Kata Kunci Porno

Oleh: Firdaus Putra A.

Setiap kali saya online dan melihat blog ini, pasti di “Live Traffic Feed” terekam jejak pengunjung dengan kata kunci “Video Porno Lokal”. Bahkan pernah suatu kali, jejak itu muncul berurutan empat sampai lima pengunjung. Saya menyangka pengunjung itu “terjebak” dari kata kunci yang mereka gunakan untuk meng-googling. Pasalnya, saat saya cek dengan memasukan kata kunci “Video Porno Lokal” blog ini muncul pada halaman pertama di urutan tiga teratas pada mesin pencari Google.

Sebenarnya saya merasa senang, dengan “keterjebakan” itu blog traffic saya senantiasa ramai. Namun, saya merasa iba juga dengan para pengunjung yang merasa “terjebak”. Memang dalam blog ini ada satu dua judul yang mengupas tentang “Video Porno Lokal”. Tulisan itu berisi tentang analisis kasar saya terhadap menjamurnya video porno yang diproduksi oleh anak negeri ini. Tentu saja tulisan para pengunjung tak akan mendapati ihwal erotisme atau sensualitas apalagi link video porno.

Beberapa tahun terakhir produksi dan peredaran video porno lokal sangat gencar. Sekali lagi, teknologi informasi dan digital sangat membantu menyebarluaskan video itu hanya melalui menu copy-paste atau send file. Sempat juga ketika sedang chat di YahooMessenger, tanpa diminta seorang cowok mengirim file berformat 3GP ke saya. Meski tak sempat saya buka—karena error—saya yakin file itu adalah video porno dengan judul “cewek hot”.

Sebenarnya sejauh apa peredaran dan bisnis video porno lokal di negeri ini? Saya akan kutipkan beberapa paragraf dari Kantor Berita Antara, sebagai berikut:

“Polres Kudus, Jawa Tengah, menyita sebanyak 632 keping video porno yang akan diedarkan di daerah ini. Durasi tayangan video porno tersebut mulai dari tiga menit hingga belasan menit.

Ratusan keping video porno dengan pemain Indonesia dan asing itu dikemas dalam format 3GP sehingga mudah untuk ditransfer ke perangkat telepon selular multimedia, kata Kapolres Kudus, AKBP Budi Siswanto melalui Kasatreskrim, AKP Dony Setyawan, di Kudus, Jumat.”

Berhubung penasaran, saya sempatkan juga membeli buku “500+ Gelombang Video Porno Indonesia – Jangan Bugil di Depan Kamera!” hasil penelitian dari Sony Set melalui investigasi dan wawancara mendalam. Dalam buku itu motif para pembuat video dibeberkan dengan jelas. Ada yang hanya karena iseng, dokumentasi perasaan cinta, kamera tersembunyi dan seterusnya.

Selain dari segi pembuat, sebenarnya yang belum terungkap adalah motif si penonton (masyarakat Indonesia) sebagai pasar yang menerima “barang” itu. Antusiasme produsen (atau mungkin distributor) saya kira juga berangkat dari antusiasme pasar terhadap “barang lokal” itu. Bolehlah saya berandai-andai, apa mungkin karena penonton mulai bosan dengan video-video porno asing dan industris?

Selain bosan bisa juga penonton penasaran dengan video porno lokal yang sebagian di antaranya dibuat dalam kondisi spontan. Artinya, penonton ingin lebih menikmati sesuatu yang alamiah dibanding yang rekaan (industri). Ditambah kultur masyarakat kita “gemar menggosip” yang sama artinya dengan mengumbar rahasia dan di sisi lain juga gemar menikmati gosip serta rahasia itu. Dugaan ini menjadi masuk akal hanya dalam konteks video porno lokal yang spontan tadi.

Terlepas video tersebut spontan atau sengaja diproduksi, yang jelas bisnis video porno lokal sangat menggiurkan. Berbeda dengan itu, industri porno tingkat internasional telah lama menjadi bisnis dengan omset jutaan dollar. Saya akan kutipkan lagi beberapa paragraf dari Mata Bumi, sebagai berikut:

“Industri pornografi di dunia masih menjadi bisnis yang menggiurkan bagi penggemarnya. Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) mengungkapkan jumlah uang sedunia yang beredar untuk belanja pornografi cukup besar yakni mencapai US$ 3,075 juta per detik.

Pendapatan dari pornografi di seluruh dunia pada tahun 2006 mencapai US$97,06 miliar. Terbesar dari Cina sebesar 28 persen, Korea Selatan 27 persen. Masih dari data yang sama, permintaan mesin pencari untuk pornografi sehari-hari mencapai 68 juta atau 25 persen dari total permintaan di mesin pencari. Sementara jumlah situs pornografi mencapai 4,2 juta situs atau 12 persen dari total situs.

Di mesin pencari dengan menggunakan kata kunci 'sex', Indonesia ternyata menempati urutan ke-7 di Asia. Yang terbanyak pencari kata tersebut yakni dari Pakistan. Sedangkan dengan kata kunci 'XXX' terbanyak dicari pengguna dari Bolivia dan kata kunci 'porn' dicari dari Afrika Selatan.”

Nah, saya yakin pengunjung yang “terjebak” ke blog ini dengan kata kunci “Video Porno Lokal” mempunyai pendapat yang berbeda terkait aktivitasnya. Maukah Anda berbagi cerita tentang “perburuan” kata kunci porno itu?

Oh iya, melalui tulisan ini saya juga ingin mempertegas bahwa blog Mengintip Dunia bukanlah blog yang memuat unsur pornografi. Jadi mohon maaf kalau Anda merasa “terjebak” dengan beberapa tulisan tentang “porno” “seks” dan sebagainya. Hehehe.[]
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :