Sabtu, 02 Agustus 2008

No Comment

Oleh: Firdaus Putra A.

Praxis, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “praksis.” Kata ini sangat familiran di kalangan pergerakan mahasiswa. Bahkan, kata ini mempunyai makna yang sangat dalam. Secara sederhana “praksis” dapat kita terjemahkan sebagai “berbuat” atau “bertindak.” Sebagian gerakan mahasiswa jutru menghadap-hadapkan antara praksis dengan diskursus (wacana). Tulisan ini ingin menyingkap dua term, praksis dan wacana, yang senantiasa dimaknai secara deterministik oleh pergerakan mahasiswa.

Satu minggu yang lalu saya memperoleh SMS dari seorang teman, Khoirurrizqo, “Selamat, semoga ini menjadi titik perlawanan yang masuk di wilayah praksis. Tidak terus bergelut di wilayah ide.” SMS ini cukup menyentak saya. Sekurang-kurangnya, Khoirurrizqo berangkat dari asumsi bahwa apa-apa yang saya lakukan selama ini menurutnya bukan termasuk praksis.

Sedari awal kuliah memang saya tidak mengafiliasikan diri pada ormas mahasiswa mana pun. Pada tahun 2004, bersama beberapa teman, saya justru membangun lembaga kajian. Lingkar Studi Profetika merupakan ruang pengkajian yang concern pada persoalan sosial keagamaan. Meski demikian, dalam kehidupan kampus, saya sering terlibat dalam setiap aktivitas gerakan mahasiswa. Dalam konteks internal kampus, selama empat tahun berturut-turut saya terlibat dalam Panitia OSPEK yang duduk di Badan Perumus dengan tugas mengonsep rangkaian kegiatan, mulai dari content sampai metodologi. Tidak ketinggalan sudah lima kali saya mengikuti kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang diadakan sekali dalam setahun. Di luar kampus, saya juga aktif dalam beberapa aliansi gerakan. Entah itu berangkat atas nama perorangan atau lembaga LS Profetika.

Pandangan Khoirurrizqo saya sinyalir berangkat dari minat intelektual saya yang lebih tertuju pada Teori Kritik Sosial, epistemologi kritis, dan berbagai perangkat analisis kritis lainnya. Selebihnya, minat saya pada pemikiran Islam, nampaknya membuat Khoirurrizqo gegabah untuk mengklaim bahwa selama ini saya “tidak praksis.”

SMS itu muncul setelah saya mengirim SMS ke beberapa teman gerakan mahasiswa yang isinya bahwa saya sudah mendaftar menjadi anggota koperasi. Proses ini saya maknai sebagai komitmen perlawanan terhadap sistem kapitalisme.

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan. Pertama, bahwa pemaknaan “praksis” teman-teman gerakan mahasiswa saat ini diselimuti oleh determinisme ekonomi-politik Marxian. Sehingga, praksis lebih diartikan sebagai ketika individu secara langsung terlibat di dalam gerakan ekonomi atau politik. Selebihnya, dalam kerangka itu, tentu saja hanya bermain wacana.

Pemaknaan praksis seperti ini tentu saja masih menyisakan masalah. Mengingat, tindakan yang dilakukan individu dapat berdimensi sosial—mempunyai dampak sosial—meskipun hanya sekedar diskursus atau wacana. Makna praksis dalam konteks ini lebih dekat pada tradisi Madzhab Frankfurt sampai Habermas sebagai founder Teori Kritik Generasi Kedua.

Dalam teori tindakan komunikatif, Habermas membalik bangunan logika Marx yang mengatakan bahwa praksis adalah kerja. Kemudian Habermas mengkritik—yang merupakan kelanjutan dari kebuntuan Adorno dan Horkheimer—bahwa praksis adalah tindakan komunikatif. Dalam tindakan komunikatif ini, individu merupakan subyek aktif dari sebuah agenda perubahan sosial.

Ilustrasi sederhananya, apakah kita bisa mengatakan kepada para cendekiawan atau intelektual sosial, bahwa dirinya hanya bermain wacana tanpa melakukan kerja-kerja nyata? Padahal, hasil olah pikir, penelitian, serta perenungan mereka seringkali digunakan oleh teman-teman pergerakan mahasiswa atau sosial.

Lebih jauh, mengapa diskursus yang mereka gulirkan termasuk praksis? Kalau teman-teman pergerakan mahasiswa membaca literatur teori kritis atau epistemologi kritis, maka apa yang ingin dibangun dari diskursus adalah praktik itu sendiri. Teori kritis mengandaikan bahwa antara teori dan praktik harus berhubungan. Teori dibangun berangkat dari konteks yang nyata.

Misal, wacana-wacana yang digulirkan Dr. Nurcholis Madjid (alm.) merupakan wacana kritis. Mengingat wacana itu pada perkembangannya dapat merubah masyarakat menuju ideal tertentu. Dalam konteks itu pula, Cak Nur sudah bisa kita anggap sebagai cendekiawan Muslim yang praksis. Wacana yang dibangunnya tidak menara gading, melainkan berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi masyarakat Indonesia.

Kedua, kita perlu menginsyafi bahwa dua makna praksis di atas bergerak pada level atau ranah yang berbeda. Yang pertama, Marxian, bergerak pada ranah infra struktur sehingga praksis selalu saja berorientasi pembangunan ekonomi masyarakat. Sedangkan yang terakhir, Habermasian, praksis bergerak pada ranah supra struktur. Dalam konteks ini, mind set atau cara pandang, cara berfikir masyarakat merupakan ranah kerja pegiat sosial.

Sedikit sarkastik, saya membalas SMS itu, “Praksis yang kamu maksud adalah ngurusi perutnya masyarakat. Sedangkan praksis yang saya pilih adalah ngurusi otaknya masyarakat.” Dengan melihat perbedaan ranah kerja ini, tentunya praksis antara yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam mengambil bentuk, strategi dan seterusnya.

Terlepas dari perdebatan itu, yang membuat saya khawatir adalah bahwa seakan-akan dalam benak gerakan mahasiswa terdapat prioritas untuk mendahulukan urusan perut. Tidak salah memang. Persoalannya menjadi bermasalah ketika kita melupakan urusan otak. Faktanya, justru kehidupan kontemporer masyarakat lebih kacau bangunan mind set-nya, daripada bangunan rumahnya.

Mungkin ketika mengetahui perdebatan ini, Khoirurrizqo tidak akan gegabah lagi dalam mengeluarkan sebuah klaim. Karena ternyata, menurut madzhab Marxisme apa yang dilakukan Khoirurrizqo adalah praksis. Di sisi lain, menurut madzhab Habermasian, apa yang saya perbuat juga merupakan praksis. Layaknya perdebatan dalam madzhab fiqh, setelah kita mengetahui banyak pendapat di kalangan ulama, maka pilihan akan di kembalikan ke pemeluk masing-masing. Setiap madzhab memiliki ushul­-nya (epistemologi) masing-masing. Yang terpenting justru, kita harus mengetahui bangunan epistemologi madzhab yang sedang kita anut saat ini. Bukan mengklaim siapa yang paling praksis dan siapa yang hanya bermain wacana. Demikian jawaban saya. []

0 comments:

 
Toggle Footer