Minggu, 02 Maret 2008

No Comment

Believe It or Not
Oleh: Firdaus Putra A

Satu hari di waktu pagi Ibu mengirim satu pesan singkat ke ponsel saya. Intinya, saya disuruh mencari bunga Wijaya Kusuma. Konon kata Bapak, di Pekalongan tidak ada, yakni Wijaya Kusuma dengan warna ungu atau violet. Yang ada warna putih dan pink. Kontan saja saya berpikir mistis. Pasti warna ungu atau violet ini merupakan syarat tertentu dari lelaku tertentu pula.

Akhirnya, pukul delapan pagi itu juga, saya memulai pencarian si bunga mistis. Dibantu seorang teman, Ike, awalnya saya mencari ke Pasar Wage. Sebuah pasar tradisional yang relatif besar di Purwokerto. Hasilnya nihil. Kemudian kami memutuskan untuk mencari ke daerah Baturaden. Sepanjang jalan menuju Baturaden memang banyak depot-depot bunga di kanan-kiri jalan. Saya masuki satu persatu.

Kurang lebih 25 sampai 30 depot bunga saya masuki. Dan hasilnya sedikit membawa harapan. Hanya ada satu depot bunga yang punya. Itupun dengan Wijaya Kusuma yang masih berkuncup kecil. Sedangkan di banyak depot lain ada memang yang sudah berkuncup besar dan siap merekah. Hanya saja warnanya pink. Tentu saja tidak masuk kriteria.

Saya menjadi penasaran, apa sebenarnya khasiat dari Wijaya Kusuma. Saya temukan jawabannya di sebuah blog. Wijaya Kusuma berasal dari dua kata Jawa. Wijaya berarti “menang”, dan Kusuma berarti “bunga”. Secara sederhana bisa diartikan sebagai bunga kemenangan. Jawaban itu juga diperkuat oleh cerita para pemilik depot bunga. Bahwa Wijaya Kusuma merupakan bungan “ajaib”. Hanya orang yang beruntung saja yang dapat menyaksikan bunga itu merekah. Dan orang yang menyaksikannya akan mendapat keberuntungan.

Masih penasaran saya browsing situs lain. Dan aneka jawaban tersedia. Mitosnya bunga ini dulu kala dimiliki oleh Sri Kresna. Khasiatnya, menurut tradisi Jawa, bagi orang yang melihatnya sewaktu merekah dapat mendatangkan berkah. Berbeda lagi menurut tradisi Hindu Kuno, diyakini bunga ini dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Dan satu lagi, menurut tradisi modern-ilmiah, bunga dengan nama Latin Epiphylum Anguliger—termasuk keluarga kaktus—berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit; mengobati nyeri lambung, anti radang, penghenti pendarahan, obat batuk, obat asma dan lain-lain. Sedangkan menurut versi orang awam, ketika merekah bunga ini mengeluarkan bau harum yang luar biasa. Baunya seperti perpaduan antara bau Melati, Kamboja dan Mawar. Atau mungkin lebih harum dari ketiga campuran bunga itu.

Sore hari Bapak dan Ibu sampai di kos saya, Grendeng Purwokerto. Artinya beliau sangat serius mencari bunga ini. Dan akhirnya beliau bercerita untuk apa sebenarnya bunga Wijaya Kusuma dengan warna ungu itu.

Awal cerita bermula dari seorang teman Bapak—diberi kelebihan oleh Tuhan dalam bentuk ma’unah—yang dapat “merubah” sebatang rokok menjadi selembar uang. Bapak pun tertarik mencoba. Dan mengeluarkan satu batang Dji Sam Soe. Dan benar, rokok tersebut berubah. Hanya saja, teman tersebut kaget, tercengang menyaksikan hasil perubahannya. Bapak menjadi heran. Selidik, rokok tersebut berubah menjadi selembar uang ribuan yang sudah lusuh. Dan satu lagi, di atasnya terdapat straples yang menancap. Padahal, kata teman tersebut, tidak pernah ia “merubah” rokok menjadi uang dan hasilnya seperti itu. Biasanya rokok tersebut berubah menjadi pecahan lima puluh ribuan dan relatif bagus. Teman tersebut menjelaskan, bahwa selembar uang ribuan, lusuh dan straples yang sudah karatan menandakan bahwa saat ini usaha (ekonomi) Bapak sedang ‘dijaili’ seseorang.

Teman tersebut akhirnya menyarankan agar Bapak melakukan lelaku tertentu. Yang salah satu syaratnya adalah mencari bunga Wijaya Kusuma yang berwarna ungu. Hal ini dilakukan sebagai penangkal atas tindakan jail seseorang. Saya mulai paham alasan kenapa Bapak dan Ibu jauh-jauh dari Pekalongan ke Purwokerto untuk mencari bunga itu.

Dari pencarian itu saya menjadi tahu tentang bentuk, perbedaan, asal muasal, mitos, serta khasiat si bunga misterius. Minimalnya perjalanan yang cukup melelahkan tidak sia-sia. Pengetahuan saya melalui pengalaman kian bertambah. Dan yang jelas, saat ini saya berada di antara rasionalisme modern dan mistisisme tradisi.

Saya dibesarkan di tengah keluarga santri yang nota benenya Nahdlatul ‘Ulama, Bapak, Mbak, Mas dan saya pun pernah nyantri. Jadi, posisi saya memang senantiasa berada di antara dua tegangan itu. Saya tidak sepenuhnya percaya terhadap rasionalisme modern. Dan di sisi lain, saya juga tidak antipati terhadap mistisime tradisi.

Sampai saat ini saya masih meyakini, di dunia ini memang ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalisasikan akal. Dan juga ada sesuatu yang harus dirasionalisasikan. Menjadi lebih arif kalau saya mengamini adagium yang sering digunakan kalangan NU, al-muhafazhah al-qadim al-shalih wa al-ahkdz bi al-jadid al-ashlah, yang artinya kurang-lebih “Memelihara sesuatu yang lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik”. Suatu kearifan pandangan/sikap yang melampaui polarisasi nalar-nalar dalam peradaban manusia. []

___________
Note:
Dalam konsep Islam, dikenal beberapa tingkatan kelebihan yang diberikan Tuhan kepada hambanya; Mu’jizat untuk nabi; Karomah untuk para auliya, wali, dan semacamnya; Ma’unah untuk orang awam; dan terakhir, kelebihan yang diberikan untuk orang jahat atau dzolim.

2/3/2008

0 comments:

 
Toggle Footer