Ketaksantunan


Oleh: Firdaus Putra A.

“Ka fir, gmn kbr? Denger2 msh nimbrung aja sm urusan kmpus.. Hehe gak inget umur bang? Kalah dkandang sndr kok ngusik2 kndang orang.. Malu dong bang!:-P”
, pengirim 085282294028. Pesan pendek itu dikirim oleh seorang kawan yang nota benenya aktivis kampus dan pernah menjabat sebagai ketua ormas Islam tertentu di Purwokerto.

Ada yang janggal dari pesan pendek yang saya terima pada 12 November, pukul 09:48 lalu. Dalam perjumpaan keseharian, meskipun kami jarang berjumpa, kawan tersebut jarang menyapa saya dengan, “Kak, Mas, Bang” atau sejenisnya. Hal ini lumrah karena kami berada dalam satu level masa. Usia kami pun tak terpaut jauh. Dalam perjumpaan langsung atau pesan pendek, biasanya kawan tersebut hanya menyapa saya dengan, “Us”, kependekan dari “Firdaus atau Daus”.

Nah, kalimat pesan pendek yang tidak seperti biasanya itu membuat saya khawatir. Pertama, kalau kata “Ka fir” (dengan spasi) dimaksudkan untuk mendekati kata “Kafir” (tanpa spasi). Karena dengan spasi atau tidak, dua kata itu terdengar sama dalam pelafalannya. Dugaan ini menjadi kuat saat saya ingat bahwa kawan tersebut jarang menyapa dengan “Kak, Mas, Bang” dan sebagainya.

Seumpama dugaan ini memang benar, saya semakin tersenyum kecut melihat gelagat kawan tersebut yang nota benenya seorang yang saleh. Saya yakin, kawan tersebut sudah banyak membaca ayat Quran sebagai kitab sucinya. Dan di sana bisa kita temukan ayat yang menyinggung bahwa tidak dibenarkan seorang Muslim untuk memanggil atau menuduh orang dengan panggilan atau tuduhan buruk. Mengingat sejatinya segala panggilan atau tuduhan buruk itu akan kembali kepada diri si pemanggil atau penuduh. Saya kutipkan terjemah serta tafsirnya surat Al Hujurat ayat 11, sebagai berikut;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri [1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”.

Dengan beberapa tafsir sebagai qarinah atau penjelas sebagai berikut;
“[1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. [1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya”.
Kedua, saya khawatir kalau pesan pendek yang emosional itu berangkat dari ketakmampuan untuk berkomunikasi. Atau memang, pada dasarnya pesan pendek tersebut merupakan intrik politik yang ditujukan ke saya terkait dengan aktivitas saya selama ini. Kalau memang pesan itu merupakan intrik politik, saya justru menyayangkan hilangnya sikap santun dalam berkomunikasi. Atau justru saya terlalu berlebihan dengan berharap adanya intrik politik yang santun.

Ketidaksantunan merupakan cermin dari ketakmampuan untuk mengendalikan diri. Dan ketakmampuan mengendalikan diri tersebut merupakan cermin dari kekalahan psikologis seseorang. Dan itu menjadi nyambung dengan melihat kalimat selanjutnya, “Denger2 msh nimbrung aja sm urusan kmpus.. Hehe gak inget umur bang?”, mungkin kawan tersebut merasa kecolongan karena sudah tak lagi muncul di kampus.

Ketiga, intrik politik bisa terjadi karena rendahnya tradisi argumentasi. Hal serupa hampir sama dengan apa yang dialami beberapa kawan saya yang menerima isu tak sedap. Misal, “Hati-hati dengan golongan kiri dan liberal!” atau “Awas, demokrasi itu dekat dengan JIL!” lagi “Dia itu Islam liberal. Jangan dekat-dekat!”. Pernyataan-pernyataan semacam itu tentu saja tidak didasari melalui penalaran rasional yang mengedepankan kemampuan menyusun argumentasi. Tuduhan-tuduhan semacam itu tentu saja sangat aneh dan lucu. Mengingat, saya rasa si penuduh belum pernah tahu term “kiri” atau “liberal”.

Keempat, saya miris melihat realitas seperti ini. Pasalnya, realitas ini terjadi di kampus dalam konteks politik kampus. Tentu saja, politik kampus tidak seperti politik praktis senyatanya. Ia lebih mengedepankan nilai-nilai prinsip atau etis sebagai basis perjuangan. Dan tentu saja, politik kampus lebih menyoal bagaimana merealisasikan peran lembaga kampus agar efektif, transformatif dan jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi.

Namun kenyataannya, dunia politik kampus hampir senada dengan politik praktis senyatanya. Etika diabaikan. Apapun jalannya, meski mencederai kesantunan, bolehlah dilakukan sepanjang tujuan tercapai. Alhasil, politik kampus menjadi miniatur politik praktis senyatanya dan tiada berbeda keduanya.

Terakhir, saya belum membalas pesan pendek tersebut lantaran ketiadaan pulsa. Saya berfikir lebih baik membalasnya dengan tulisan panjang ini daripada terlibat tuduh-menuduh yang kurang santun dan kurang dewasa. []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

7 comments :

el-ferda mengatakan...

Malam pukul 7an, teman tersebut mengirim pesan lagi, "Kemenangan itu milik Allah, dan diberikanNya kpd siapa yg ia kehendaki. Liyuhiqqal haqqo wa yubthilal bathila walawkarihal mujrimuun.. (Q.s. 8:8)" Saya search di Quran Digital, surat al Anfaal ayat 8, terjemahnya, "Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya".

Kemudian saya balas pesan dia, "Oh iya, walaukarihal mujrimuun, semoga bukan saya atau kamu ya. dah baca tulisan saya ya?" Maksudnya semoga saya atau dia bukan termasuk "orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya".

Setelah pesan itu, yang bersangkutan belum membalas lagi. Entah apa yang ia maksudkan dengan kutipan QS. 8:8 itu. Apakah sebuah judgment? Atau lainnya?

yang jelas saya berharap agar yang bersangkutan memberi komentar secara jelas maksud pesan-pesan dia.

yon's revolta mengatakan...

lagi sensitif neh ceritanya he heda

Rizky Sang Pembaharu mengatakan...

saya memilih untuk berhati-hati bila menggunakan ayat Al Quran dalam sms, apalagi untuk pemaknaan yang ambigu,

tito mengatakan...

bang fir.. boleh manggil bang kan? hehe.. bang, intrik dalam politik udah biasa, meskipun hal yang abang alami ga bisa dianggap suatu kewajaran.
tak usah terlalu diperdulikan, biarkan mereka larut dalam sangkar pikiran mereka. hidup liberal, hidup kiri, tapi lebih hidup lagi posmo..haha..

Ajaran mengatakan...

Saya tetap menekankan agar kita membangkitkan lagi kearifan lokal dalam menanggapi pro-kontra akidah ini.
Sekali lagi, ini Indonesia bukan Arab, budaya dan norma disini jangan dirusak oleh Arabian

biangkerok mengatakan...

udahlah us... mending kita berenang lagi... apa perlu nomer itu gwe kirim sms ajakan renang? hahahaha....



=dayz vs. wepress=

el-ferda mengatakan...

Tanggal 22 Nov, Agung Mahdi mengirim SMS lagi, "Innallaha maashobirin.. Sabar ya ats segala ujian yang menimpa!" Saya balas SMS itu dengan, "Nah gitu dong gung, mendoakan bagi yang lain. Memang benar aku lagi banyak aktivitas; Profetika, We-press, skripsi, ngurus kos, dan ngurus bebrapa teman yang usil. hehehe. Daus".

Dia membalas lagi, "Tp, aq g bs bntu bnyak Us! Maslahnya kkalahan yg mnimpa km itu meragukan utk dibilang ujian. Kalo ujian km mmang hrs brsabar, tp kalo malapetaka km hrs TOBAT! :-)"

Nampaknya Agung Mahdi, mahasiswa Manajemen Fak. Ekonomi 2004, tak jera juga untuk mengumbar intrik politik. Meskipun, di awal saya sudah mempublikasikan SMS-nya di blog ini. Ia tidak sampai berfikir kalau tujuan membuka masalah ini di ruang publik agar terjadi refleksi diri dan kontrol sosial. Masih saja sama, ia begitu rupa tak mampu menjaga lidahnya.

Dan ironisnya, orang-orang seperti dia senang sekali memerankan diri sebagai hakim yang penghukum. Lihatlah, "Maslahnya kkalahan yg mnimpa km itu meragukan utk dibilang ujian. Kalo ujian km mmang hrs brsabar, tp kalo malapetaka km hrs TOBAT!" Dengan ringannya ia menyuruh saya untuk bertobat, atas apa yang tidak ia jelaskan.

So, kayaknya bener seperti Biangkerok, kapan-kapan ajak saja Agung ke kolam renang. Biar bisa bermain air, sehingga jalinan persahabatan mengalir bagai air. Tidak kolot, kaku, bahkan mencari-cari masalah.