Selasa, 21 Oktober 2008

One Comment

Oleh: Firdaus Putra A.

Seberkas cahaya yang terpantul dan fokus pada satu titik kita kenali sebagai cahaya konvergen. Sedangkan yang terpantul dan bias atau menyebar ke segala arah, berpola divergen. Pola berfikir juga mirip dengan itu. Bilamana ia fokus hanya pada satu titik (perspektif) maka ia berpola konvergen. Sebaliknya, bila ia menyebar (meluas) dan multi perspektif, maka divergen.

Dalam tradisi penulisan ilmiah, pola berfikir konvergen lebih umum digunakan daripada divergen. Pola berfikir konvergen ini bisa berangkat dari deduksi pun induksi. Yang pertama yakni berangkat dari sebuah teori dan dalam rangka menguji teori. Sedangkan yang kedua, berangkat dari lapangan (realitas) kemudian diteorikan. Potensi divergenitas dapat muncul dalam kerangka induksi. Namun biasanya, mengingat penelusuran lapangan juga berangkat dari kerangka teori yang ketat, potensi itu menjadi kecil.

Pada sisi lain, pola berfikir divergen lebih sering dijumpai dalam dunia sastra. Sebagai contoh sederhana, lihatlah novel Saman dan Larung karangan Ayu Utami, Supernova milik Dewi Lestari, dan semacamnya. Berbagai macam perspektif muncul dalam satu tulisan.

Pola berfikir konvergen membutuhkan sistematisasi yang ketat. Misal, ia harus runtut dari masalah umum ke khusus atau sebaliknya, dari khusus ke umum. Sistematisasi ini yang pada gilirannya menggiring kita untuk membuat kesimpulan yang ketat juga.

Sedangkan pola berfikir divergen membutuhkan kemampuan analisis lintas disiplin. Ia tak harus runtut dari umum ke khusus atau khusus ke umum. Yang ia perlukan adalah multi perspektif. Biasanya pola berfikir divergen juga muncul pada aktivitas-aktivitas kreatif pada seni, arsitektur, desain grafis dan lain-lain.

Mengingat pola berfikir konvergen merupakan cara berfikir yang sistematis, maka ia lebih cenderung “tertutup”. Artinya, di dalam pola ini terdapat koridor yang harus dilalui. Bilamana tidak, kesimpulan yang disusun memungkinkan tidak valid. Berbeda dengan itu, divergen lebih cenderung “terbuka”. Artinya, ia membuka peluang bagi banyak koridor untuk dilewati.

Baik pola berfikir konvergen pun divergen, keduanya dibutuhkan oleh manusia. Pada titik-titik tertentu kita akan menggunakan pola konvergen. Dan sangat mungkin, pada titik yang lain kita berpola divergen.

Yang perlu kita jauhi adalah menisbahkan bahwa pola berfikir satu lebih penting daripada yang lain; bahwa konvergen lebih penting dari divergen atau sebaliknya. Baik konvergen atau divergen keduanya setara. []

1 comments:

Wida Kurnia mengatakan...

Thx bro nice share

 
Toggle Footer