Setelah Training ESQ


Spiritualitas atau Simulasi Spiritualitas?
Oleh: Firdaus Putra A.

Akhirnya saya penuhi undangan Sdr. Rizki untuk mengikuti training ESQ. Tepatnya pada 29-30 November, hari Sabtu-Minggu, dengan semangat saya datang ke Gedung Soemardjito. Hari pertama saya merasa kikuk, karena ternyata seluruh peserta training saat itu berasal dari berbagai instansi pemerintah atau swasta. Tdak ada peserta mahasiswa kecuali saya seorang. Meski kikuk dan salting, saya bersyukur atas bantuan Sdr. Rizki bisa mengikuti training tersebut secara cuma-cuma.

Secara obyektif saya kira memang benar training tersebut menarik dan tidak membosankan. Teknologi multi-media begitu rupa membuat peserta tidak merasa bosan. Yel-yel, berbagai permainan, serta hadiah dari trainer membuat peserta semakin bersemangat mengikuti training dari pukul 07.30 sampai 18.00 WIB. Fasilitas lain seperti makan siang, makanan kecil, serta coffe break membuat perut dan mata tetap terjaga.

Di luar masalah itu, sebenarnya pengalaman mengikuti training tersebut tidak berbeda jauh dengan persepsi yang saya ajukan di beberapa tulisan terdahulu. Misal, bahwa internalisasi sama seperti yang saya selenggarakan di kegiatan OSPEK FISIP. Keduanya sama menggunakan musik instrumentalia Kitaro dan dengan pencahayaan temaram/ gelap. Bedanya, saat OSPEK kami tidak menggunakan LCD berikut layar lebar dan sound system 10.000 watt yang menggelegar yang memberikan efek tiga dimensi (3D).

Terlepas dari itu, saya masih memiliki beberapa keberatan, sebagai berikut;
Pertama, saya tetap menangkap unsur indoktrinasi dalam training tersebut. Misal, di awal trainer sudah memberikan frame/ kerangka untuk mengikuti training tersebut tanpa didiskusikan mengapa harus seperti itu. Dengan alasan keterbatasan waktu, sesi tanya-jawab tidak masuk dalam rentetan kegiatan. Tanya-jawab hanya akan dilayani setelah traning berlangsung.

Masalah ini terlihat ketika trainer mengatakan bahwa saat memasuki EQ dan SQ maka fungsi logika harus “dimatikan”. Yang sebelumnya, trainer sudah memberikan beberapa kriteria peserta, yang idealnya, peserta harus seperti gelas kosong. Selain itu, peserta harus “menikmati” jalannya trainer sebagaimana ketika kita menyaksikan film. Artinya, peserta tidak dibenarkan mempertanyakan sekenario, sandiwara, dan lain sebagainya dari film (baca: training) tersebut.

Cara seperti ini saya sebut dengan “korpus tertutup” dimana kita hanya dituntut untuk mengikuti tanpa harus mempertanyakan segala asumsi mengapa caranya harus seperti itu. Korpus tertutup tentu saja berangkat dari asumsi bahwa segela sesuatunya adalah benar. Sebagai peserta, kita tinggal “mengimaminya” saja tanpa interupsi.

Kedua, menurut saya training tersebut sarat dengan manipulasi psikologis. Dengan dukungan multi-media (layar lebar, suara menggelegar, lampu dimatikan, udara didinginkan), trainer sedang memanipulasi psikologis peserta melalui sebuah kisah “Suara Hati”. Mengapa saya sebut manipulasi? Karena berbagai pengondisian dan kisah tersebut sesungguhnya sekedar simulasi dari peristiwa tertentu. Artinya, peserta sedang tidak melakukan penghayatan spiritual, melainkan sedang masuk dalam simulasi spiritualitas.

Menjadi terlihat jelas ketika kita bandingkan dengan aktivitas-aktivitas thoriqot yang benar-benar dan rill melakukan penghayatan spiritual. Posisi mursyid, bukan sebagai simulator, manipulator, atau stimulator dari aktivitas spiritual (misal, wirid atau dzikir) melainkan sebagai pemimpin dari proses atau aktivitas tersebut. Sedangkan posisi trainer pada training ESQ sebatas pada simulator, manipulator, atau stimulator dzikir Asmaul Husna, perenungan melalui kisah “Suara Hati”, dan sebagainya.

Ketiga, banyak strecthing (penekanan psikologis) yang dilakukan oleh trainer dengan intonasi tinggi, seperti hardikan, pertanyaan, atau pernyataan. Saat itu, latar belakang musik juga meninggi bahkan sampai seperti gemuruh halilintar atau kekacauan alam. Kemudian, peserta diminta atau disuruh untuk menjawab dengan suara lantang, misal “Allahu Akbar” dan sebagainya.

Proses seperti itu saya sebut dengan “tranz” yang artinya, kondisi peserta sedang ditekan dari berbagai sisi. Dalam keadaan tranz atau ketakstabilan, histeria lahir dengan teriakan-teriakan seperti “Allah”, “Allahu Akbar”, dan sebagainya. Kondisi tranz merupakan pangkal dimana histeria lahir. Sedangkan fenomena histeria seringkali diidap secara massal. Ketika seseorang histeris, misal berteriak “Allahu Akbar”, maka akan diikuti oleh peserta lainnya. Kondisi ini memang berangkat dari alam pra-sadar (atau mungkin bawah sadar) setiap peserta. Yang pasti, saya ingin mengatakan bahwa dalam kondisi tranz, maka sebenarnya perintah apapun akan diamini oleh individu. Ia kosong, dan seperti robot atau zombie yang kehilangan kendali.

Keempat, di akhir sesi (sesi puncak dan sangat menentukan) ada yang namanya katarsis atau pemurnian/ penyucian jiwa. Caranya tidak berbeda jauh dengan strecthing sebelumnya. Hanya saja, intensitasnya semakin dan sangat tinggi. Bahkan sebelum sesi dimulai, trainer menghimbau agar peserta yang sakit jantung, asma berat, darah tinggi, dan sebagainya, tidak mengikuti sesi ini. Bisa dibayangkan strecthing dengan intensitas seperti apa yang akan diterima peserta.

Peserta duduk berpasangan sembari memeluk/ merangkul temannya. Trainer akan menanyakan dua hal, misal, “Apa yang kamu mau?” Pertanyaan ini keluar dengan intonasi tinggi seperti hardikan dengan suara latar seperti gemuruh atau kekacauan alam yang sangat luar biasa bisingnya. Trainer mengharapkan masing-masing peserta menjawab “Allah”. Bila belum sampai jawaban itu, maka pasangannya harus menepuk punggung temannya sampai ia menjawab dengan benar (yakni “Allah”).

Saya menyebut proses itu bukan katarsis melainkan indoktrinasi tauhid. Di akhir sesi, alih-alih setiap peserta masuk pada permenungan yang sejati, justru training dengan judul Kecerdasan Spiritual itu terjebak pada religiusitas. Salah satu bentuk keterjebakan itu yakni bahwa peserta “harus” menjawab dengan benar. Padahal kita ingat, bentuk spiritualitas justru lebih cair dan fleksibel dari agama. Bilamana spiritualitas adalah jalan mengenal dan menuju Tuhan, maka seperti Jalaludin Rumi nyatakan, “Jalan menuju Tuhan sebanyak manusia yang ada di bumi ini”.

Kelima, menurut saya konsep ESQ dalam training tersebut justru memisah-misahkan fungsi IQ, EQ, dan SQ. Saya melihat belum terjadi sinergi antara ketiganya. Dengan “mematikan” fungsi logika (baca: IQ), sejatinya EQ dan SQ berjalan terpisah, bukan bersama-sama. Bandingkan dengan narasi yang saya tulis dalam blog ini dengan judul, “Menangis Karena Jilbab” dan “Miris”. Fungsi IQ, EQ, dan SQ dapat dihadirkan dalam satu kali waktu, yang klimaksnya pembaca melakukan permenungan multi-kecerdasan.

Keenam, konsep leadership (kepemimpinan) dalam training ini meminjam tradisi pragmatisme Amerika dengan how to­-nya. Misal, Fadli Mudaz, trainer saat itu memberikan contoh bagaimana mempengaruhi orang dengan jalan banyak mendengarkan dia bicara. Saat yang bersangkutan bicara, maka anggukkanlah kepala per tiga menit sebagai tanda kita memperhatikan. Selain itu tataplah matanya dengan social sight (yakni tatapan pada tiga titik, alis kanan-kiri dan bawah atau atas hidung). Dengan mendengarkan yang bersangkutan bicara, maka ia akan simpati kepada kita. Setelah selesai, barulah kita nyatakan maksud sesungguhnya, misal “Bolehkah saya meminjam uang?” (Contoh yang diberikan Fadli Mudaz saat itu). Hal semacam ini juga saya saksikan dalam VCD training ESQ bersama Ary Ginanjar A. Trik seperti itu ia lakukan ketika memasarkan safety box pada pimpinan hotel tertentu di Bali. (Bahkan versi Ary Ginanjar menurut saya lebih vulgar dan manipulatif).

Cara-cara seperti inilah yang saya sebut dengan “nalar instrumental” atau “nalar bertujuan”. Di dalamnya tidak ada ketulusan. Semuanya sebatas basa-basi atau hanya akal-akalan belaka dalam rangka menarik perhatian orang atau ngrogoh atine wong (mendapatkan hatinya). Selebihnya, kepentingan kita merupakan tujuan yang dengan berbagai cara harus direalisasikan. (Manipulasi seperti ini hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Iip Wijayanto dalam riset lapangannya, baca “Sex in The Kost” dalam blog ini).

Ketujuh, trainer adalah manipulator handal. Misal, satu waktu suaranya datar, beberapa menit kemudian merendah bahkan seperti orang menangis. Di lain menit, suaranya keras sampai seperti hardikan. Tindakan seperti ini berlangsung banyak kali dalam dua hari training. Ia menangis, sembari memegang mikropon, mengatur panel latar belakang suara dan laptop dan sebagainya. Apakah mungkin kalau tangisnya adalah tulus dimana pada saat bersamaan ia bisa merubah intonasi dan keadaan? Tidak ada ketulusan. Semuanya hanya simulasi. Dan simulasi bukanlah kenyataan. Simulasi hanyalah seolah-olah.

Kedelapan, saya baru tahu kalau biaya training saat itu adalah satu juta rupiah. Saya ketahui saat akhir kegiatan dimana seorang ibu guru SD Kec. Rawalo memberikan testimoninya di depan forum. Ia berujar bahwa tidak akan mungkin ia bisa mengikuti training kalau tidak dibantu anak-anaknya (baca: siswa-siswinya) melalui kas sekolah. Dan benar, seluruh peserta saat itu adalah delegasi lembaga. Yang artinya, ia tidak membayar dari kantong pribadi melainkan ditanggung masing-masing instansinya. Pertanyaannya, adakah yang mau ikut training semahal itu dalam rangka memperoleh kesalehan ESQ melalui kantong pribadi? Mungkin ada, bilamana ia termasuk golongan kaya raya.

Kesembilan, di ruang lobi panitia menjual berbagai pernak-pernik. Misal, buku-buku karya Ary Ginanjar yang tidak terlalu tebal (80-120 halaman) dengan harga di atas Rp. 20.000. Saya peroleh buku itu gratis karena menjawab dengan benar pertanyaan trainer. Setelah saya baca, secara substansi kalah jauh dengan buku-buku karya Cak Nun, Gus Mus, Cak Nur, dan sebagainya. Ada juga VCD Asmaul Husna yang harganya 20-25.000 yang isinya biasa saja. Ada juga pin 165, sekecil pin Korpri berwarna keemasan, harganya Rp. 35.000. Ada juga boneka Zero, kalau tidak salah Rp. 50.000. Kaos, jaket, topi dan lain sebagainya serba 165 yang tentu saja harganya sangat kompetitif.

Berbagai barang tersebut meski menurut saya mahal, masih wajar saja. Namun ada yang membuat saya miris. Di sesi terakhir semua peserta diajak foto bersama. Awalnya saya kira foto tersebut akan dicetak dan dibagikan sebagai kenang-kenangan. Namun ternyata, foto tersebut dijual dengan harga Rp. 35.000 ukuran A4. Seorang bapak, karyawan SMA 1 Purwokerto, awalnya ingin membeli. Namun ia mengurungkan niatnya karena teringat uang saku sekolah anaknya. Padahal, di luar sana, cetak foto melalui printer hanya dijual Rp. 5000 ukuran A4.

Berbagai biaya dan perolehan kegiatan training tentu saja akan masuk ke ESQ pusat di Jakarta. Sedangkan publik tak pernah tahu untuk apa hasil dari penjualan itu. Namun yang jelas, ESQ training center memilih bangun organisasi berupa Perseroan Terbatas (PT), bukan Yayasan, Koperasi, LSM, atau lainnya. Dan kita tahu PT merupakan bangun organisasi yang bertujuan semata mencari keuntungan (profit oriented). Dalam konteks itulah, saya sebut training ini sebagai bisnis atau komersialisasi spiritualitas. Bahkan sejatinya bukan spiritualitas, melainkan agama.

Demikian keberatan-kebaratan saya yang semakin kukuh dan bertambah banyak setelah mengikuti training ESQ. Kepada Sdr. Rizki, Ibu Nuniek (ESQ Representative Banyumas), dan Ibu Anie (ESQ Representative Banyumas) saya haturkan terima kasih. Kepada pembaca, saya minta urun-rembugnya. []

__________________
Note: banyak teman yang bertanya apakah saya menangis dan histeris saat training tersebut? Sama sekali saya tidak menangis atau histeris. Hanya pada titik-titik tertentu saya merinding ketika mendengar senandung Hadad Alwi dan sholawat Nabi. Dan pada titik-titik lain, justru saya merasa geli ketika mendengar teriakan dan histeria beberapa peserta. Perasan seperti ini juga dialami oleh peserta lain. Sebut saja Bapak NH, dosen Fak. Peternakan, Sdr. S dan Y, karyawan SMA 1 Purwokerto, dan beberapa guru dan dosen lainnya. Meski demikian saya tetap merasa senang ikut training ini, sekurang-kurangnya saya memperoleh empat sampai lima teman baru.

Tulisan ini juga dimuat pada www.we-press.com
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 comments :

Anonim mengatakan...

saya pikir dalam training ESQ, beberapa hal memang terlihat seperti itu. saya memang merasa didoktrinasi, didominasi oleh sang trainer, jujur, saya acapkali menangis sampai meneteskan air mata, sampai mata saya sembam panas, dan pedas. sejauh ini baru itu yang bisa saya postkan….maturnuwun

oleh mashamori said in December 12th, 2008 at 3:10 am, memberikan komentar pada situs www.we-press.com

Fitriani, Ambar mengatakan...

goal dari training itu bukan sekedar tangisan, mau nangis mau engga itu bukan masalah, yg jelas.. manfaat dan ilmu yg bs kita ambil dari training itu. Bagi yg tidak bisa ambil manfaat atau ilmunya ya mungkin memang belum dibukakan jalan ilmunya oleh Alloh, bisa jadi karena memang sudah terlalu "pintar". Wallahu a'lam.

DulHaM mengatakan...

saya sayang kepada anda. karenanya sy sarankan anda istighfar. kesan saya anda terlalu suka menceritakan keburukan dan kejelkan orng/lembaga. kalau anda merasa lebih cerdas seharusnya lebih bijak menilai. tapi sy salut anda sdh komentar. saya hanya tdk yakin kalau perasaan anda (kalau sempat merasakan, krn ada juga tipe peserta yg cuma hadir fisiknya dan hatinya penuh belenggu) tidak sama dgn apa yang dirasakan oleh peserta yg lain. trm kasih dan maaf ya. semoga Allah mengampuni kita semua. syukron

el-ferda mengatakan...

terima kasih pada sidang pembaca yang telah memberi komentar. cuma ada satu masalah, beberapa kali, 5-6 kali saya menerima komentar menurut saya out of context dari diskusi kita. misal, "Anda terlalu picik, mata hati Anda sudah tumpul, Anda tidak bijaksana, Anda terbelenggu," dan sebagainya. saya merasa terganggu, meskipun saya tidak terlalu mempermasalahkan berbagai klaim itu.

yang saya permasalahkan bagaimana para pembaca memberi komentar secara rasional dan argumentatif pada beberapa poin yang saya kritik. alih-alih memberi komentar demikian, justru yang ada hanya berbagai klaim yang menyerang saya secara personal.

jadi agar diskusi kita lebih menarik, marilah kita arahkan ke substansi masalah; misal pendanaan training ESQ, setting psikologis training, konsep kepemimpinannya, peran dan fungsi traininer, dan sebagainya.

saya jelas-jelas menaruh keberatan. sayangnya sampai sekarang belum ada yang memberi komentar secara mencukupi. ke depan saya harap lebih bisa argumentatif, bukan sekedar klaim yang sebenarnya, saya, Anda, dan lain sebagainya tak akan pernah tahu apa-apa yang saya pikirkan atau bahkan saya yakini.

sampai titik itu, saya rasa dialog hanya pada dataran konseptual+praktik training. terkait masalah hati, picik, dan sebagainya, biar Tuhan yang menilai. toh Anda tak tahu suara hati saya yang sebenarnya. demikian.

nuwun.

aR_eRos mengatakan...

selamat ya atas kemenangan di ourfriend kapanlagi.com
oia sebelumnya salam kenal *salaman*

Erwein mengatakan...

Artikelnya bagus mas, selamat ya dah menang kontes... N salam kenal.. :D

Anton mengatakan...

Salam kenal
Selamat udah menang juga di Ourfriend-nya KapanLagi.com.

eko mengatakan...

pemikirannya dahsyat tuh mas, tapi mungkin caranya aja nih hehe. Kalau kita sudah punya wisdom, maka kalau kita menyampaikan sesuatu yang baik dengan cara yang tepat, maka hasilnya adalah kebaikan berlipat-lipat. tapi kalau caranya kurang tepat, pemikiran yang unggul itu pun mungkin malah bisa bikin orang marah, hehe. ilmu sufinya mesti dipraktekin nih. tapi dari tulisan ini saya bisa melihat ketinggian ilmu anda, salut. sekarang mari kita sama-sama tunjukkan ketinggian hati kita. jangan marah ya. salam. el.