Kantong Plastik


Sebuah Ancaman Jangka Panjang
Oleh: Firdaus Putra A.

Fakta ini saya temukan melalui kawan-kawan Korps Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) FISIP UNSOED. Saat ini mereka tengah gencar melakukan kampanye daur ulang (reduce, recycle, and reuse) kantong plastik (plastic bag). Cukup mencengangkan, karena saya baru tahu kalau satu kantong plastik, yang tebalnya sepersekian milimeter, membutuhkan waktu urai 1000 tahun. Artinya, seluruh kantong plastik yang “lahir” di tahun 2000 akan “mati” pada kisaran tahun 3000.

Memang, kematian mereka sebenarnya bisa dipercepat layaknya euthanasia bagi manusia. Sekurang-kurangnya dengan jalan mendaur ulang dengan teknologi insinerator. Hanya saja teknologi tersebut masih terbilang mahal karena infrastrukturnya yang besar dan lengkap. Harian Kompas (28 Maret 2008), juga menulis tentang bahaya limbah plastik ini. Sri Bebassari, Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia, dalam harian tersebut menyatakan bahwa sampah plastik yang ada seharusnya tidak bisa kita pisahkan dari produsen produk tertentu. Misalkan, sampo, makanan anak-anak, dan lain sebagainya. Dia sebenarnya ingin menegaskan bagaimana peran swasta turut andil dalam melakukan daur ulang terhadap limbah tak langsung yang dihasilkannya.

Masih menurutnya, hari ini, perusahaan besar selaku produsen nampaknya berada dalam safety area. Adanya sampah plastik seakan-akan ulah masyarakat yang malas. Padahal tidak sesederhana itu masalah. Seharusnya perusahaan melalui corporate social responsibility (CSR) melakukan tanggung jawab sosial untuk kesinambungan kehidupan manusia.

Apa yang dikhawatirkan PA’ers (baca: para pecinta alam) merupakan keprihatinan kita semua. Masih melalui selabaran yang mereka bagikan, saya menjadi tahu bahaya kantong plastik bagi kehidupan kita. 1. Seluruh kantong plastik akan berakhir dengan sampah. 2. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik terurai tanah. 3. Saat terurai, partikel sampah plastik akan mencemari tanah dan air tanah. 4. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan. 5. Kantong plastik juga menyebabkan banjir, karena menyumbat saluran-saluran air. 6. Sebagian besar sampah kantong plastik dibuang kelaut dan setiap tahunnya lebih dari 1 juta penyu, paus, dan burung laut mati akibat keliru memakan sampah plastik.

Ternyata masalah kantong plastik tidak seremeh dan sesederhana yang kita pikirkan bukan? Masalahnya, 500 milyar sampai 1 triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya. Dan diperkirakan setiap orang memakai 170 kantong plastik per tahun. Bisa kita bayangkan berapa jumlah dari sampah plastik se kabupaten, provinsi sampai negara.

Kantong plastik mulai populer digunakan ketika supermarket mulai menjamur. Ya seperti biasa, masalah ekologi seringkali penyebab utamanya dari pihak swasta. Hanya saja, semata-mata menyalahkan pihak swasta nampaknya tidak fair. Mengingat kita (konsumen) untuk saat ini juga membutuhkan banyak kantong plastik.

Mungkin memang diperlukan langkah konkret dari negara selaku pengambil kebijakan. Seperti apa yang diutarakan Sri Bebassari, seharunya satu negara tertentu memiliki undang-undang khusus yang mengatur tentang sampah. Seperti tetangga kita, Singapura sudah jauh hari mempunyai undang-undang manjemen sampah. Sedangkan inisiasi pemerintah nampaknya lamban. Mereka kurang visioner memandang permasalahan terkait dampak jangka panjang yang bisa ditimbulkan.

Sembari menunggu desakan struktural yakni munculnya undang-undang manajemen sampah, lantas apa yang musti kita lakukan sebagai masyarakat, khususnya mahasiswa? Saya yakin orang-orang seperti kita bisa dikatakan tiap satu hari sekali mendapatkan kantong plastik. Minimalnya ketika kita membeli makanan untuk dibawa pulang ke kos/rumah. Saat ini apa yang saya lakukan adalah memakan makanan tersebut di warung atau di tempatnya. Jika memang mendesak di bawa pulang, kantong plastik yang ada saya rawat (pisahkan terlebih dahulu dengan makanan agar tidak kotor) dan kemudian saya simpan. Saya yakin suatu tempo ‘koleksi’ kantong plastik tersebut akan berguna. Mungkin hal-hal kecil semacam itu bisa membantu untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sebelum kita mempunyai teknologi iniserator yang murah, mudah dan massal. Atau juga sembari menunggu undang-undang manajemen sampah dibahas dan diketuk palu oleh DPR RI. Yang tentunya, kita sama-sama mafhum, kalau waktu tunggunya tidak sebentar.

Selain itu, nampaknya kita perlu kembali menghidupkan (dalam bahasa Jawa nguri-uri) ajaran-ajaran agama yang berperspektif ekologis. Dalam Islam seperti “al nadzofatu min al iman”, yang artinya kebersihan sebagian dari iman. Ajaran-ajaran semacam ini mulai ditinggalkan oleh umatnya. Justru yang ada, keberagamaan umat hari ini cenderung ngurusi Tuhan dengan bebagai ibadah ritual an sich. Seakan-akan menjaga kebersihan dengan jalan membuang sampah di tempatnya, mendaur ulang dan seterusnya, bukan bagian agama.

Padahal, saya termasuk orang yang mempercayai bahwa masalah kebersihan agar hidup kita harmoni dengan alam termasuk dalam kerangka habitus atau kebiasaan. Kebiasaan ini tidak bisa sekonyong-konyong lahir. Melainkan harus dibiasakan sejak dini. Dulu, saya mengira pepatah “Kebersihan pangkal kesehatan”, atau seperti kutipan hadist di atas, merupakan pernyataan klise nan retorik. Namun, hari ini, saya melihat pepatah serta hadist tersebut menemukan signifikansinya untuk kita terapkan.

Habitus atau kebiasaan memang biasanya berangkat dari masalah ‘kecil’. Hanya saja, hal tersebut akan terus berlanjut sampai kita dewasa dan tua. Habitus akan dengan sendirinya mengarahkan sikap kita secara sadar atau tidak.

Jadi, tidak ada waktu untuk menunggu. Hasil diskusi saya dengan seorang teman, Adi Iman, berakhir dengan kesimpulan tidak ada tahap pra-habitus, atau sebelum kebiasaan. Habitus akan dengan sendirinya tercipta melalui proses pembiasaan itu. Sekecil apapun, masyarakat (baca: mahasiswa) harusnya memulai langkah tersebut. sekali lagi, it is about habitus! Jika tidak kita biasakan, saya yakin perilaku hidup kita akan terus seperti itu, dalam artian tidak berubah. Bagaimana dengan Anda? []

01/04/2008
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 comments :

hfpcollect mengatakan...

seperti yang pernah saya posting-kan, kebanyakan kita mengkambinghitamkan plastik dan pembuat ide plastik, memang plastik tidak dapat didaurulang oleh alam dalam waktu sebentar, namun disini saya lebih mencermati bagaimana sampah ditinjau dari sisi bisnis, sampah plastik tidak sekedar dibuang begitu saja, coba kita lihat peran para pemulung yang berusaha mengumpulkan plastik tersebut untuk dijual ke pengepul,dari pengepul plastik akan digunakan kembali oleh industri sebagai bahan baku begitu seterusnya berulang-ulang dimanfaatkan untuk memproduksi barang-barang dari plastik

Anonim mengatakan...

betul emang kantong plastik bikin resah tapi smw itu mengndang kesadaran kita.
see my iklan tetntg kantong plastik.
nih : http://indosatshortmovie.com/?ad=v&d=214&page=3

rois,
thx

Greeneration mengatakan...

melihat bahaya2 yang ditimbulkannya, sudah saatnya kita mengurangi penggunaan kantong plastik.

sudah punya tas baGoes? baGoes adalah solusi nyata untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik. Selain bisa dilipat menjadi gantungan kunci, baGoes dapat mengganti hingga 1000 kantong plastik.

info lebih lanjut mengenai tas baGoes bisa dilihat di http://shop.greeneration.org

yuk sebarkan pengurangan penggunaan kantong plastik ini, untuk mendukung terwujudnya Indonesia tuntaskan sampah! :)

Salam,

Reta Yudistyana
Greeneration Indonesia

--
Greeneration Indonesia
green attitude green environment
Kanayakan D 35 . Bandung 40135
Jawa Barat - Indonesia
Telp/Fax: +62-22-2500 189
Email: info@greeneration.org
Web: www.greeneration.org