Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog
Oleh: Firdaus Putra A.

Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story, meski tidak harus succes story.

Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction. Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi).

Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup. Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemistnya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Personal Legend atau jati dirinya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang Raja yang memberinya sebuah mantra, “When you want something”, kata si Raja, “all universe conspires in helping you to achieve it”[1], lanjutnya.

Banyak orang di banyak penjuru dunia belajar dari kisah true story, succes story atau kisah inspiratif semacam itu. Saat dalam kesempitan atau kegagalan, kisah-kisah semacam itu perlu dibaca dan dipetik hikmahnya agar kita bangkit dan kembali yakin bahwa yang kita usahakan atau kerjakan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi (there is possible!). Kisah semacam itu juga memberikan inspirasi yang dalam hitungan detik membuat kita tersadar untuk “thinking out of the box”. Saat itu terjadi, mungkin kita akan berteriak "Eureka!” sembari kegirangan laksana si Archimedes dengan temuan hukum Archimedes-nya.

Nah, dalam konteks seperti itulah, blog-blog mempunyai potensi yang luar biasa untuk menjadi "Chicken Soup-Chicken Soup” di banyak sisi kehidupan masyarakat atau umat manusia. Seorang pemilik blog (blogger) tidak perlu bersusah payah merangkai kata atau bahkan merekayasa cerita untuk membuat blognya sebagai sumber inspirasi yang menggetarkan jiwa. Kisah-kisah semacam itu tidak harus dibangun dari sebuah kisah besar yang melegenda dan nan hiroik. Kisah-kisah inspiratif seperti itu bisa dibangun dari kisah kehidupan kita sehari-hari dalam berbagai aktivitas.

Anda bertanya, “Kalau begitu penulis sedang menghendaki blogger membuat dailydiaryblog?” Sebuah blog yang berisi tentang kisah kehidupan sehari-hari, dari kisah sedih, konyol, sukses, kegagalan dan sebagainya. Atau semacam buku harian online yang berisi tentang curahan hati kita dalam berbagai hal, begitu bukan?

Bukan begitu! Mengacu pada definisi yang dilontarkan oleh para penulis, diary merupakan “… contain a description of daily events”[2]. Ia hanya menyuguhkan rentetan kehidupan sehari-hari, tidak lebih. Kisah-kisah inspiratif seperti di atas tidak akan kita temukan pada diaryblog. Alih-alih, kita temukan di dalam journalblog. Journal merupakan, “… a continued series of writings made by a person in response to their life experiences and events”. Bedanya dengan diary, “A journal may include those descriptions, but it also contains reflections on what took place and expresses emotions and understandings about them”[3]. Jurnal merupakan serangkaian tulisan yang dibuat sebagai respons terhadap kejadian dalam kehidupan kita. Jurnal menyangkut refleksi, emosi dan kesadaran akan hal tersebut. Sedangkan diary, hanya tulisan tentang rentetan kejadian harian.

Dengan menulis dan mempublikasikan jurnal, blog akan setara dengan buku-buku Chicken Soup penggugah jiwa. Ia tidak bisa lagi dikatakan sebagai diaryblog bak tempat sampah segala curahan hati pemiliknya, justru ia merupakan teko dengan air kebijaksanaan, nasihat, hikmah yang senantiasa membagi cara pandang (way of life), sikap mental (state of mental) dan cara berfikir (state of mind) dalam menghadapi masalah hidup. Blog-blog dengan isi seperti itulah yang bisa dikategorikan sebagai blog yang manfaati bagi pembacanya.

Potensi blog menjadi sumber inspirasi akan sangat fantastik, dari segi jumlah atau kualitas, dibanding dengan buku-buku yang dicetakan. Seperti kita tahu jumlah blog bertambah 175.000 perhari. Angka ini belum termasuk blog berbahasa Indonesia [4]. Sedangkan saat ini, pertahun 2008, jumlah blog di dunia mencapai 112,8 juta [5]. Bilamana separuhnya saja termasuk journal blog, maka pencapaiannya melebihi terbitan buku di seluruh dunia. Fakta ini merupakan proyeksi potensi blog secara kuantitatif sebagai “the new media of chicken soup”.

Di sisi lain, secara kualitatif, mengingat blogger berasal dari banyak negara di seluruh penjuru dunia, maka kisah-kisah yang bisa kita nikmati akan beragam warna dan rasa. Pembaca di Indonesia dengan mudah akan belajar hikmah dari para blogger Eropa, Skandinavia, Amerika, Jepang, Australia, China, Amerika Latin dan negeri-negeri lainnya. Keragaman dari berbagai negeri itu akan menambah perspektif kita yang pada gilirannya mendewasakan sikap kita.

Berbeda dengan buku, dalam konteks blog sulit untuk mengatakan siapa mengajari apa kepada siapa. Mengingat, blog dengan karakter onlinenya membuat interaksi, dialog dan umpan balik menjadi terbuka luas. Sehingga satu blogger/pembaca dengan lainnya bisa saling belajar, bertukar informasi dan berbagi pengalaman. Proses tukar dan bagi informasi dan pengalaman inilah yang akan membuat masing-masing blogger/pembaca kaya inspirasi yang bisa dipetik bagi hidupnya.

Meski demikian, ada seorang peneliti mengatakan, “ … they (blogs) blur the distinction between what is public and what is private, between the individual and the group, and between fact and fiction”, sehingga dia mengatakan, “whatever their stated purpose, blogs are funny things”[6]. Skeptisisme seperti ini tentu saja beralasan karena selama ini banyak orang—baik di Indonesia pun luar negeri—yang membangun blognya sebagai diaryblog, bukan journalblog. Sehingga merubah blog harian menjadi blog jurnal merupakan langkah agar blog kita lebih bermakna dan bermanfaat, bukan sekedar tempat sampah tangisan atau cekikikan kita dikalah sedih atau senang.

Sebagai pungkasan, perlu kita camkan ungkapan Joyce Djaelani Gordon [7], “I have also seen many people with great experiences from various walks of life and yet they learn nothing from their own experience. Ask them, and they will tell you everything about their vast experience without being able to surmise anything”. Lanjutnya, “What they tell you would only be series of ‘happenings’ that has no meaning, save the story itself. You may learn from their experience, whilst they themselves may actually not have learnt anything”. Mengapa hal seperti itu terjadi? Karena sebagian dari kita lebih suka menulis dairy daripada menyusun jurnal yang meski renyah atau jenaka, namun dunia bisa belajar darinya, dari blog kita. []

Fotenote:
• Gambar secara berturut-turut diambil dari: www.peoplelearn.homestead.com, www.uangmagnet.com dan www.forumlingkarpena.net
1.The Alchemist, halaman 24.
2.www.42explore.com/journl.htm
3.Ibid.
4.www.ssc.sagepub.com/cgi/content/refs/27/2/155
5.Ibid.
6.www.abs.sagepub.com/cgi/content/refs/49/4/575
7.Merupakan Pimpinan Yayasan Harapan Kita (Yakita). Makalah pada Workshop Orientasi dan Pengembangan Kapasitas “Youngchangemaker 2008” Ashoka Indonesia di Bogor 8-9 Maret 2009.
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 comments :

gibic mengatakan...

saya merasa gelisah ketika banyak blog dibuat sebagai raditya dika wannnabe.

raditya dika memang lucu, dan kebodohan yang diceritakannya memang segar. tapi kadang tidak demikian dengan para wannabe nya. :(

mungkin kapan-kapan ada workshop blog, lebih baik ditekankan kepada 'writing'. soal teknis blog, itu bisa dipelajari secara otodidak.

btw, eureka, bukannya teriakannya archimedes bung? :D

el-ferda mengatakan...

oh iya bener. milik si archimedes pas nemuin gaya archimedes--aplikasi untuk kapal selam dan kapal-kapal lainnya. dengan ini saya ralat. makasih bro.

dari wikipedia "It is most famously attributed to the ancient Greek scholar Archimedes; he reportedly proclaimed "Eureka!" when he stepped into a bath and noticed that the water level rose — he suddenly understood that the volume of water displaced must be equal to the volume of the part of his body he had submerged. This meant that the volume of irregular objects could be calculated with precision, a previously intractable problem. He is said to have been so eager to share his realisation that he leapt out of his bathtub and ran through the streets of Syracuse naked."

Firdaus Putra mengatakan...

Yes, I truly agree that there have been a lot of diary bloggers lately. Especially here in Malaysia. I couldnt stand with 1 of the bloggers who posted "I ate an icecream with my gf today. Yeay!". Now, I think that is bullshit!

I truly believe that a blog should be written in journal form, in a way of expressing the arguments in our head instead of expressing our feelings in notorious ways.

Blogging should be more about sharing our knowledge with each other than to simply expose our personal feelings and experiences to countless number of people.

There should be a limit or a stand to a point of exposing ourselves. :)

Dimas Saputra mengatakan...

dulu aku penggemar chicken soup, bahkan suka menyalin quotes yang ada disana yang aku anggap bisa jadi inspirasi buat aku. karena buat aku quotes lebih bisa memberikan inspirasi ktimbang cerita-cerita yang terkadang suka dibikin berlebihan. kalo menyoal blog, harus di perhatikan bahwa ga semua orang bisa bertahan lama membaca tulisan atau kisah-kisah dari layar komputer. alhasil, banyak hal yang di skip dan cuma cari quotes yang bisa menjadi inspirasi. btw, makin mengginggris saja mas firdaus. congratulations!!

Anonim mengatakan...

sprti setitik terang dr kegersangan fikiran manusia yg malaz utk bljr kritis...gw sepakat ama lo bray...chicken soup byk menginpirasi qta...serius ni uda jd bacaan wajib ank2 psikologi...dbalik crita2ny byk makna yg tersirat...

udin mengatakan...

Saya sering mendengar betapa inspiratifnya kisah2 dalam Chiken soup... tapi saya fikir.. ada banyak kisah2 dari bangsa sendiri yang gak kalah inspiratif kok.. cuma tidak terkspose saja.. ada yang berminat menggali ?..

Natalia mengatakan...

hm....gue suka Andrea Hirata, dan bukunya lebih menyentuh gue ketimbang chicken soup. Bukan berarti gue gak suka Chicken Soup. Anyway, yg namanya nge-blog ya isi otak dan hati kita yang kebaca disitu. jadi ya terserah yg nulis lah. Ya kalo dia mo bawa seperti apa ya itu terserah dia. Cuma sayang aja kalo ngikutin gaya si anu atau si itu, jadi diri kita sendiri lah..Githu aja kali ya..

Anonim mengatakan...

mas firdaussss...tulisannya menggugah banget... ga cukup baca sekali aku memahami tulisannya, pokoknya jadi pengen baca berulang-ulang... karena ide yang sangat luar biasa menjadikan jurnal blog sebagai sebuah motivasi buat para blogger untuk semangat dalam berkarya, dengan menjadikan blog bukan hanya sebagai tempat curhat pribadi tetapi juga tempat untuk berbagi terhadap semuanya....

Anonim mengatakan...

Laskar pelangi...aku suka itu.benar-benar termotivasi selesai membacanya. seandainya di blogg banyak cerita yang isinya kaya laskar pelangi seru juga kali yah... karena setiap orang punya cerita yang menarik dalam kehidupannya untuk diceritakan. termasuk mas firdausku ini. penasaran pengen tau kisah hidupnya mas firdaus

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

salam hangat!