Penjara Bahasa


Oleh: Firdaus Putra A.

Lambat laun saya mulai menyadari mengapa kalangan eksistensialis-fenomenologis dan aliran pemikiran seframe lainnya, tidak terlalu suka dengan struktur. Bahkan, sampai titik tertentu membencinya. Struktur merupakan manifestasi dari segala tata aturan yang muncul di masyarakat. Awalnya memang sekedar pola (pattern), namun setelah terpolakan, semuanya berubah menjadi kerangkeng yang tak membebaskan.

Jujur, saya kadang iri menengok beberapa blog yang ditampilkan sesepontan mungkin oleh pengelolanya. Dengan bahasa keseharian yang benar-benar mengekspresikan situasi psikologis yang melingkupinya. Dengan candaan, cacian, atau perkataan yang ringan, nyentak, atau bahkan memerahkan telinga. Namun, merekalah para blogger yang menemukan kebebasan itu. Tidak perlu capai untuk berkaidah baku, ber-EYD, dan turut langkah dengan bahasa baku lainnya.

Memang, saya sering menulis narasi kecil tentang kehidupan atau lingkungan yang saya alami. Bedanya, tulisan saya tidak sebegitu mengalirnya, tidak sebegitu bebasnya ketika bercerita tentang apapun itu. Ada kerangkeng bahasa yang selalu saja membuat saya berbaku-baku ria.

Kadang saya ingin sesekali waktu keluar dari struktur itu. Dengan menuliskan sesuatu yang benar-benar popular, benar-benar spontan. Entah candaan, cacian, atau apapun itu. Namun, saya tak bisa. Saya membayangkan bahwa rumah maya (blog) saya akan runtuh dengan memuat tulisan seperti itu. Rumah yang saya bangun dengan batu bata konsistensi nalar, analisis yang meskipun tak terlalu dalam, juga gaya bahasa yang cukup baku.

Seorang teman memberi masukan, bagaimana kalau saya membangun rumah yang lain, yang sama sekali berbeda dengan Mengintip Dunia. Sebuah rumah isinya tentang hal-hal yang spontan, dengan gaya bahasa yang spontan, dan seterusnya. Bagus juga usul itu. Sayangnya, saya ragu kalau saya bisa membangunnya.

Saya pernah berfikir, jangan-jangan komputer off line dimana tulisan-tulisan saya produksi, merupakan penyebabnya. Dalam komputer off line saya menyiapkan sekelumit tulisan sebelum saya bawa (rilis) ke publik. Komputer off line bisa jadi—meminjam analisis Goffman, lagi-lagi memakai teori—panggung belakang saya. Sedangkan Mengintip Dunia, merupakan front page atau panggung depan dimana selepas siap, saya akan beraksi, menampilkan diri, dan menjadi seorang Firdaus yang elegan, analitis, dan bla bla bla.

Acap kali saya merasa kehilangan rasa spontanitas. Acap kali saya merasa hidup di belakang struktur yang ketat. Meski, saya merasa kadang kurang nyaman. Untuk berbaik-baik hati memilih susunan frasa yang tepat. Atau memilih kata (diksi) yang pantas dikonsumsi pembaca Mengintip Dunia. Ah, semuanya sungguh melelahkan.

Ingin rasanya saya memiliki Avatar, berganti dari satu alter ego ke alter ego yang lain. Berganti dari satu pribadi ke pribadi yang lain. Sekedar mencicipi, bagaimana rasanya menjadi sosok yang spontan, yang tak terbentur oleh ikatan struktur, sekurang-kurangnya struktur bahasa. Lantas apa yang akan terjadi, semisal waktu, Mengintip Dunia versi lain saya rilis, dengan bangunan yang berbeda. Bisa jadi saya akan muncul sebagai manusia yang mengalami keterbelahan pribadi atau berkepribadian ganda, meski hanya dalam bahasa penulisan.

So, my next question, bagaimana kalau memang saya tak pernah mampu untuk melaksanakannya. Bukankah perasaan yang saya alami hanya kemauan, bukan kemampuan? Adakah cara lain untuk saya keluar dari penjara ini? Ah, bullshit semuanya! []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments :

tito mengatakan...

Jadilah manusia yang merdeka. Manusia yang terbebas dari penjara-penjara dunia, temasuk dari penjara bahasa. Bukankah seorang manusia berhak menentukan otonomi pada dirinya sendiri? Artinya manusia juga bebas menggunakan bahasa yang dia inginkan. Membuat diri kita terpenjara dalam suatu stuktur bahasa adalah kesalahan diri kita sendiri. Kita terjebak dengan budaya yang dianut umum, yang belum tentu benar. Bukankah nietzhe adalah seorang yang menggunakan bahasa secara bebas tanpa harus mengikuti tren bahasa yang ada. Namun dari hasil karyanya lahirlah pemikiran-pemikiran besar. Sungguh, tidak terlalu penting bahasa macam apa yang kita gunakan, yang penting adalah isinya. Janganlah kita meniru burung beo, yang suaranya indah namun dia tidak mengerti apa yang diucapkannya.

omoshiroi_ mengatakan...

menurut gw mah bahasa biarlah hanya menjadi media dari apa yang ingin kita sampaikan kepada mahkluk hidup lain (karena gw percaya kita bisa berkomunikasi dengan mahluk hidup yang lain selain manusia dengan bahasa-bahasa yang lain pula). yang penting mah maksudnya nyampe ke lawan komunikasi kita.

Setyo mengatakan...

tapi kadang saya menyukai bahasa seperti ini. Seolah sedang belajar bagaimana agar pikiran kita bisa teratur dalam berfikir. Masing-masing ada dunianya kali :D