Menyoal Training ESQ


Oleh: Firdaus Putra A.

Training ESQ saya yakin bukanlah istilah yang asing. Sudah sering kita dengar, dan biasanya populer ketika masa penerimaan mahasiswa baru. Training ini digelar untuk membekali mahasiswa baru atau lama tentang pentingnya kecerdasan emosi dan spiritual sebagai pengimbang kecerdasan kognitif kita.

Baru beberapa hari yang lalu, saya melihat spanduk dengan materi promo training ESQ. Rencananya akan diadakan pada tanggal 26-27 Januari 2008. Yang mencengangkan, biaya untuk mengikuti training selama dua hari itu relatif mahal. Mahal dalam kisaran mahasiswa sebagai pelajar yang secara finansial masih bergantung kepada orang tua. Biaya training dua hari itu mencapai Rp. 500.000. Angka yang besar untuk sekedar mengikuti training atau pelatihan.

Jujur saya merasa tersisih ketika membaca promo training ESQ, karena orang semacam saya jelas tidak mungkin dapat merasakan atau mengikutinya. Padahal, training ESQ merupakan salah satu sarana untuk meng-up grade kecerdasan emosi-spiritual kita. Saya yakin sebenarnya setiap orang mempunyai keinginan untuk mengikutinya. Dalam artian semua orang mempunyai sebuah harapan tentang kecerdasan emosi-spiritualnya semakin meningkat. Hanya saja, faktanya sedikit orang yang mampu mengakses.

Saya lantas berpikir, bahwa training ESQ sangat bias kelas. Hanya kelas menengah-ataslah yang dapat mengaksesnya. Bagi kelas menengah-bawah, dengan penghasilan orang tua berkisan 1-2 juta, mengikuti training ESQ bagaikan meraih bintang di langit.

Lantas dengan pembatasan akses itu, saya berpikir, bahwa kelas menengah-atas lebih memungkinkan cerdas secara emosi-spiritual daripada menengah-bawah. Ada semacam kendala sosial untuk orang menjadi cerdas secara emosi-spiritual. Kendala ini berangkat dari ketimpangan struktur ekonomi masyarakat. Saya menjadi ingat satu hadist yang berbunyi, “Kadal faqru an yakuuna kufran”. Bahwa orang faqir akan dekat dengan kekufuran. Atau tafsiran bebas dari hadizt tersebut bahwa orang miskin, orang yang tak punya akan lebih mudah terjerumus kekufuran. Mari kita ingat, dalam statistik kejahatan lebih banyak mana rasio antara kejahatan kelas menengah-bawah dengan menengah-atas? Saya yakin banyak menengah-bawah.

Kendala ini menjadikan orang sulit mencapai status saleh. Dan ironisnya, banyak para da’i, penceramah agama, kyai, ulama yang mencibir keberadaan si miskin ketika mereka tidak saleh (syariat). Satu gambaran riil di keseharian, ketika memasuki bulan puasa, apakah seorang buruh bangunan akan memilih berpuasa atau tidak? Tentu saja akan ‘memilih’ tidak berpuasa. Pilihan mereka sebenarnya sebuah keterpaksaan kondisi. Jika mereka berpuasa, maka mereka tidak mempunyai cukup energi untuk bekerja; mengangkat material, naik-turun tangga dan sebagainya. Sedangkan mereka sebagai seorang kepala keluarga harus menafkahi anak-istri di rumah. Kejadian semacam ini riil dan sering terjadi, tidak hanya pada buruh bangunan; tukang becak, sopir bus, sopir truk dan sebagainya. Mereka dengan kondisi yang sedemikian rupa harus merelakan dirinya untuk tidak menjadi saleh.
Hal di atas saya pikir paralel dengan training ESQ. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengikutinya. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menjadi lebih cerdas secara emosi-spiritual. Saya tidak ingin mengatakan, “Beruntunglah bagi orang-orang yang mampu”, tetapi lebih pada struktur sosial hari ini membatasi orang untuk dapat mencapai tingkat kecerdasan, ketakwaan yang tinggi.

Selain itu, di spanduk terdapat satu tulisan dengan stressing warna, “Trainer berlisensi A Ginandjar Agustian”. Soal ini lebih menggelitik saya untuk berkomentar. Masalahnya, ternyata hari ini kecerdasan emosi-spiritual seseorang tinggi-rendahnya ditentukan oleh lembaga atau orang yang mengeluarkan lisensi atau jaminan. Logika semacam ini tentu saja sangat positivistik, seakan-akan hanya dari orang dengan lisensi tertentulah maka peserta pelatihan dapat menjadi lebih cerdas.

Menurut saya, logika lisensi sebenarnya kontradiktif dengan logika spiritualitas. Lisensi cenderung membatasi, membekukan dan formalistik. Sedangkan spiritualitas menurut saya lebih pada sikap inklusif (terbuka), cair, dan substansial. Lisensi dalam bidang spiritual hanya akan mengkerdilkan makna spiritualitas itu sendiri. Saya memahami bahwa spiritualitas pada dasarnya lebih cair daripada religiusitas. Meskipun pada konteks tertentu seringkali kedua istilah tersebut mengalami tumpang-tindih makna. Karena religiusitas merupakan bentukan dari spiritualitas. Religius adalah raga dan spiritual merupakan jiwanya.

Karena rasa penasaran, saya catat kontak person dari penyelenggara. Sorenya saya SMS. Isi pesan itu kurang-lebih mempertanyakan mengapa training ESQ relatif mahal? Orang dari panitia tersebut membalas kurang-lebihnya, bahwa Anda hal ini setimpal dengan apa yang akan dapatkan dalam pelatihan tersebut.

Saya menjadi prihatin bahwa emosionalitas-spiritualitas sebenarnya mengalami komodifikasi dalam logika training ESQ. Training ESQ saya anggap sebagai bentuk komersialisasi emosi-spiritualitas. Jual-beli. Seperti pepatah Jawa, “Ono rego, ono rupo”. Yang kurang-lebih artinya ada uang ada kualitas. Seakan-akan semakin mahal pelatihan tersebut, maka akan semakin cerdaslah para peserta. Padahal, kembali ke konsep awal, emosi-spiritualitas merupakan sesuatu yang cair, substansial. Sehingga tidak mungkin menyusun sebuah hipotesis yang progres sifatnya.

Sebenarnya pada titik substansi, saya mempunyai kritik terhadap training ESQ atau konsep ESQ itu sendiri. Tetapi, bila hari ini dianggap training ESQ atau ESQ cukup produktif untuk membekali mahasiswa, maka keberatan saya secara teknis yakni pada pembatasan akses melalui harga tiket—atau dihaluskan menjadi investasi—yang relatif mahal.

Semoga tidak hanya saya saja yang berpikir bahwa training ESQ relatif mahal. Dan training ESQ merupakan bentuk komersialisasi emosi-spiritualitas. Saya sendiri bukan orang yang tidak ingin saleh—seperti buruh, tukang becak dan sebagainya—hanya saja jika untuk menjadi saleh ternyata biayanya sangat mahal, dan saya tidak mampu, maka saya akan lebih ‘memilih’ untuk tidak saleh. Sebagaimana para pekerja kasar yang menghayati hidupnya secara alamiah. []
Share on Google Plus

About el-ferda

Saya mulai blogging sejak November 2007. Dulu awalnya iseng sekedar mengarsip tulisan atau foto. Lama kelamaan saya mulai suka menulis. Selain blogging, saya juga suka membaca, nonton film dan diskusi ini itu. Sekarang di tengah-tengah kesibukan bekerja dan lain sebagainya, saya sempatkan sekali dua kali posting tulisan. Tentang saya selengkapnya di sini
    Blogger Comment
    Facebook Comment

9 comments :

daengrusle mengatakan...

iye,
sa sependapat dgn anda
kalo emang mau mencerdaskan bangsa
kenapa mesti mahallllll??

ada kalanya kita mesti melihat implementasi lapangan, bukan sekedar janji atau omongan..

agama itu untuk kemaslahatan umat semua, bukann untuk pribadi sendiri...

humas mengatakan...

Assalamualaikum

Saya melihat sudut pandang anda sama dengan saya , namun berbeda sampai saat merasa benar2 "melihat" diri saya dan Allah kira2 7 bulan yang lalu saat saya mengikuti training ESQ.

.
..
...
Sebelumnya, saya memandang training ini hanya komersialitas, sama yang anda paparkan di atas. Dengan biaya yang melangit mana mungkin bangsa ini berubah. Masih banyak orang2 miskin di negeri ini. Dan saya dulu merasa training ini tak etis dan hanya menguntungkan segelintir orang saja. Pokoknya samalah pikiran saya dengan anda. Mohon maaf apabila saya dulu cukup kritis akan hal2 yang seperti itu.

Saya bukanlah orang yang jauh dari ESQ sebelumnya. Orang tua saya, adik dan kakak saya semuanya sudah ikut. Mereka selalu mengajak dan bahkan Bapak bersedia membayarkan untuk saya training. Mereka tidak memaksakan dan saya pun minta izin bahwa saya terlalu sibuk. Training 3 hari dari pagi sampai sore adalah sesuatu yang mengkuatirkan pekerjaan saya yang menuntut saya stanby (saya bekerja sebagai humas di pemerintahan Batam).

Bulan Juli 2007.Sampai tiba saat pekerjaan kantor sedang kosong. Dan rekan kantor merencanakan tour dan saya minta ijin untuk tak ikut tour karena seseorang membutuhkan saya untuk tidak pergi. Saya malas ikut tour begitu2 dan untuk memperkuat alasan saya, maka saya mendaftar untuk training ESQ sebagai alasan tambahan (kebetulan training ESQ diadakan pada bulan akhir Juli). Sebagai dana pengganti tour, kantor memberi secukup uang yang saya pergunakan untuk training ditambah dengan uang dari Bapak saya (beliau memberi karena janji kepada saya).

Training ini mahal sekali. Rp 1.650.000,- , wah itumah ga nyampe gaji saya. Ck.ck.ck..tapi untung lah ada bantuan dari kantor dan Bapak. Oya..bahkan Bapak lah yang mendaftarkan saya, saya sibuk di hari2 menjelang kantor lowong.
...
..
.
Hari itu hari Jumat, tanggal 27 Juli tahun 2007.

Pecahlah prasangka saya terhadap training ini bersamaan pecah tangis dan hati saya. Seketika itu juga. di sesi pertama, sekitar dari pagi sampai menjelang salat Jum'at.

Masya Allah. Saya menyesal tidak mengikuti training ini jauh2 hari. Alhamdulillah training ini membuka hati saya, pikiran saya, dan meyakinkan keyakinan saya.

Training ini tak ada sesi pertanyaan,tak ada tanya jawab, trainernya pun tak menggurui. Training ini adalah perenungan diri. Jadi training ini adalah pengalaman pribadi. Tiap2 orang berbeda2. Namun satu yang pasti semakin yakin terhadap Iman,Ihsan dan Islam. dan keyakinan itu yang menuntun kita berusaha dalam tiak kata, tiap perbuatan dan tiap niat dan fikiran.

Saya mohon maaf apabila kepanjangan dan minta maaf apabila ada silih salah kata. Banyak kesan baik yang terbekas di hati ini yang ingin diutarakan.

Oya tentang biaya, dana yang "maaf" sedemikian mungkin tak sebanding dengan manfaat yang diberikan. Dan mengapa para pemimpin, pejabat dan lain2 di negara ini (oya di malaysia, singapura, brunei, inggris, belanda dan amerika pun telah terlaksana training ini) berminat mengikuti training ini ? karena (menurut saya) training ini mencegah korupsi dan mengefisienkan kerja. Dan harga untuk training ini tak sebanding dengan jumlah anggaran yang diefisienkan karena korupsi yang dapat dicegah dan keuntungan yang berlipat2 karena meningkatkan produktifitas kerja. Dan doakan saja para manajemen dan pejabat dapat mensejahterakan rakyat dan bawahannya karena mereka bekerja bukan hanya untuk dunia tetapi juga akhira. Amin

Salam kenal el-ferda

Mohammad Farhan

firdaus putra mengatakan...

terimakasih sudah memberikan komentar. rasa penasaran training ESQ membuat saya membaca dua buku Ginadjar Agustian. dan pandangan saya belum beranjak.

masalahnya, saya melihat ESQ hanya berangkat dari kesadaran keberagamaan kelas menengah-atas yang sudah selesai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. coba perhatikan, contoh-contoh kasus nyata yang disuguhkan dalam buku tersebut. sebuah succes story.

selain itu, Ginandjar tidak pernah mempermasalahkan bagaimana dengan kaum buruh yang gajinya, tunjangannya, belum memenuhi standar hidup layak. ia hanya memastikan--dengan berbagai rasionalisasi doktriner atau spiritual, bahwa karyawan harus bekerja dengan sebaik-baiknya. tentunya, karena kerja merupakan ibaah kepada tuhan. pada titik itu saya tidak keberatan.

yang menjadikan saya berberat hati, bahwa menurut saya, Ginadjar tidak memberikan solusi bagi karyawan-karyawan menengah-bawah. apakah kehidupan di dunianya akan selesai ketika kita--sebagai elit agama--memberikan janji tentang balasan di surga? saya rasa tidak sesederhana itu.

dalam istilah yang mungkin sinis, tetapi mencakup apa yang saya kahwatirkan, bahwa ESQ--dengan sikap ikhlasnya--hanya berfungsi sebagai 'tukang stempel' dari pemilik modal untuk memotivasi para pekerja. bisa dibilang--meminjam istilah Baudrillard--ESQ melakukan komodifikasi atas nilai-nilai spiritualitas yang kemudian energi tersebut disublimasikan untuk kejayaan perusahaan.

pertanyaan reflektif, siapa kiranya yang diuntungkan--secara besar--dengan kerangka kerja ESQ? saya rasa, bukan karyawan--ia hanya pas-pasan, dan selebihnya diminta ikhlas. tentunya, si bos besar. pemilik perusahan dan sebagainya.

sebenarnya yang kita perlukan tidak sekedar training tersebut 'berharga murah', melainkan pengkajian ulang terhadap dampak kesadaran yang dikonstruksinya. hal ini merupakan keberatan saya secara substansial yang belum saya ungkapkan di tulisan.

jika anda ingat, model training semacam ini berangkat dari nalar filsafat pragmatisme. mirip-mirip soft skill atau pelatihan sejenisnya. artinya, akar masalah dicari pada agen, aktor, atau pelaku. bukan pada struktur atau sistem yang timpang dan tidak memihak si lemah.

sekali lagi, terima kasih. juga untuk share pengalaman anda tentang training tersebut. semoga kita bisa melanjutkan diskusinya. saya tunggu.

dani mengatakan...

Assalaamu'alaykum ....

salam harmonis dan sejahtera ...

umumnya memang orang akan mengatakan seperti itu. Itu Wajar dan sangat wajar ....

Kini setelah sekian bulan dari postingan anda, mungkin anda sudah menerima info2 baru bagaimana pendapat anda ...?

harusnya ada postingan yang bisa memberikan info yang benar2 memberikan pemahaman dan kesejukan serta mengurangi kesimpangsiuran yang ada ...

Yang saya tahu biaya training yang memang mahal karena biaya itu bukan untuk para trainer dan panitianya, tetapi untuk : biaya sewa gedung yang minimal bisa menampung 100 orang peserta dan alumni, biaya sound sistem yang kapasitas powernya ribuan watt, biaya sewa layar yang min ukuran 4 x 6 meter min 2 buah, biaya sewa generator untuk sound sistemnya, biaya makan siang dan coffe break, dan juga subsidi silang untuk training guru2 secara gratis, anak duafa, yatim piatu, dll.

Demikian semoga membantu ....

Wassalaam
dani

Bimo mengatakan...

assalaam 'alaikum wr.wb!! ap kabar semuanya..! salam ESQ untuk para alumni....

salam hormat saya kepada Bung Firdaus Putra. Saya selalu tergakum dengan orang-orang yang dapat menuliskan dengan panjang lebar dan luas tentang suatu isu. Bagi saya itu menunjukkan luasnya wawasan seseorang....dan jujur tidak banyak di antara kita yang dapat melakukan hal tersebut, termasuk saya. Kalaupun bisa...hanya sekali-kali saja dan sangat jarang.

Saya setuju sekali dengan bung Firdaus tentang pernyataan Anda bahwa training ESQ mahal..terutama sewaktu saya melihat ayah saya mengikuti training ESQ Eksekutif yang ketika itu harganya 2,5 juta untuk 4 hari kl tidak salah. Saya kemudian diberi tahu bahwa harga tersebut adalah sekali untuk seumur hidup. Maksudnya adalah jika bulan depan diadakan training yang serupa, maka kita sebagai alumni gratis mengikutinya...seumur hidup. Hal ini tidak hanya berlaku kepada satu jenis training ESQ saja...seperti halnya jika alumni Eksekutif boleh mengikuti Training ESQ Eksekutif berikutnya, namun jika para alumni ESQ Mahasiswa yang hanya membayar 500rb bisa mengikuti ESQ Eksekutif di bulan berikutnya seumur hidup. Paling2 biaya yang harus dikeluarkan adalah memperbaharui kartu alumni setiap tahun dengan biaya sekitar 50rb. 500rb - 2,5 juta untuk seumur hidup tiba2 jadi terasa murah ya.

Semoga informasinya bermanfaat untuk Bung Firdaus dan juga untuk yang lainnya. Untuk informasi lebih lanjut bisa ditanyakan ke ESQ Leadership Center di (021) 769 6654.

Jazakallah khair katsiir! Waslm wrwb

el-ferda mengatakan...

salam hangat,

makasih komentarnya mas bimo. saya juga sudah mengikuti training esq, angkatan 14 di purwokerto. sebagai informasi, ada 4-5 judul di blog ini tentang esq, tentu saja pandangan atau pendapat saya pribadi.

tadi siang saya baru berpikir masalah itu. seakan dejavu saja, ternyata ada komentar sampeyan soal alumni yang bisa ikut training lagi.

tadi siang saya berpikir, okelah alumni memang bisa ikut lagi di training-training lagi. persoalannya, taruhlah dari 200 alumni di kota tertentu menghendaki ikut training itu lagi pada training yang lain. misal, kapasitas ruangan itu hanya 200-300 orang. akan terjadi overload di sana. ada dua masalah, ketika overload terjadi, maka proses training bagi pemula akan terganggu. atau kedua, agar alumni tetap bisa nge-charge, maka disewalah gedung lain. tentu saja akan menambah biaya overheat. entah biaya ini dibebankan kepada siapa alumni atau perusahaan esq, atau peserta pemula?)

dari cara berpikir itu, saya ingin mengatakan kalau sampai batas titiknya, bilamana anemo alumni itu tinggi, mungkin saja mau tidak mau tidak ada lagi logika cuma-cuma dikarenakan faktor obyektif, sarana gedung yang kurang memadai.

mungkin logika cuma-cuma hari ini bisa diterapkan, meminjam istilah pasar, saat permintaan sedikit. saat permintaan besar, saya rasa logika itu secara obyektif akan berubah. kecuali, seluruh biaya overheat yang obyektif tadi ditanggung pihak lain.

selain itu, sedikit out of context, saya tak berpretensi untuk menggugat keberadaan training esq secara mendasar. mengapa? saya pikir masih lebih baik (untung) training itu ada, meski sebagian besar hanya diikuti oleh kalangan menengah-atas, daripada sama sekali tidak ada. di sini saya menerapkan standar minimal fungsional dari kegiatan itu sendiri.

oleh karenanya, berbagai kritikan (sekali lagi kritikan) berpangkal dari kegelisahan saya, kalau memang bagus, ya alangkah lebih baiknya seluruh lapisan masyarakat bisa mengikutinya.

hanya saja, seperti sinyalemen saya sebelumnya, "kadal faqru an yakuuna kufran", jadi kondisi sosio-ekonomi masyarakat juga harus dipertimbangkan.

tadi siang saya juga berpikir, mungkin bisa direkomendasikan pada esq leadership, cobalah buat survei pada alumni bagaimana perasaan mereka paska pelatihan itu. saya dan beberapa teman sempat membuat survei kecil, dan sebagian responden menyatakan bahwa ketersentuhan terjadi lantaran efek multi media (sound system yang menggelegar, tata cahaya, suhu ruangan yang dingin, serta intonasi suara training). dengan pertanyaan lain kita uji konsistensi jawaban itu, seandaianya tanpa berbagai pengondisian sebagaimana di atas, apakah anda akan merasa tersentuh? ternyata sebagian besar alumni menjawab tidak, sebagian kecil yang menjawab ya.

nah pada titik ini saya mempunyai kekhawatiran lain, yakni ketika keberhasilan training tersebut sangat bergantung pada sarana multi media di atas. artinya, permenungan atau pengalamanan spiritual seperti pada training esq sulit dilakukan secara individual. mengapa? karena membutuhkan berbagai sarana yang banyak tadi.

demikian, ini pendapat saya yang tentu saja masih commonsense. saya masih menunggu penelitian dosen atau pihak lainnya terkait masalah training esq.

catatan saya, jangan sampai training ini menjadi candu bagi masyarakat.

salah hormat.

SUPER HERBALIS mengatakan...

Ass.wr.wb
Mhn maaf sebelumnya...
Saya kembalikan semuanya kepada ALLAH hanya DIA YANG MAHA TAHU apa yang ada di dalam hati.

Dan...
Saya setuju dan sependapat dg anda penulis blog ini.
Alhamdulillah saya dikarunia ALLAH rizki yang mana dg ini saya bisa mengikuti banyak kajian pelatihan dll.

Dan pada satu titik BESAR...
Astaghfirullah ternyata semua materi yang pernah sy ikuti bisa saya dapatkan semuanya di ALQURAN dan Hadist....
Mulai dari NLP,Hypnotist,Parenting,Pengobatan,Skill komunikasi,Entrepreneur.

Saya menemukan adanya fenomena khas yang " SANGAT JARANG " dilakukan muslim kita.
Cobalah renungi lagu Tombo Atinya Sunan Kalijaga....
Maka kita yang muslim ini pastinya tidak memerlukan lagi training mahal seperti ini.

Yang diperlukan adalah semangat u/ saling mengingatkan akan kebenaran ALQURAN dan SUNNAH.

Obat Hati ada 5 macamnya.
Hati disini adalah hati fisik dan Qolbu tidak bisa dipisah2kan.Karena ALLAH menciptakan semunya ini adalah berpasangan dan bermakna GANDA.

Jadi lagu ini adalah pengingat kita akan kesehatan hati :
1.Baca Quran & maknanya
2.Sholat malam dirikanlah
3.Berkumpul dg orang shaleh
4.Sering Puasa
5.Dzikir malam

Konsep dakwah sunan kalijaga ini ironisnya " terpikirkan " separo2 oleh kita termasuk ESQ,atau Lembaga pelatihan lainnya.Dan memang keajaiban ALquran adalah " TIDAK HANYA " untuk muslim saja tapi semua orang yang au berpikir termasuk orang yahudi atau nasrani.

Tragisnya seperti yang saya alami sebelumya membanggakan kata-kata mutiara dari " orang barat " yang semuanya berasal dari ISLAM.Dan saya termasuk hampir semua " yang katanya " penemu / pencipta itu dari nukilan ALQURAN dan Sunnah.

Fenomena ESQ bagi saya adalah fenomena hypnotis.Peserta akan dibawa kesuasana gelombang trance dg efek visualisasi dan getar suara trainer yang bariton.Inipula berlaku pada Ust.Arifin Ilham dan memang harusnya demikian ...
AlQuran telah mengajarkan kok agar kita bersuara rendah dan memahami betul makna yang dibaca setiap dzikir.

Mudah2an komentar sy bs menjadi penawar bagi saudara muslim yg " tidak kuat " membayar training mahal bisa melakukan hal yg serupa yang " GRATIS " diajarkan oleh para wali songo.

Semoga berkenan

FADIL mengatakan...

Saya lihat mas firdaus pada dasarnya mempersoalkan harga... hmm.. menurut saya harga itu relatif mas, pasti mas juga setuju dengan hal itu.. Kadang 2 juta terasa mahal untuk mendengarkan orang berkata2... tapi 5 juta wajar untuk sebuah handphone yang canggih untuk gaya2an... saya bukan alumni ESQ, tapi setau saya ESQ bukanlah kegiatan amal yang diisi oleh para volunteer, saya rasa training ESQ dibimbing oleh orang2 professional yang juga ingin dihargai kerja kerasnya dalam bentuk jasa komersialisasi krn orang yang dibimbingnya mendapatkan suatu kepuasan batin setelah mengikuti training ini.. jadi jika pesertanya merasa mendapatkan keuntungan, 2 jutaan gak mahal lah... mas pengen ikut tapi gak ada duit? kok putus asa gitu? berusaha dong... klo ingin maju..

el-ferda mengatakan...

makasih komentarnya mas fadil.

saya sudah mengikuti training itu mas. ada 5-6 di blog ini yang mengomentari soal training tersebut. silahkan baca yang lain. juga pandangan saya sebelum dan setelah mengikuti training itu.

moga kita bisa diskusikan.