Membongkar Laptop dengan Lezat

Oleh: Firdaus Putra

Apa yang paling menegangkan dan menyenangkan beberapa waktu kemarin adalah saat saya membongkar eMachines D720. Mungkin istilah “membongkar” terlalu umum untuk menggambarkan pengalaman itu. Lebih tepatnya “mempreteli” tiap bagian atau jeroan laptop itu. Mulai dari melepas bagian cover depan, melepas monitor, keyboard, kemudian melepas baut-baut di bawah keyboard dan melepas kabel-kabel flexy yang terhubung dengan motherboard.

Saya, sekali lagi “mempreteli” tiap bagian itu laksana mengurai satu per satu bagian kepala ikan pindang. Begitu gurih rasanya melihat isi kepala ikan itu. Mulai dari insang, berbagai “hal” di dalam kepala, sampai tulang-tulang kecil itu. Tak ketinggalan juga, matanya. Hampir sama rasanya ketika menjelajahi kepiting untuk mengais daging putihnya yang tertutup kalsium keras di sana-sini.

Menegangkan dan mengasyikan, bagaimana saat saya melepas hardisk, dvdrom, ram, dan wireless card yang ternyata kabelnya terhubung dengan monitor. Saya duga kabel itu terkoneksi dengan semacam antena yang ditanam di dalam bagian pinggir monitornya.

Juga menyenangkan saat saya melepas cooling fan dan heatsink pada processor. Membersihkan dan mengamatinya satu per satu. Tak lupa mengunyah dengan lembut seluruh bagian motherboard. Kemudian saya oleskan thermal pasta di atas processor dual core itu yang rasanya bak menyiram saus tiram di atas kepiting rebus. Oh, perpaduan aroma dan rasa yang begitu memikat.

Di bagian akhir, saya kembali tegang bagaimana caranya menutup santapan itu dengan penuh hikmat dan hormat. Ya, salah-salah saya akan merusak barang elektronik seharga 4,6 juta itu. Tantangannya mungkin seperti seruan Saphere Aude di masa Fajar Budi. “Berani berpikir sendiri!”, kata para filsuf. Sedang saya, mau tak mau harus berani menanggung resiko kerusakan sendiri.

Mulailah saya pasang kembali komponen itu satu per satu dengan beberapa jenis baut yang berbeda. Kalau tak salah ada 4-5 jenis baut berbeda yang jumlahnya sampai 20 butir yang harus masuk pada lubang berbeda. Saya harus mengingat dan mengepaskan itu agar tak salah sedikitpun. Agar kembali terpasang sempurna.

Sampai baut terakhir terpasang saya merasa senang, merasa menang! Artinya tak ada lubang tersisa dan tak ada baut yang salah. Meskipun saya mengalami kebingungan saat memasang kabel antena wireless card, antara yang putih dan hitam. Pasalnya, saya lupa menghapal letak dua kabel itu. Jadi statusnya sekedar saya pasang saja. Kalau tak berfungsi, bongkar ulang pada bagian card itu. Semudah itu saya pikir.

Dan detik-detik menegangkan selanjutnya setelah semuanya terpasang tanpa celah dan cacat adalah saat saya menekan tombol power. Klik! Laptop itu menyala kembali. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Benar-benar seperti memperoleh kemenangan mutlak! Operating system bekerja, suara terdengar, monitor menyala, keyboard berfungsi dengan baik, tak ketinggalan dvdrom dan yang terpenting, sekarang laptop saya tak akan mengalami overheat atau panas berlebih lagi!

Benar-benar memacu adrenalin dan keringat dingin! Cobalah sesekali Anda bongkar laptop itu, preteli tiap bagiannya satu per satu. Perhatikan tiap detailnya. Dan jangan kaget saat melihat semua IC-nya tercetak “Made in China”. Hahaha.

Inilah kenikmatan menjadi seorang “amatir”. Pengalaman biasa itu menjadi begitu luar biasa. Bandingkan kalau saya adalah tukang servis komputer yang piawai. Pastilah pengalaman itu bukan hal mewah. “Biasa saja”, katanya. Bahkan karena saking biasanya, aktivitas itu menjadi sedemikian membosankan. “Tantangan” itu tak lagi mempesona.

Saya ingat ujaran Prof. Bambang Sugiharto, “Manusia terlalu serius menjalani hidup. Semuanya dapat ia kontrol, dapat ia dikendalikan, hingga hidup tak lagi menawan, tak lagi mempesona. Kekonyolan dan sedikit kegilaan kadang diperlukan untuk mengembalikan pesona itu”, kurang-lebih begitu katanya. Dan saya rasa, saya peroleh pesona itu saat membongkar laptop. Terjun langsung tanpa sabuk pengaman, melepas stiker garansi yang sakral dan tanpa bimbingan dari seorang ekspertis satu pun.

Rasanya, mungkin … seperti orgasme. Silahkan buktikan sendiri! []

Note:
Kalau Anda tertantang, sekali-kali sedikit pun saya tak bertanggungjawab atas kerusakan laptop Anda. Tanggunglah resikomu sendiri! Karena kepuasan itu lahir dari sana.
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 comments :

Anonim mengatakan...

bung, saya setuju , tapi ada satu masalah bung, padahal sudah semua baut sudah saya lepas akan tetapi kok tetap nempel gituh, tepatnya pada bagian bawah keyboardnya masih nempel erat, apa ada baut di bawah keyboardnya ya?, jadi bagaimana cara melepas keyboard laptop, laptopku Hp.
mohon pencerahannya
tolong kirim jawaban ke email saya, putra.h.a.b.i.b@gmail.com

Agung Nugraha mengatakan...

tanya mas. kalo ngelepas lcd biar bener2 g ada lcd terpasang gimana caranya mas? ini laptop temen saya juga sama : E machine D720 :D.

Agung Nugraha mengatakan...

ditunggu jawabannya mas :)

Adrie Satrio mengatakan...

Tanya mas, kok saya gak bisa ngelepas fan processor dari mobonya ya??? itu yang ada mur + per gmna sih ngelepasnya??? mohon bantuannya

Dumpie Majestyc mengatakan...

Mad.bahasanya jangan lebay lah...orang awam yg pengen belajar jd rumit. Hrs mikir arti bahasamu maksudnya gimana.kritik ni...sorry