Sex in the Kost


Oleh: Firdaus Putra A.

Sebenarnya saya sudah tidak terlalu tertarik dengan buku karya Iip Wijayanto ini. Saya menjadi teringat lagi saat masuk ke kamar teman kos dan mendapati buku itu. Secara umum buku yang sempat booming tahun 2003 ini menyuguhkan realitas seks bebas dan seks pra nikah yang dilakukan mahasiswa (kos) di Yogyakarta. Buku ini lahir dari proses penelitian melalui metode wawancara dan obrservasi lapangan.

Nah, komentar saya akan lebih masuk pada konteks proses penelitian tersebut. Pasalnya, dalam bukunya, Iip juga menyajikan bagaimana jalannya penelitian bahkan sampai transkip wawancara bersama informan. Dibantu dengan berbagai data dan literatur, mulai halaman 47 sampai 106, penulis mendeskripsikan bagaimana realitas seks mahasiswa dan proses penelitian untuk mengetahui masalah tersebut. Khususnya pada halaman 66 sampai 99, transkip wawancara tersaji sebagai data lapangan.

Sebenarnya saya tidak mempunyai keberatan dengan hasil wawancara tersebut. Mengingat, apapun hasilnya, toh itu semua adalah realitas yang terjadi di lapangan. Perlu sikap jujur untuk mengakui dan memahami bahwa nilai dan norma bahkan standar moral di masyarakat sudah mengalami pergeseran. Langkah-langkah penganggulangan dan lain sebagainya tentu saja menjadi agenda yang bisa diusulkan kepada pihak-pihak yang berkompeten.

Dengan membaca proses wawancara bersama informan, ada enam kali wawancara yang dilaksanakan pada 3 – 4 April 2002, kita bisa melihat sudut pandang peneliti atau penulis. Untuk mengetahui sudut pandang peneliti atau penulis, kita perlu jeli membaca transkip wawancara tersebut. Mengingat, tanda-tanda non-verbal sebenarnya lebih mampu menggambarkan bagaimana sudut pandang peneliti atau penulis daripada pernyataan-pernyataan resminya dalam bahasa verbal.

Untuk mengetahui lebih jauh, saya akan kutipkan hasil wawancara peneliti dengan informan yang berinisial “Re”. Wawancara itu berlangsung pada 3 April 2002 pukul 13.20 di kos “Re”, halaman 73-77, sebagai berikut;

(Sa/Peneliti) : Sudah kuat bangetlah ya cintanya? Terus rencananya mau serius ndak nih?
(Re/Informan) : Nah itulah masalahnya. Mas-ku kan dari luar Jawa. Ortu paling
anti sama orang dari sana. Entahlah gimana nanti aja..!
(Sa) : Sudah pernah nyoba mempertemukan orangtua dengan dia?
(Re) : Sering. Malah Masku udah dua kali ke rumah pas liburan. Kalo
bapak sih agak lumayan, tapi ibu ... bener-bener antipati!
(Sa) : Sudah ketemu kira-kira solusinya seperti apa?
(Re) : Belum. Bingung banget kok Mas. Biarin deh yang penting kuliahku
ama masku dah selesai dulu... entar nekatin aja. Tapi yang pasti
aku udah ndak mungkin lagi putus ama masku!
(Sa) : Kenapa begitu? Mosok gara-gara cowok kamu tega nyakitin orang
tua?
(Re) : (Terdiam ...)
(Sa) : (Kami pun menahan nafas dan tidak berusaha menambah pertanyaan
baru, karena biasanya pasca fase ini akan keluar banyak info
menarik. Siap-siap berempati saja. Saya melirik ke arah
volunteer. Dia yang paling jago nangis dan sentimentil di antara
kami. Dia pun mengangguk pelan, dan tahu apa yang saya maksudkan
... begitu responden menangis, maka menangislah bareng, (deepth
emphatic interview).
(Sa) : Aku udah pernah ... gituan dengan Masku! (Suaranya lirih tapi
terdengar cukup jelas).
(Sa) : (Pada fase ini, terlarang bagi pewawancara masuk kepada
pertanyaan yang sifatnya punishment walaupun untuk alasan
ketegasan statement sekalipun, lebih baik mengajukan pertanyaan
yang terlihat lugu) Tapi kan ndak sampai dimasukin?
(Re) : Yaa begitu, seperti suami istri Mas!
(Sa) : Astaghfirullah ... (Saya pura-pura kaget, sementara responden
menunduk dalam-dalam, belum telihat ekspresinya. Apakah menyesal
atau tidak), Tapi tidak seringkan?
(Re) : (Menghela nafas) ... Sebulan lebih tiga kali-an Mas!
(Sa) : (Saya memberikan jeda waktu sejenak, biar terasa dramatis) Pernah
telah haid? (Saya memberikan tekanan berat pada akhir
pertanyaan).
(Re) : Belum ...!
(Sa) : Pernah ada rasa bersalah tidak?
(Re) : Awalnya Mas ... kalo sekarang aku udah nganggap Masku ya udah
suamiku!
(Sa) : Mungkin pernah kepikir tentang dosa?
(Re) : Aah ... udah, aku udah capek dan ndak peduli ama itu semua.
Buktinya ortuku yang kelihatan alim, tapi tetap ndak adil sama
Masku! (jawabnya emosional)
(Sa) : (Dan bagi saya, inilah saat untuk mengakhiri wawancara) Oke ...
tapi ndak ada salahnya mencoba berdoa agar orangtua dapat terbuka
hatinya perlahan-lahan (Saya menatap ke wajahnya, terlihat
masygul ... tapi tidak ada guratan rasa bersalah sedikit pun, dan
terus terang saja, saya jadi mual melihat orang-orang yang
sombong kepada Tuhan). Oke, begitu dulu, nanti kalau kita butuh
info tambahan masih bersedia ya?
(Re) : (Mengangguk dengan sedikit ragu, tapi bagi saya itu adalah
jawaban tegas untuk segera pamit secepatnya).

Dari kutipan panjang di atas kita bisa mengetahui sudut pandang serta sikap peneliti dan hubungan peneliti dengan informan. Saya juga merasa—meminjam bahasa Iip Wijayanto—mual melihat orang-orang yang sombong. Dan jujur, saya mual membaca proses wawancara yang dilakukan Iip. Bukan pada titik masalah itu terjadi di lapangan, melainkan Iip secara sadar dan sistematis memanipulasi proses wawancara. Iip, begitu rupa melakukan dramatisasi yang tentu saja tidak berangkat dari ketulusan hati.

Usaha manipulasi ini sangat terlihat pada “Kami pun menahan nafas dan tidak berusaha menambah pertanyaan baru, karena biasanya pasca fase ini akan keluar banyak info menarik. Siap-siap berempati saja. Saya melirik ke arah volunteer. Dia yang paling jago nangis dan sentimentil di antara kami. Dia pun mengangguk pelan, dan tahu apa yang saya maksudkan ... begitu responden menangis, maka menangislah bareng, (deepth emphatic interview)”. Ia dengan secara sadar menempatkan volunteer atau orang tertentu yang “berpura-pura empati” untuk menangis. Sudut pandang ini menggambarkan kalau Iip memposisikan “Re” lebih sebagai obyek atau benda yang karena “kesalahannya” yakni melakukan seks pra nikah, tidak perlu untuk dihormati atau dihargai.

Dalam benaknya, Iip hanya mengejar data yang dengan berbagai cara ia upayakan. Meskipun ia harus mencederai nilai-nilai kemanusiaan bahkan perasaan manusia. Dalam kasus ini, saya melihat Iip tak ubahnya sedang memposisikan “Re” sebagai anak tangga yang digunakan untuk merintis karir. Sebenarnya terlalu berlebihan kalau ia sebut proses yang dijalaninya dengan deepth emphatic interview. Karena pada dasarnya sikap empati tumbuh atau lahir secara tulus dan spontan. Bukan sebuah sikap yang diada-adakan, didramatisasi, atau dimanipulasi sedemikian rupa.

Persoalannya, Iip mungkin sudah kadung jijik melihat sosok “Re” yang berbicara di depannya. Sehingga baginya, proses manipulasi dan dramatisasi bukan merupakan “dosa”. Ia kadung merasa “suci” yang dengan mudahnya mencibir, sinis, dan mencederai kemanusiaan “Re”.

Lihatlah juga paradoks yang ia bangun secara tak sadar dalam proses wawancara itu, “Pada fase ini, terlarang bagi pewawancara masuk kepada pertanyaan yang sifatnya punishment walaupun untuk alasan ketegasan statement sekalipun, lebih baik mengajukan pertanyaan yang terlihat lugu.” Awalnya mungkin ia mencoba untuk bijak dalam bersikap, yakni dengan jalan tidak memberikan punishment kepada “Re”. Namun kita simak proses selanjutnya, setelah “Re” mengatakan, “Yaa begitu, seperti suami istri Mas!”, Iip dengan sadar justru berujar, “Astaghfirullah” yang dengan ringannya menulis situasi dirinya saat itu, “Saya pura-pura kaget, sementara responden menunduk dalam-dalam, belum telihat ekspresinya”.

Hal ini menjadi paradoks bilamana dirinya seorang saleh dan alim. Ketulusan hilang, bahkan sampai hati melafalkan, “Astaghfirullah” dalam konteks pura-pura kaget. Selain itu, pelafalan sengaja lafadl “Astaghfirullah” sebenarnya merupakan (undirectly) punishment yang ia tolak dalam bangun pemikirannya, “Pada fase ini, terlarang bagi pewawancara masuk kepada pertanyaan yang sifatnya punishment”.

Poin selanjutnya, Iip terlalu sombong untuk menghukumi “Re” dengan pernyataan, “Saya menatap ke wajahnya, terlihat masygul ... tapi tidak ada guratan rasa bersalah sedikit pun, dan terus terang saja, saya jadi mual melihat orang-orang yang sombong kepada Tuhan.” Dalam konteks ini ia seakan-akan menempatkan dirinya sebagai hakim moral yang dengan ringannya memutus kasus hukum tertentu.

Terakhir, mungkin karena merasa diri saleh dan alim, entah ia pikir secara mendalam atau tidak, dengan gegabahnya Iip menyisipi transkip wawancara tersebut dengan berbagai ilustrasi manipulasi situasi yang dilakukan dirinya beserta tim. Kita bisa membayangkan perasaan seperti apa yang dialami “Re” ketika membaca buku ini dan menemukan tips dan trik dibalik proses wawancara tersebut.

Pertama, ia akan merasa muak dengan Iip. Pasalnya, semua yang ia lakukan di depan “Re” hanyalah basa-basi, bohong-bohongan dan sandiwara saja. “Re” nampak sedang dieksploitasi dengan berbagai sandiwara tersebut agar data bisa diperoleh. Lebih jauh, “Re” mungkin akan merasa kalau dirinya memang pantas untuk dihina-dinakan, yang tidak tanggung-tanggung, melalui sebuah buku.

Kedua, “Re” akan semakin antipati terhadap pejuang-pejuang moral seperti Iip. Ia merasa dirinya sangat kotor dan tak pantas lagi menerima perkenan Tuhan. Dalam konteks dakwah, apa yang dikembangkan Iip adalah tindakan dan sikap yang kontra-produktif. Pasalnya, dakwah yang ia kembangkan lebih bersifat, meminjam bahasa Mahfuddin, M.Ag., Dosen STAIN Purwokerto, “dakwah yang ngantemi/ mukuli orang”.

Sikap Iip justru membuat “Re” secara sistematis menjauhi nilai, norma, bahkan agama. Punishment hitam-putih a la ahlu fiqh yang Iip terapkan memperkecil kemungkinan “Re” kembali ke fitrahnya. Iip mungkin lupa dengan kisah-kisah Sufisme yang begitu rupa menebar cinta kasih pada sesama.

Di halaman 204, versi penerbit Tinta, cetakan keempat tahun 2004, terpampang foto Iip Wijayanto mengenakan pakaian Muslim dengan di kepalanya menggunakan kopyah bersorban. Di bawah foto itu tercetak tegas, “The New Prince of Morality on Asia”. Melihat foto dengan catatan di bawahnya, menurut saya tepat untuk sekali lagi meminjam bahasa Pangeran Baru Moralitas di Asia itu, “Saya mual melihat orang-orang yang sombong...” Bagaimana dengan Anda? []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments :

Arato Harunobu mengatakan...

Baru tau kalo ternyata isi penggalan bukunya kayak begitu >:(

Bukannya membela orang-orang yang seperti "Re" ato Iip ini,tapi kenapa ga membiarkan mereka nemuin apa-apa yang udah mereka lakuin selama ini dengan sendirinya aja?