Ideologi & Agama


Oleh: Firdaus Putra A.

Suatu ketika terjadi perdebatan antara kalangan Islam dengan Kristiani terkait sejarah kapal Nabi Nuh. Kalangan Islam mengklaim bahwa kapal tersebut berlabuh di bukit Judi. Klaim ini bersumber dari teks suci, Quran. Sedangkan kalangan Kristiani, menyatakan bahwa kapal tersebut terdampar di pegunungan Ararat. Masing-masing mengklaim paling benar berdasar Kitab Sucinya. Kalimatun shawa atau titik temu tidak terjadi.

Sampai akhirnya, kalangan ilmuwan/intelektual melakukan penelitian sejarah melalui pendekatan arkeologi. Dibantu teknologi foto satelit, tersingkap bahwa di bawah tanah negeri Mesir ada bangunan/struktur kota tua. Dan akhirnya, perdebatan tentang kapal Nabi Nuh bisa terselesaikan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kapal itu berlabuh di bukit Judi. Namun yang harus dicatat, bahwa bukit Judi terletak di pegunungan Ararat. Ternyata klaim kalangan Islam dan Kristiani sama-sama benarnya. Klaim-klaim itu mampu ditemukan melalui pendekatan ilmiah, bukan sekedar pendekatan normatif-dogmatis.

Narasi di atas hanya ilustrasi kecil dari proses distansiasi (penjarakan atau obyektivikasi) yang dilakukan manusia terhadap sekelumit nilai atau ajaran yang diyakininya. Di saat manusia mau dan mampu menjarakkan diri dengan meminjam ilmu pengetahuan, ternyata klaim-klaim kebenaran yang diajukan bisa dipertemukan. Dalam konteks inilah perbincangan agama dan ideologi akan kita tempatkan.

Ideologi sebenarnya tak ubahnya seperti agama. Keduanya sama-sama diyakini sebagai “yang benar”. Hanya saja, ideologi bersumber dari olah pikir manusia, sedangkan agama bersumber dari Tuhan. Pokok masalahnya, mengingat keduanya merupakan nilai yang diyakini, baik ideologi pun agama seringkali mengalami kebuntuan epistemik (cara pandang). Bagi individu yang menganut ideologi/agama tertentu, maka ideologi/agamanya itu adalah “yang benar”. Baik ideologi pun agama, keduanya berpotensi untuk “meng-kaca mata kuda-kan” setiap penganutnya.

Ada dua fenomena berbeda yang sebenarnya sama. Pertama, kecenderungan untuk mengagamakan ideologi. Artinya ideologi dimaknai sebagai “nilai suci” yang harus diperjuangkan. Dalam konteks ini, kecil kemungkinan ideologi ditempatkan sebagai korpus atau ajaran terbuka yang senantiasa bisa kita kritik, revisi, bahkan dekonstruksi (rombak).

Sedangkan fenomena kedua, kecenderungan untuk mengideologiskan agama. Biasanya nalar ini berangkat dari keinginan agar agama mampu menjadi basis nilai yang revolusioner bagi perubahan sosial. Persoalannya kemudian, proses ideologisasi agama justru membuat pemeluknya tak mampu melihat kemungkinan lain dari berbagai macam pandangan.

Kecenderungan terakhir sering terlihat dalam kehidupan beragama kontemporer. Misal, sebuah pemikiran baru atau yang berbeda sekonyong-konyong akan difatwa sesat oleh otoritas agama arus utama (mainstream). Padahal boleh jadi, seperti perdebatan kapal Nabi Nuh, beberapa pandangan yang ada sama benarnya. Hanya saja, karena sudah terperangkap dalam “kaca mata kuda”, kita menjadi sulit untuk melihat kebenaran-kebenaran lain yang tersebar di mana-mana. Mengklaim kelompok lain yang menggunakan sistem demokrasi adalah taghut (salah bahkan sesat) merupakan efek dari cara pandang tersebut.

Dua fenomena dengan kecenderungan yang sama itu pada dasarnya kontra produktif bagi pergulatan pemikiran, baik diskursus sekuler (ideologi) atau diskursus agama itu sendiri. Agar tidak terjebak dalam perangkap itu, kita perlu melakukan proses kritik ideologi. Kritik ideologi tidak berpretensi untuk meruntuhkan nilai atau ajaran suatu kepercayaan tertentu. Kritik ideologi hanya ingin memberi early warning pada kita agar pandangan kita tidak beku atau stag. Untuk kemudian, kita perlu melakukan proses kreatif dengan memikirkan ulang atau mengkontekstualisasikan nilai atau ajaran yang kita yakini selama ini.

Ada satu lontaran yang perlu kita resapi, “Keyakinan yang kuat, pada ideologi atau agama, tidak akan takut pada segala bentuk keraguan. Sedangkan keyakinan yang lemah, selalu akan lari dari kejaran pertanyaan dan keraguan.” Kritik ideologi sekurang-kurangnya mensyaratkan keberanian kita untuk senantiasa jujur terhadap diri sendiri, terhadap keyakinan, juga keraguan kita.[]

___________
Note: Tulisan ini ditujukan sebagai “Editorial” dalam buletin Profetika Edisi III Juni 2008.
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments :

Aan Burhany mengatakan...

Kalo aku sih mestinya agamaku udah bisa ngatur semuanya mule dari ideologi (dalam konteks berbangsa) ampe ngeblog.. Tergantung kita aja mau setotal apa jalaninnya.. Mau kaffah atau permisif?..

:)

tito mengatakan...

Perlukah kita memiliki ideologi? Bukankah ideologi identik dengan doktrinasi. Doktrinasi yang akhirnya membuat kita melihat suatu masalah hanya dari satu sisi saja. Doktrinasi yang akhirnya membuat kita sulit untuk mempertanyakan kebenarannya, karena kita sudah terlanjur meyakininya. Bukankah kebenaran yang sudah tertancap di kepala kita sulit kita hilangkan begitu saja? Mengapa kita tidak melihat dunia dengan seperti apa adanya tanpa ada turut campur ideologi dalam pergelutan intelektual kita? Bukankah kebenaran itu tidak mutlak. Orang akan melihat rupa yang berbeda ketika melihat suatu obyek dari sisi yang berbeda. Bukankah hal itu sudah terangkum dalam posmoderenisme? Bahwa tidak ada kebenaran tunggal, yang ada hanya suatu relativitas.

Setyo mengatakan...

memang kadang saya sendiri terbentur pada keinginan untuk berideologi, tapi juga keinginan itu sendiri terhalang oleh pertanyaan dari ideologi yang susah untuk dicerna dan berbeda-beda. Kadang semua di serahkan kepada waktu, dan keyakinan untuk terus mencari