Praktik Homoseks?



Sebuah Pandangan Sementara
Oleh: Firdaus Putra A.

Beberapa hari saya mampir ke blog Nong Darol Mahmada. Rilis tulisan terbaru adalah komentarnya tentang si Irshad Manji. Penasaran dengan apa yang diceritakan, kemudian saya membuka situs irshadmanji.com. Lantas saya download bukunya “Beriman tanpa Rasa Takut”, versi Indonesia.

Saya belum bisa memberi komentar terhadap buku tersebut lantaran belum selesai membaca. Yang ingin saya komentari adalah orientasi seksual dari Irshad Manji. Dia adalah seorang lesbian. Dan dia adalah seorang Muslimah. Mungkin Anda akan merasa tersentak mengetahui hal itu, seperti juga saya.

Tulisan ini saya arahkan lebih untuk membuka ruang dialog antara saya, para pembaca, aktivis sosial dan seterusnya, terkait dengan hubungan antara Islam dengan homoseksualitas. Jadi, perlu saya sampaikan di awal, tulisan ini bukan dalam rangka memprovokasi, justru berangkat dari rasa penasaran saya bagaimana sebenarnya Islam memandang homoseksual. Perlu saya utarakan di awal, agar para pembaca tidak salah tangkap, dan mengira bahwa saya sedang menghukumi praktik lesbianisme Irshad Manji. Untuk itu, pandangan saya ini, lebih tepat jika dipahami sebagai pandangan sementara yang sangat mungkin sekali berubah, bilamana saya dapatkan (dari para pembaca tentunya) premis-premis yang mendukung praktik homoseksual tersebut.

Saya sendiri termasuk Muslim liberal. Dalam artian, saya memposisikan nalar—lebih tepatya lagi saya sebut dengan akal budi—dalam beragama cukup besar. Selain itu saya tidak mudah percaya dengan otoritas keagamaan yang ada selama ini; kyai, ustadz dan sebagainya. Begitu pula Irshad Manji, ia juga sangat kritis terhadap otoritas keagamaan yang sedang berlaku. Dulu, Pers Mahasiswa IAIN Walisongo, seingat saya juga pernah mengangkat tema sejenis, homoseksualitas dalam pandangan Islam. Sampai-sampai mereka mendapat stigma liberal—dalam makna peyoratifnya.

Saya akan memulai dari penelusuran teks agama, yakni Al Quran yang membicarakan masalah homoseksual. Sepengetahuan saya, dulu Allah pernah melaknat kaum Nabi Luth karena melakukan praktik liwath atau homoseksual. Mereka diazab menjadi kera, dan dikubur hidup-hidup dalam suatu musibah gempa bumi, atau sejenisnya. Teks ini merupakan teks standar yang seringkali digunakan oleh orang yang tidak setuju dengan praktik homoseksual. Tentu saja pandangannya sangat normatif, karena hanya menggunakan teks sebagai sumber penghukuman.

Sampai sejauh ini, saya belum menemukan teks, baik Quran pun Hadist, yang secara tersirat atau tersurat membolehkan praktik homoseks. Sehingga, sejauh ini pandangan saya belum sampai berani membenarkan praktik tersebut melalui justifikasi teks agama. Maksimalnya, saya hanya sampai pada penghormatan dan penghargaan kepada para homoseks karena faktor kemanusiaan.

Dalam kajian ushul fiqh (epistemologi fiqh), kita ketahui term maqosyidus syari’a (tujuan atau sasaran umum syariah) yang menjadi landasan pengambilan hukum. Selain itu juga term maslahatul mursalah, yang lebih mengorientasikan kemanfaatan bagi manusia, meskipun teks tidak mengaturnya secara langsung atau mendetail. Perlu diingat bahwa prinsip-prinsip ini merupakan kodifikasi manusia. Jadi pendekatannya sangat dibantu oleh logika-logika umum atau rasionalitas tertentu.

Saya akan membatasi pandangan ini pada term maqosyidus syari’a, yang di dalamnya terdiri dari beberapa prinsip umum; menjaga agama atau kepercayaan (hifdz din), menjaga nasab atau garis keturunan (hifdz nasl), menjaga harta benda (hifdz mal), menjaga akal (hifdz aqal), dan menjaga jiwa atau nyawa (hifdz nafs). Lima prinsip umum tersebut juga dikenal dengan al kulliyatul khomsah (lima prinsip umum).

Dari lima prinsip di atas, praktik homoseks, menurut pendapat saya akan tertolak oleh prinsip menjaga nasab atau garis keturunan (hifdz nasl). Mengapa? Karena pada dasarnya pelaku homoseks berjenis kelamin sama, maka tidak akan mungkin mereka bisa melahirkan keturunan. Artinya, pernikahan yang salah satunya berfungsi sebagai reproduksi dalam rangka memelihara spesies manusia tidak akan pernah tercapai. Sejauh-jauhnya, pasangan homoseks hanya bisa menggunakan sarana clonning atau bayi tabung.

Bilamana menggunakan clonning maka, status hukum dari anak tersebut juga tercerabut karena tidak jelas siapa orang tuanya, maka dengan sendirinya tertolak oleh premis menjaga nasab atau garis keturunan (hifdz nasl). Sedangkan bilamana mereka menggunakan bayi tabung, maka sekurang-kurangnya mereka membutuhkan donor sperma dan ovum. Yang artinya mereka menyadari bahwa pola homoseks memiliki keterbatasan yang sangat mendasar. Saya tidak akan memasuki perdebatan sejauh itu.

Seperti Manji, perilaku lesbinya bermula dari masa lalu yang traumatik antara dirinya dengan Ayahnya. Secara jujur ia menceritakan bahwa Ayahnya merupakan sosok yang keras—dalam makna sebenarnya—kepada ibu dan adik-adiknya. Ia tidak pernah menemukan figur yang damai, lembut, dan penyayang dalam diri Ayahnya. Hal ini membekas secara kuat dan akhirnya ia “memilih” atau “terpaksa memilih” berorientasi seks sejenis kelamin.

Jujur, saya tidak bisa menyalahkan Manji. Karena apa yang ia alami merupakan lahir dari konstruksi yang berada di luar dirinya, yakni bias jender dan rezim patriarkhis. Seperti juga saya tidak bisa menyalahkan seseorang yang mencuri karena kelaparan. Kedua-duanya menurut saya terpaksa memilih sesuatu yang bilamana dalam kondisi normal pasti tidak akan dipilihnya.

Hal tersebut perlu saya tegaskan di sini agar pandangan kita tidak berat sebelah dan menjadi kering dari nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga melalui eksplorasi di atas, sejauh-jauhnya saya hanya sampai pada titik penghormatan dan penghargaan kepada parktik homoseks. Sampai suatu tempo saya menemukan teks yang mendukungnya, maka pandangan saya akan berubah.

Lebih penting dari itu, saya teringat pernyataan getir Manji, bahwa ada sebagian orang yang memintanya untuk keluar dari agama Islam karena orientasi seksualnya itu. Menurut saya hal itu adalah tidak benar. Bukankah Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam? Yang artinya mulai dari atom, manusia, dan juga pelaku homo pantas manjadi bagian darinya.

Terlepas dari orientasi seksualnya, saya berusaha meresapi adagium Arab yang berbunyi undzur ila ma qola wala tandzur ila man qola, yang artinya lihatlah apa yang dikatakan, hangan melihat siapa mengatakan, membaca buku “Berimana tanpa Rasa Takut”, karya Irshad Manji adalah penting. Perlu kita jauhkan prasangka-prasangka subyektif kita untuk mengetahui kegelisahan diri Manji terhadap kehidupan Islam kontemporer.

Dan perlu kita resapi lontaran Erich Fromm, bahwa “Seringkali manusia terpenjara dalam situasinya masing-masing”. Lantas jika Anda berada pada situasi yang dialami Manji, maka apa yang akan Anda pilih? Dimana Anda adalah seorang Muslim/Muslimah. []

11/04/2008
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 comments :

Anonim mengatakan...

Mengapa anda memakai istilah “praktik homoseks” dan “pelaku homo”? Kata-kata homoseks/gay/lesbian dan homoseksualitas jelas TIDAK sama dengan pelaku homo dan praktik homoseks.

Homoseksualitas TIDAK merujuk kepada suatu praktik/aktivitas seksual (yaitu apa yang kamu lakukan), melainkan orientasi seksual yang berkaitan erat dengan identitas diri (yaitu siapa kamu) seperti juga ras, jenis kelamin, dll. Artinya, praktik TIDAK mesti bermakna orientasi dan orientasi TIDAK mesti menimbulkan praktik, seperti suka hiphop tidaklah berarti kamu seorang Negro dan senang bermain sepak bola tidaklah berarti kamu bukan perempuan.

Karenanya, kata siapa heteroseks tidak akan pernah bisa melakukan aktivitas seksual sejenis?! Banyak aktor/aktris film dewasa bergenre gay/lesbian ternyata sebenarnya heteroseks, bahkan bisekspun bukan. Contoh lainnya hubungan seks sejenis yang terjadi di penjara, pesantren, militer, di antara kaum lelaki di beberapa suku di Papua dan Afrika. Para prajurit Yunani kuno sering melakukan seks anal pada tentara lawan yang dikalahkannya. Di Saudi Arabia, banyak suami yang istrinya sedang haid/hamil berhubungan intim dengan sesama lelaki bahkan warganya sendiri menyebut negeri itu “negeri sodomi”. Mereka bukan (berorientasi) homoseksual; mereka hanya melakukan aktivitas seksual sejenis.

Sebaliknya, banyak homoseks (terpaksa) menikah dan punya anak (yang artinya mampu berhubungan seks dengan wanita).

Dan ada banyak gay/lesbian yang tidak melakukan aktivitas seksual apapun bahkan selama hidupnya. Guess what? Manji sendiri pernah demi Allah bersumpah bahwa dia tidak pernah ngeseks dengan partnernya.

Jadi, istilah homoseksualitas barulah dipakai jika adanya hal lain di luar seks - yang jauh lebih penting - yaitu afeksi, emosi dan cinta. Tanpa ini, walaupun seseorang berciuman dan meniduri sesama jenisnya setiap hari tidaklah menjadikannya gay/lesbian atau meskipun seseorang menikah dengan lawan jenis tak lantas menjadikannya bukan gay/lesbian.



Anda tidak perlu sok melakukan “analisis psikologi” terhadap Manji. Apa kredensial anda untuk melakukan itu? Anda berpikir - seperti juga banyak orang pikir - gay/lesbian pasti punya cacat psikologis di suatu masa dalam kehidupannya seperti trauma disakiti lawan jenis, dll. Pas kebetulan Manji punya ayah yang abusif. Lantas, mengapa kakak-adik Manji bukan lesbian?

Kalau saya, saya ikut saja dengan konsensus ratusan ribu psikiater, psikolog dan psikoanalis yang tergabung dalam American Psychiatric Association, American Psychological Association dan American Psychoanalytic Association.

Dan juga para ahli lain dalam American Medical Association, American Academy of Pediatrics, American Anthropological Association, American Counseling Association, American Association for Marriage and Family Therapy serta National Association of Social Workers.

Menurut mereka, tidak ada masalah apapun dengan homosekualitas. Homoseksualitas - seperti heteroseksualitas - adalah aspek seksualitas manusia yang normal. Tidak ada hubungan homoseksualitas dengan psikopatologi. Karena bukan gangguan, kelainan atau penyakit, tidak ada yang namanya gay/lesbi harus “disembuhkan”.

Jadi, homoseksualitas jelas bukan seperti “mencuri karena kelaparan” atau “terpaksa dipilih yang bilamana dalam kondisi normal pasti tidak akan dipilihnya”.

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa/PPDGJ III yang dipakai para psikiater di Indonesia juga tidak mencantumkan homoseksualitas sebagai sebuah gangguan (tidak seperti pedofilia atau transeksual).

Ini jelas bukan sembarangan appeal to authority. Dan ingat, bukankah kita harus menyerahkan setiap persoalan kepada mereka yang ahlinya. Oh, demi akal budi, apakah yang ahli itu mereka yang telah lama mendalami kesehatan jiwa manusia, melakukan penelitian, dsb., atau ulama/kiai/pendeta/pastor, atau blogger yang hanya mendudukkan pantat di depan monitor komputer?

Jika ada yang berpendapat lain monggo silakan saja tunjukkan hasil penelitian anda kepada mereka-mereka yang bertahun-tahun mengabdikan hidup berkecimpung dalam bidang mental manusia itu.



Kalau melahirkan keturunan begitu penting, lantas mengapa perlu mempertahankan pernikahan pasangan suami istri mandul (misalnya si istri kedua indung telurnya sudah diangkat seperti seorang tetangga saya)? Bukankah mereka sama saja dengan pasangan homoseks - tidak akan bisa punya anak? Apa salahnya kalau kita suruh saja si suami yang masih bisa punya anak menceraikan istrinya atau poligami? Saya berencana akan mengatakan kepada tetangga saya itu kata-kata yang anda tulis: "Heh, kamu tahu enggak pernikahan kan salah satu fungsinya untuk reproduksi dalam rangka memelihara spesies manusia menurut al kulliyatul khomsah atau lima prinsip umum. Ini kata agama lo. Nah kamu kan enggak bakal bisa punya anak. Artinya pernikahan kamu jelas gagal kan? Ceraikan saja istri kamu atau cari istri muda, gimana?"

Firdaus Putra mengatakan...

terima kasih sudah memberikan komentar. meskipun sampeyan tidak meninggalkan nama sebagai bentuk pertanggungjawaban diskusi.

poin pertama, saya memnggunakan praktik homoseks untuk membaca aktivitas homoseksualitas. saya berangkat dari disiplin sosiologi, sehingga sering menggunakan term "praktik sosial", sebagai bentuk dari pola relasi, atau peristiwa yang terjadi di masyarakat. jadi, sejak semula saya menggunakan paradigma konstruktivisme sosial. bahwasanya homoseksualitas juga masuk dalam konstruksi.

kedua, saya membaca Manji memang mempunyai trauma masa lalu. meskipun menurut Dede Oetomo,pasti sampeyan tahu, tidak ada orang 100% hetero atau homoseksual. yang ada kecenderungan ke arah hetero atau homoseksual. jika dibuat skala, maka tidak ada manusia yang berada di skala 1 (heteroseksual) dan skala 5 (homoseksual), adanya 2,3, atau empat.

Nah, saya membaca lingkungan sosial, yakni keluarganya merupakan katalis yang mempercepat proses itu. saya kira heteroseksual juga merupakan konstruksi sosial. tidak akan muncul kedua kecenderungan itu, mana kala hanya terpaku pada insting atau naluri dasar manusia. sampeyan pasti tahu semasa kecil kita sudah disosialisasikan dengan peran dan identitas gender.

ketiga, saya berterima kasih karena sampeyan memberikan informasi yang belum pernah saya ketahui, "Manji sendiri pernah demi Allah bersumpah bahwa dia tidak pernah ngeseks dengan partnernya".

keempat, sebenarnya saya sudah menduga kalau tulisan ini akan memancing diskusi, makanya di awal judul saya berikan penjelas, "Sebuah Pandangan Sementara", yakni jika para pembaca bisa memberikan rasionalisasi yang mencukupi dari teks agama, secara langsung pun tidak, yang membenarkan praktik tersebut. jika ada, maka saya akan merevisi pandangan saya. sayangnya sampeyan belum bisa menunjukan rasionalisasi itu. saya tunggu.

kelima, terimakasih sampeyan mengingatkan saya tentang, "Ini jelas bukan sembarangan appeal to authority".

keenam, lontaran terakhir sampeyan memberikan ide baru bagi saya, ketika suami-istri mandul, mengapa mereka tetap mempertahakan pernikahan? reproduksi adalah salah satu fungsi dari pernikahan. yang lain, prokreasi, afeksi, dan sebagainya. pada fungsi yang terakhir, bisa saja hal tersebut masuk dalam hifdun annafs (menjaga jiwa). mengingat nafs di sini menunjuk pada jiwa dan raga, jadi dengan dia tetap mempertahanakn pernikahan itu, dia tetap merasakan menyayang dan disayangi sebagai sesama manusia. dan saya yakin, perasaan sayang, cinta dan sejenisnya ini, adalah salah satu unsur yang membuat manusia tetap bisa hidup, tidak memilih mati, atau bunuh diri.

demikian. semoga diskusi bisa berlanjut. dan tolong, nama sampeyan, e-mail, blog, dst., dicantumkan. sehingga tidak akan muncul ekspresi semacam ini, "Oh, demi akal budi, apakah yang ahli itu mereka yang telah lama mendalami kesehatan jiwa manusia, melakukan penelitian, dsb., atau ulama/kiai/pendeta/pastor, atau blogger yang hanya mendudukkan pantat di depan monitor komputer?"

salam hangat,
firdaus putra a.

Anonim mengatakan...

sayang dunia homoseks di indonesia tercemar dan makin terpuruk dengan lsm lsm gay yang hanya berorientasi terhadap kepuasan sex semata, gembar gembor di stasiun televisi, bangga bisa ML rame-rame, beli kucing, main bertiga dan ini tanpa tedeng aling aling diungkapkan mantan pasangan Dede Oetomo yang bernama rudi mustofa!! kebanggaan sperti ini apa pantas diungklap depan umum (tayangan televisi swasta)??? sangat kontras dengan predikat sebagai intelektual (Dede Oetomo), gambaran umum sebagai gay jadi RUSAK!!! bisa saja bung Dede mengatakan ini adalah FAKTA dan bukan sebuah hal yang MUNAFIK, tapi masyarakat timur yang tidak biasa dengan hal ini malah akan menganggap hal tersebut sebagai sebuah NODA. Sungguh sangat disayangkan, Lsm yang konon didanai dari pihak asing tersebut malah menjadikan stigma yang negatif dan memalukan!

Anonim mengatakan...

sudah jelas semua agama melarang habiz praktek homoseksual, nyatanya masih ada aja yang menghormati mereka atas nama kemanusiaan

Anonim mengatakan...

FUCK U ALL GAY

Anonim mengatakan...

Tidak perlu ada penghargaan buat kaum Gay, nayata-nyata mereka perusak moral umat manusia dimuka bumi sejak jaman dulu hingga sekarang