dan saya sama, maka mari bersenang bersama.
 Vita Marwinda seni tari kita tuh sangat dipengaruhi oleh iklim dan kulturmasayarakat kita yang agraris, mistis dan hierarkis, makanya bentuk beberapa seni tari kita ada yang eksklusif atau bahkan terkesan erotis, makanya sangat berbeda dg eropa
 Bangkit Wismo Emm...

el-ferda mengatakan...

 Fakhri Zakaria "Saya merindukan suatu ruang yang mana orang-orang menari bersama, berjoget bersama atau berdansa bersama. Mereka lakukan itu penuh riang dan hangat..."
Ini diadopsi di Rave Party, joged-jogednya kaum urban, biasanya mereka cari lokasi di pedalaman (pantai ato pegunungan, malah pernah ada yang bikin di pelataran candi dan stasiun tua), melepaskan diri dari sekat ruang club.
 Daong Empu Swara Sampeyan jg pelajari efek 350 th penjajahan dst...pergeseran berkesenian dr jaman kerajaan ke penjajahan dan penelusuran seni budaya bhw menari bersama itu mstinya krn ada konsensus trtentu
 Firdaus Putra Pak Manunggal K. Wardaya, saya tertarik dengan cara baca itu. Artinya ruangan tarian kita itu selalu menempatkan yang lain sebagai penonton. Dan perempuan sebagai obyek.

Dan saya tertarik pada pernyataan njenengan yang ini "Atau, jangan-jangan kita harus mentradisikannya, mengkreasi sekarang juga". Kenapa tidak? Toh fenomena kebudayaan itu fluid dan terus berkembang.
 Firdaus Putra Makasih Vita Marwinda, nanti sambil saya googling tari2an.
 Firdaus Putra Fakhri Zakaria, nah ini referensi yang menarik...
 Firdaus Putra Kang Daong Empu Swara, sangat mungkin itu terjadi. Nah saya membayangkan di kafe njenengan ada undangan untuk menari bersama. Semacam ruang publik yang hangat dan ekspresif. Hehehe.
 Daong Empu Swara Hahaha tinggal siapa yg punya ide berani mengeksekusi ide itu wlpun sndirian.kmu yg nulis keresahan ini mau brgerak? Org jawa jg btuhnya bukti action bkn cm omong kosong.penganut filosofi timur itu"ngerti nek nglakoni"
 Firdaus Putra Saya kmrn ngobrol2 ma yahya ma asta. Kepikiran pak dodit biar coba mefasilitasi. Agar ga takut-takut, ga malu-malu. Hehehe.

el-ferda mengatakan...

 Daong Empu Swara Haha msh saja konvensional.gak taktis! Itu bedanya dg org barat yg brani mlaku dwkan
 Firdaus Putra Nah, gimana caranya ne kang?
 Daong Empu Swara Atasi dl mslah nyaliii...keraguan,ketakutan melangkah.efek penjajahan & sisi lain slogan2 bawor yg wlpun dia titisan dewa tp nitis jd batur bukan bendara.wah...prlu dilanjut di lingkaran kecil kynya neh hahaha
 Firdaus Putra Kalo ada ruangnya, aku dansa, nari deh... Kafenya njenengan lah. Apa nanti malah digrebek warga ya. wekwkwkw.
 Adi Bahari L pantas bener saya kalo suruh nari suka malu.
dulunya memang ga pernah nari bareng2.
 Firdaus Putra Hehehe... nanti kita nari, joged bareng mas...
 Slamet Rosyadi lho kalo ada acara joget dangdut atau jaipongan mbok pada ikut nari semua....
 Firdaus Putra Ntar kalo njenengan hajatan nanggap jaipongan ya pak. Hehehe.
 Ade Kurniawan kultur tercipta atas keyakinan... keyakinan menjadi yang paling dominan
 Ana Diana AZam kalau gitu,,, mz Firdaus coba ngadain tradisi tayub lagi aja mz,,,
dimulai dari Banyumas, kemudian menJawa, kali aja nanti semacam "Ronggeng Dukuh Paruk" lahir kembali,,, Sok,,,, monggo menari,,,,,
hehehe

el-ferda mengatakan...

 Shinta ArDjahrie IMHO, itu tergantung jenis tariannya juga kan mas.., ada yang memang tarian itu ibarat membawakan sebuah cerita, kayak tarian2 di Bali atau tempat lain.., ya kita emang jadi penonton (bukan cuma Jawa). Menikmati tarian itu bukan harus ikutan menari, menikmati tarian kadang sama juga dengan menikmati lukisan.
Tidak semua tarian bisa jamak mengajak penonton untuk menari.
Oya, bagaimana dengan seni musik gambus di komunitas orang2 timur tengah? itu cukup aktif untuk mengajak penonton berpartisipasi.

#kalau saya pribadi sih, dulu di rumah almarhum bapak suka ngajak karaokean lagu2 lawas sambil joget2 gak jelas. Memang ada nilai kebersamaan sendiri. Kalau keluarga besar ngumpul, pakdhe saya yang jago dansa juga selalu inisiatif bwt ngajak keponakan2, sepupu untuk menari bersama.

Oya, sempat disinggung2 tentang "pengaruh Islam".., maksudnya gimana tuh mas???
 Yan Zavin Aundjand Kemaren sya ajak menari g mau... "̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡"̮ okee okee... Gud.lanjutkn
 Syafiq Naqsyabandi kenapa di barat ada tarian2 begitu mas?... terus kalo memang d=yang dicurigai adalah agama, apakah ada perbedaan budaya tari2an sebelum ada islam? baik di arab maupun di jawa?...

el-ferda mengatakan...

 Dodi Faedlulloh Yang menarik, orang-orang kadang tak segan juga tak malu untuk menulis dan mengungkapkan kata 'menari' dalam puisi, sajak, lirik dan semacamnya. Secara idea, menari memang sudah jadi sesuatu yang indah. Ya, tinggal praktiknya.
 Surya Esa tarian jawa bukan sekedar hiburan dan tontonan tapi didalamnya sarat makna tuntunan.cobalah dimengerti sobat.
 RB Alvin Yulityas Sandy saya senang sekali membaca tulisan ini, kejujuran dalam tulisan ini, yang berdasarkan pada pengalaman empirik penulis, tak salah, dan memang benar sejarah perkembangan budaya eropa yang membawa mereka pada struktur massa rakyat egaliter, dan tentu melahirkan budaya bercorakan egaliter pula, dan saya meyakini budaya pasti terus diproduksi dan reporduksi, akan tiba saatnya para seniman kita melahirkan sebuah seni yang jujur. sebuah seni untuk seni.
 Slamet Gundono Tulisan ini ajakan betapa tubuh kita sdh terlalu terkotak,cobalah bebaskan tubuh bergerak bersama, bebas, bukan bersama tapi di kordinasi partai atau kapitalis he he cuma jadi kerumunan. Ku undang semua yg mau berdiskusi di sanggar suket..salam
 Aam Bae dadio wong jowo seng njawani.....

el-ferda mengatakan...

 Firdaus Putra Shinta ArDjahrie dan Syafiq Naqsyabandi, saya menaruh curiga pada agama, dalam hal ini islam, apalagi yang purifikasi, karena saya melihat kecenderungan islam membaca dunia secara biner: hitam-putih, halal-haram, dll. dan kalau kita lihat pedebatan seni dan islam cukup kencang.
Saya tak bisa bayangkan lenggak-lenggok tubuh perempuan dibenarkan, apalagi dengan baju kemben.
 Firdaus Putra Dodi Faedlulloh, menarik juga pernyataanmu dod. Menari selalu indah dan sering digunakan dalam banyak rangkaian yang puitis. Setuju, tinggal realisasikan saja.
 Firdaus Putra Mas Surya Esa, saya tak pungkiri soal tuntunan, bukan semata tontonan. Sebagai orang awam, saya cuma pingin ikut berkesenian. Lenggak-lenggok. Ada ruangnya? Itu poin saya mas.
 Firdaus Putra RB Alvin Yulityas Sandy, thank you vin. Nanti kalau jadi pagelarannya, kita menari bersama ya. Wajib.
 Firdaus Putra Matursuwun sekali undangannya Mas Slamet Gundono dan saya rindu sekali untuk bisa melepasbebaskan tubuh ini dari kungkungan struktur.
 Firdaus Putra Aam Bae, kalo jowo sing njawani, berarti emang aku harus bisa menyerap kejawaan, salah satunya ekspresi dalam berkesenian.
 Syafiq Naqsyabandi Sepakat, saya pun bisa membayangkannya,,, cuma mungkin mas firdaus punya data sejarahnya? Mengenai perubahan tradisi menari sebelum dan sesudah adanya islam? Baik di jawa maupun di arab?... ada perubahannya ndak mas?
 Firdaus Putra Syafiq Naqsyabandi, belum punya saya fiq ttg catatan sejarah transformasi sos-bud pra dan pasca islam.

el-ferda mengatakan...

Syafiq Naqsyabandi Wah ada baiknya dicari tau mas,,, untuk membuktikan kecurigaan...
Wednesday at 1:29pm via mobile · Like
Muhammad Arsad Dalimunte sepertinya layak di coba....misalnya 5 menit sebelum pulang kantor, semua menari di sekitar mejanya masing-masing...layak di teliti efeknya...siip om...keren gagasanne...kalau dah ada yg mulai kasih kabar ya??..he222
Wednesday at 2:41pm · Like
Firdaus Putra Syafiq Naqsyabandi, tadi saya sempat diskusi sama Pak Dodit, beliau juga punya pembacaan sama. Tapi sama juga, kita belum punya landasan teoritiknya. Namun variabelnya bukan hanya itu kata beliau, karena ini terkait juga dengan transformasi sosial dari agraris ke industri.

Pak Muhammad Arsad Dalimunte, iya pak. Rencana bulan april, sekalian menyambut Harlah Banyumas. Helatannya FISIP Menari, kemungkinan di jalan raya dan keliling. Hehehe. Kopkun nanti bisa juga pak menyelenggarakan, tapi njenengan kudu ikut nari lho pak. Wekwkwkkw.
Wednesday at 2:54pm · Like
Firdaus Putra Prima Sulistya Wardhani, pak dodit, pamanmu itu, akan fasilitasi menari bersama. Pulang ke purwokerto ya bulan april, jadi kamu bisa ikut tanpa malu. Hehehe.
Wednesday at 2:56pm · Like
Syafiq Naqsyabandi mantebs
Wednesday at 3:15pm · Like
Prima Sulistya Wardhani Mau nari shuffle massal kah? Haha. Itu di atas ada yg komen "efek penjajahan 350 tahun" siapa sih? Parah nih, hahahaha.
Wednesday at 5:35pm · Like
Firdaus Putra Yaa kamu kenalan sendiri dong. Hehehe.
Wednesday at 5:44pm · Like
Nanang Sumarna tinggal di garap mas broooooo...
Yesterday at 1:17pm · Like
Jajang Yanuar Habib Wawawaw eh bedanya menari sama berjoget apa?
14 hours ago via mobile · Like

Irma Sekarningrum mengatakan...

Terimakasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat.
Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
Explore Indonesia