Corat-Coret


Oleh: Firdaus Putra A.

Aku menjadi ingat masa-masa kelulusan. Sama dengan apa yang sekarang ada. Corat-coret pakaian putih-abu. Rasanya puas sekali. Benar-benar bebas. Seakan-akan pada saat itu aku menjadi sepenuhnya manusia. Bebas. Dan tak ada orang melarang. Orang tua pun tidak. Hanya polisi-polisi yang usil mengganggu kesenangan pendek kami.

Aku berpikir, kenapa polisi-polisi itu harus menghentikan konvoi? Kenapa harus ditangkap, dan dipulangrumahkan? Apakah mereka tak mempunyai anak yang juga ingin berkata, “Jangan halangi kami!’. Coba seandainya konvoi itu tidak dihentikan polisi, justru, aku pikir polisi semestinya mengamankan jalannya konvoi. Mendampingi kami yang sedang menikmati berkendara dengan warna-warni di baju. Harusnya mereka mengawal kami, mengawal konvoi seperti saat partai sedang kampanye.

Aku pikir kalau seperti itu, semuanya akan senang. Kami yang baru lulus, benar-benar merasakan orgasme kebebasan itu. Masyarakat tak perlu takut, khawatir pada konvoi kami. Dan polisi, tak perlu menghardik kami. Semuanya menang.

Sebenarnya aku tak pernah tahu darimana tradisi corat-coret ini. Apakah dari Jakarta, Surabaya, atau luar Jawa? Yang jelas, sebelum aku lulus, kakak kelasku, kakak kelas sebelumnya, dan sebelumnya lagi, juga sudah mengenal corat-coret. Jadi aku tak pernah tahu siapa meniru apa.

Tapi ada juga sebagian temanku yang tidak ikut corat-coret atau konvoi. Kata mereka, corat-coret dan konvoi adalah perbuatan yang tidak bermanfaat. Katanya, mending baju putih itu kita kumpulkan, sumbangin ke yayasan yatim-piatu. Lebih akan bermanfaat dari pada dicorat-coret; dengan tanda tangan, piloks, spidol, tulisan apapun itu, dan sebagainya.

Anggap saja corat-coret baju seperti kesenangan yang kita dapatkan saat refresing, berwisata, atau lainnya. Mengapa memilih berwisata? Mengapa uang itu tidak disumbangkan ke panti asuhan, yatim-piatu, dan lainnya? Aku rasa karena ia (manusia) butuh kesenangan, hiburan, dan lainnya. Kebutuhan psikologis yang bisa jadi pemenuhannya tak bisa dinalar.

Aku masih ingat, tak hanya teman-temanku yang membubuhkan tanda tangannya, beberapa guru, wali kelasku juga mencoret bajuku. Aku masih ingat seorang guru, Bu Inung, menulis dua huruf, “Pf” dan dibubuhi paraf. Aku tanya apa arti “Pf”, katanya “Pf” merupakan singkatan dari kata Proficiat, bukan bahasa Indonesia. Artinya, “selamat”.

Beberapa guruku yang lain hanya membubuhkan tandatangan. Wali kelasku, Bu Dian, juga sebatas tandatangan. Aku berpikir, mengapa mereka mau mencoret baju kami? Apa jangan-jangan mereka juga mengenal tradisi corat-coret baju? Atau karena tak mengenal, akhirnya mereka ingin mencicipi? Semuanya bisa saja benar.

Karena bajuku sudah dicorat-coret, mau tak mau aku harus menggantinya. Ku taruh bajuku di hanger. Aku anggap baju itu sebagai kenangan, memori, atau apapun itu, yang sangat bermakna. Lantas, aku berganti dengan “baju” yang lain.

Saat ini, tayangan corat-coret di televisi, membuat ingatanku flashback empat, lima tahun yang lalu. Lulus SMA, dan bersiap menyongsong pendidikan tinggi. Proficiat! []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment