Free Tequila


Oleh: Firdaus Putra A.

Inilah fasilitas yang disediakan oleh Cheers Café bagi kaum hawa di Purwokerto. Tak hanya free tequila di malam Jum’at, even ladies nite tiap minggunya ini juga menggratiskan pengunjung wanita. Dijamin “free tequila dan free ticket” ini benar adanya. Pasalnya, pengumuman atau lebih tepatnya undangan (invitation) itu terpasang pada spanduk berukuran kurang-lebih 1,5 x 6 meter di beberapa lokasi strategis.

Banyak wanita, lebih tepatnya cewek, di Purwokerto yang menyambut baik undangan itu. Berbondong-bondong dengan berbagai riasan khas nge-dugem, mereka menyusuri Jl. Dr. Angka, berbelok ke kanan dari arah Baturaden. Sekitar satu kilometer dari perempatan, ambil kanan, masuk di kompleks hiburan. Di sana berjajar mulai dari Dinasty Hotel, Tango, Cheers Café, Banyumas Bilyard Center (BBC), dan sebagainya.

Tentu saja, sesampai mereka di lantai disko, puluhan bahkan ratusan laki-laki, lebih tepatnya cowok, sudah menunggu di sana. Berbaurlah cewek-cowok melantai di sana. Bersama-sama mereka menikmati alunan musik dengan bit tinggi. Adakalanya istirahat, duduk di bangku atau sofa di tepi ruangan. Saling sapa dan cakap pun terjadi. Bila cocok, mereka akan menjadi teman nge-dugem di malam-malam berikutnya.

Bagi si cowok, malam nge-dugemnya semakin menarik dan mengasyikkan. Mengeluarkan uang untuk sejumlah kesenangan, kenyamanan, serta keasyikan menjadi sepadan untuk selalu melantai. Sedang bagi si cewek, hiburan gratis penghilang suntuk bisa diperoleh secara cuma-cuma. Bila masih kurang dengan free tequila dari pihak manajemen, tidak sedikit pengunjung cowok akan mentraktir beberapa sloki untuk si cewek. Jadi kloplah, baik si cowok dan si cewek sama-sama merasa senang.

Tak hanya pengunjung cowok dan cewek yang senang, tentunya pihak manajemen yang bersangkutan juga ketiban untung. Tempat hiburan yang mereka kelola senantiasa ramai dipadati muda-mudi yang berdugem ria. Tentu saja, taktik “free tequila” sudah diperhitungkan masak-masak. Secara ekonomis, segala tindakan atau aktivitas ekonomi hendaknya dihitung dari besaran pengeluaran dan kemungkinan besaran pemasukan. Di sana, nalar ekonomi semakin kentara dengan adagium pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Cerita lain, tengoklah Sales Promotion Girl (SPG) yang dipasang oleh berbagai produk rokok, minuman suplemen, dan sebagainya untuk menggaet pembeli. Memilih SPG bukan Sales Promotion Boy berangkat dari pertimbangan yang pastinya seksis. Perempuan dalam konteks ini distereotipe sebagai orang yang gemulai, mempesona, memikat yang mampu menaikkan oplah penjualan suatu produk.

Nah, “free tequila dan free ticket” ibaratkan saja sebagai honor yang dibayar di muka untuk pekerjaan tertentu. Tak ada yang merasa dieksploitasi, maka berlangsunglah transaksi itu, terus menerus. Sekali lagi pepatah lama mengatakan, tak ada makan siang gratis! []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 comments :

ezra mengatakan...

hehe.. bener bgt. saya jg sdh membaca gelagat ini. tp sekali lagi, "permintaan" itu bisa diciptakan kan?

sepenggal catatan mengatakan...

Tampaknya budaya konsumerisme semakin saja menjadi raja di diri para remaja.....

Anonim mengatakan...

kalo kata "efek rumah kaca" :
"...atas bujukan setan, hasrat yang membentuk jaman.. kita belanja terus sampai mati..."

biangkerok

Anonim mengatakan...

saya sbagai seseoRang yang peRnah menjadi saLah satu kuLi di daLam sana meRasa ingin mendiskusikan haL ini.., ayoc...,,!!


the DindingkamaR
=temennya biangkeRok=

el-ferda mengatakan...

ok mari kita diskusikan ... kita mulai dari titik yang mana?

pertama motif "free tequela" the dinding kamar mungkin lebih tahu karena pernah kerja di sana? (kalau gak off the record mohon dishare)

implikasi "free tequela" bak semut mengerubungi gula. beda misal dengan ide gila gub. jakarta (yang dulu banget, kalau tak salah ali sadikin) yang mengusulkan lokalisasi harus di lokalisir pada wilayah tertentu. agar sebarannya bisa dikontrol dan "menghambat" kelas tertentu (menengah-bawah). berbeda dengan itu, "free tequela dan free ticket" justru membuka lebar sebaran gaya hidup itu.

salah satu efek dari gaya hidup itu, silahkan baca postingan terdahulu "pelaku, korban, dan keadilan".