Melati Jaya Giri


Oleh: Firdaus Putra A.

“Melati dari Jaya Giri …” bolak-balik aku putar tembang kenangan itu. Aku punya kesan yang dalam khusus pada “Jaya Giri”. Aku belum pernah ke sana. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu dalam dan seakan sudah mengenalnya.

Setelah sekian lama mencarinya, aku peroleh lagu ini dari dosenku, Pak Rawuh. Katanya beliau punya banyak koleksi tembang-tembang kenangan. Dia sendiri putar lagu itu dengan piringan hitam. Wow … benar-benar klasik. Sedang laguku ini, sudah di MP3-kan. Tapi kesan klasik itu masih tersisa. Suara musik yang sangat sederhana dengan aransemen yang juga sederhana.

Pada masalah lagu, aku mungkin tergolong orang yang konservatif. Meski banyak lagu-lagu berganti dalam genre pop, belum ada yang menandingi kesan tembang kenangan.

Memang, aku anak zaman pop. Hanya saja aku dibesarkan di tengah bapak-ibu yang demen tembang kenangan. Aku masih ingat, dulu saban hari ibuku memutar “Gelas-gelas Kaca”, “Teluk Bayur”, “Hitam-Putih Potomu” dan lainnya. Bagiku mendengarkan tembang kenangan itu seperti mengulang masa kanak-kanakku. Ada kesan yang damai di sana. Kesan itu aku temukan juga saat mencium aroma minyak kayu putih. Sontak saja, aku merasa dalam belaian ibu atau nenek. Ah ... begitu damai.

Kesan itulah yang belum aku dapat di lagu-lagu pop. Aku tak punya kenangan apapun di lagu itu. Lagu itu biasa saja, aku dengarkan dan lewat beberapa minggu kemudian, lagu baru lahir, aku dengar kan lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada kesan yang membekas.

Ada juga satu lagu dangdut yang kesannya begitu dalam, “Menunggu” yang dilantunkan Rhoma Irama. Satu bulan yang lalu aku beli CD “Menunggu” dengan aransemen baru, mirip Pop India. Ya ... Si Ridho yang melantunkan, anak dari Rhoma Irama. Meski syairnya masih sama, tidak ada kesan yang mengantarkanku ke masa lalu. Aku terbang ke masa lalu justru saat mendengar “Menunggu” dalam versi aslinya, versi dangdut klasik.

Untuk lagu manca negara, aku suka Air Suply. Lagi-lagi tembang kenangan. Dulu saat SMP aku peroleh kasetnya dari Omku. Ibuku juga suka. Jadilah lagu itu kita putar bareng-bareng dengan tape tua yang ukurannya besar, bukan tape compo seperti saat ini.

Sedang di laptopku, ada satu folder khusus tembang kenangan. Ada lagu yang sering aku putar, “Hitam-Putih Potomu” Ratih Purwasih. Syairnya sederhana. Kisah cinta sepasang kekasih. Sebenarnya tak jauh berbeda dari lagu-lagu pop masa kini.

Lagu manca negara kekinian—tapi juga sudah lama—yang sering aku putar ya Frozen-nya si Madonna. Saat mendengarkan itu, ada suasana yang tak terpermanai. Suasana agung, elegan dan penuh. Sampai judulnya menginspirasiku untuk menulis cerpen-cerpenan, “A Frozen Time and A Question” di blog ini juga, beberapa tahun lalu.

Sudah ah ... lama-lama kamu pasti menertawakan ku dengan sebutan “kuno”, “jadul” atau “lebay”. Tapi jujur, lagu-lagu itu memiliki kesan yang dalam, berbeda dengan lagu-lagu sekarang yang kosong, hambar dan lewat begitu saja. Itu bagiku. []

PS: saya googling dan saya menemukan orang lain yang terkesan dengan lagu ini [klik di sini].
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 comments :

kyra.curapix mengatakan...

heheheh lebih baik dari pada mengintip (**mode rancu on)

si kumb@ng mengatakan...

i like it too....

ikeys mengatakan...

lebih suka sophi ellis bextor :)
walau ada yang tahu jg karena harus mendengar si mami papi bernyanyi lagu tembang kenangan hahaha

alimah mengatakan...

aku tak pernah bisa lepas dari lagu-lagu kenangan 70-an. tapi dalam hal mengingat siapa penyanyi dan judul lagu, aku memang malas dalam hal ini. aku suka lagu kenangan dan slow rock, karena dari kecil kakaklelakiku nyaris 24 jam memutar kaset-kaset itu. so, adeknya terbawa juga. lagu jaman dulu berbeda dengan kini yang tak awet di telinga. jaman dulu, lagu-lagu selalu masuk ke jiwa dan mampu menenangkan pikiran. ini bagi aku.

alimah mengatakan...

aku tak pernah bisa lepas dari lagu-lagu kenangan 70-an. tapi dalam hal mengingat siapa penyanyi dan judul lagu, aku memang malas dalam hal ini. aku suka lagu kenangan dan slow rock, karena dari kecil kakaklelakiku nyaris 24 jam memutar kaset-kaset itu. so, adeknya terbawa juga. lagu jaman dulu berbeda dengan kini yang tak awet di telinga. jaman dulu, lagu-lagu selalu masuk ke jiwa dan mampu menenangkan pikiran. ini bagi aku.

bpk wijaya mengatakan...

JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL 7X PUTARAN BARTURUT TURUT JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI KI JAYA DI NMR (_085-342-064-735) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT