No.9 & No.13


Oleh: Firdaus Putra A.

Sebagai orang Jawa kedua nomor itu (9 dan 13) kita percayai (bagi yang percaya) sebagai angka yang keramat. No. 9 dianggap keramat dan pembawa keberuntungan. Sedangkan nomor 13, dianggap angka keramat yang membawa kesialan. Sampai-sampai, sedikit hotel yang menyedikan nomor kamar 13. Terlepas dari benar-tidaknya, secara psikologis kekeramatan itu bisa muncul dari proses sugesti. Ada istilah the self fullfilling prophecy, yakni sebuah ramalan yang akan terjadi dengan sendirinya, lantaran yang bersangkutan tersugesti, sehingga sadar atau tidak mengusahakan proses ke arah itu.

Nampaknya kekeramatan angka ini juga diidap dan diperhatikan oleh para politikus. Di Seputar Indonesia (9/7) Muhaimin Iskandar, Ketua PKB versi Ancol, berharap agar memperoleh nomor urut sembilan. Terlepas dari rumor keramat, menurutnya, dengan nomor urut sembilan, maka PKB akan mudah dalam melakukan sosialisasi. Bagi yang percaya nomor itu keramat, tentunya konstituen akan memilih secara irasional.

Harapan mendapat nomor urut sembilan juga datang dari Partai Demokrat. Namun, nampaknya baik PKB pun PD harus merelakan dengan hasil undian. Nomor sembilan justru didapat oleh Partai Amanat Nasional (PAN), yang sebelumnya tak punya pretensi untuk bermain "keramat-keramatan".

Bagaimana dengan PKB? Seperti angka yang bertuah, PKB justru memperoleh nomor undian 13. Bila Muhaimin percaya akan kekeramatan dan keberkahan nomor sembilan, maka seharusnya ia juga percaya terhadap kekeramatan dan kesialan nomor 13. Bagi yang berpikir mistik, tanda itu sudah mulai muncul, di awal pengundian nomor urut, keributan terjadi antara Muhaimin Iskandar dengan Yenni Wahid. Kedua pucuk pimpinan PKB yang berbeda itu saling tarik-menarik kertas undian.

Dalam sebuah liputan malam Anteve (10/7), Yenni mengatakan kecewa terhadap KPU mengapa mengundang Muhaimin untuk datang dalam pengambilan nomor urut. Sedangkan Muhaimin, seperti sikap sebelumnya, sesuai dengan keputusan Menteri Kehakiman, bahwa PKB yang sah adalah PKB yang dipimpinnya, versi Ancol. Bukan PKB versi Gus Dur.

Sebagai warga Nahdliyyin saya cukup miris melihat kemelut dan perpecahan internal di tubuh partai yang mayoritas NU itu. Meski saya yakin, saya tidak akan mencoblos PKB di Pilpres 2009. Namun, mengapa partai yang paling banyak kyainya, kok tidak arif lagi bijak.

Jujur, saya tersenyum simpul ketika melihat liputan di TV yang memberitakan PKB memperoleh nomor 13. Bila Muhaimin percaya tentang angka bertuah, bisa jadi hari ini ia akan memulai ruwatan partai. Secara rasional, mungkin ia akan melakukan konsolidasi ke akar rumput, juga silaturrahmi antarelit, khususnya pada Gus Dur dan jajaran kyai sepuh lainnya.

Hanya saja, saya tidak bisa membayangkan cara apa yang akan ditempuh Muhaimin (mungkin juga Yenni) untuk meyakinkan masyarakat bahwa nomor 13 tidak ada artinya (tidak sial) dalam dunia politik. Bisa jadi proses undian ini akan menjadi titik tolak pendidikan politik yang rasional. Sekurang-kurangnya mereka akan mengatakan ke basis konstituen, "Politik adalah masalah akal, bukan masalah sesaji, restu kyai, dan angka 13."

Tapi saya bisa membayangkan seandainya PKB memperoleh angka sembilan, pasti mereka akan meyakinkan masyarakat dengan mengatakan, "Ini adalah pertanda baik. Nomor sembilan merupakan simbol keberuntungan. Untuk itu, pilihlah PKB, agar bangsa ini semakin beruntung."

Jadi, baik angka 13 atau sembilan, saya yakin potensi mistifikasi politik di tubuh PKB sampai kapan pun akan ada. Hanya saja, saat ini mereka sial. Mau tidak mau ruwatan harus digelar. Itupun kalau Muhaimin atau Yenni percaya tentang kesialan di balik angka 13. Anda percaya dua angka itu keramat? Saya tidak! []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 comments :

Mbah Kuriman mengatakan...

Yesss pertamax hehehehe...

Kekuatan pikiran mungkin adalah kuncinya. Ketika orang sudah mengatakan "ah saya memang sial", sadar ataupun tidak sadar sebenarnya dia sedang membangun pondasi untuk mendapatkan bangunan bernama kesialan.
Tapi jika kita mengatakan "Saya adalah orang yang beruntung", maka sadar ataupun tidak sadar, alam sekitar akan mendorong dan mendukung keinginan untuk selalu berusaha beruntung.

Tidak percaya???silahkan dicoba saja... Setiap bangun pagi katakan pada diri sendiri, "saya adalah orang paling sial sedunia", maka apa yang terjadi?? saya pikir semua bisa menjawabnya :)

Bagi saya semua angka sama saja, tulisan "DoeaTiga" dalam blog saya adalah angka yang berarti buat saya. "Angka DoeaTiga" angka sial atau angka keberuntungan", tunggu saja jawabanya... wekekekekeke...

Halah nyambung apa ngga si ya komentar saya... wekekekekeke...

Tukeran link ya bos... :cheers:

Yon's Revolta. mengatakan...

kalo aku nggak peduli sama parpol.
isinya bajingan semua ^_^

uwiuw mengatakan...

hahaha bener juga kok ngak arif...sebelumnya pkb juga bermasalah saat matori abdul jalil (kalau ngak salah)...semoga aja pkb ngak jadi lelucon penghabis uang rakyat

Anonim mengatakan...

saya pikir perseteruan kedua organ ini telah berlangsung lama, terutama dalam lingkup fisip. kedua organ ini sama-sama mencoba saling mempertegas eksistensi masing-masing. mungkin tak adil juga jika mas firdos tidak mengangkat berita bahwa dahulu (beberapa bulan lalu), hmi dipo juga menggunakan kampanye negatif. bentuknya penyebaran pamflet yang menegaskan bahwa hmi yang asli adalah hmi yang ada garis putih dipinggirnya. hal tersebut tentu saja merujuk pada pernyataan bahwa hmi dipo lah yang asli sementara yang tidak ada garis putih dipinggirnya (hmi mpo) adalah tidak asli. bagi saya dalam konteks (komunikasi) politik hal tersebut sah-sah saja. namun yang mnejadi kegalauan saya adalah seharusnya kedua organ tersbut menjadi organ mehasiswa yang menjadi gerakan moral bukan gerakan politik. kenytanaanya tidak demikian. bagi saya kedua organ tersebut dekat dengan kekuasaan atau paling tidak berusaha mendekat dengan kekuasaan (dalam hal ini adalah konteks di fisip). so, mereka berdua sama saja.. ^_^

Anonim mengatakan...

mm, tulisan di atas salah posting...

el-ferda mengatakan...

maturnuwun atas informasinya. saya juga baru mengetahui perselisihan ini dari teman ormas lain.

meski demikian, cara-cara seperti itu, baik oleh dipo pun mpo tak sepatutnya ada.

nalar politis ormas? pada titik tertentu saya sepakat dengan sampeyan. justru menurut saya, kalau bisa ormas berangkat dari gerakan intelektual.

nuwun.