Minggu, 30 Desember 2007

No Comment

Oleh: Firdos Putra A.

Bagi Anda yang sering ke warnet pasti tidak heran jika menjumpai ceceran file video dengan format 3GP, Real Player, Nokia Codec atau lainnya. Seperti yang saya temukan di beberapa recent file hasil download-an orang. Dan biasanya, film dengan durasi pendek itu merupakan film porno yang diproduksi secara amatir dan lokal. Bintangnya pun lokal, mungkin pasangan kekasih, teman kencan atau lainnya.

Begitulah kreativitas muda-mudi dengan berbekal teknologi rekam visual. Entah itu hanya sebatas menggunakan handphone yang berkamera atau camera digital dan yang lebih, memakai handycam. Sebenarnya pekerjaan semacam itu bisa dibilang enteng atau ringan. Bahkan, bagi peminatnya, pekerjaan tersebut bisa dinikamti sambil besenda gurau. Yang paling memberatkan mungkin kesiapan mental ketika mereka mem-publish hasil karyanya untuk tontonan umum.

Pertama kali saya berasumsi bahwa hal itu sengaja mereka buat untuk kemudian mereka publish. Saya membaca bahwa keinginan untuk merekam adegan bercinta berangkat dari hasrat eksistensial. Mereka nampaknya ingin berseru pada dunia, “Inilah kami, dan kami bisa melakukannya!”. Ya, tidak ketinggalan dengan buah karya bangbross.com, vivid.com, americannude.com dan sebagainya.

Modus eksistensial di atas tidak berbeda jauh dengan perilaku eksibisionisme, di mana orang yang bersangkutan akan memperoleh kenikmatan yang mungkin melampaui seks itu sendiri. Sebuah kenikmatan yang supra-seksual.

Dulu awal mula booming­-nya video porno lokal terjadi saat saya masih kelas menengah pertama, yakni film dokumenter “Bandung Lautan Asmara”. Para pengkaryanya dikriminalkan, dan jika isu itu benar, pengkaryanya di-dropt out dari universitas tempat mereka belajar.

Saya mensinyalir pembuatan video porno lokal bermula dari keinginan untuk berprestasi. Hanya saja mungkin mereka mempunyai bakat dan minat yang lain. Bisa jadi mereka kurang mempunyai kemampuan di bidang lain. Sebuah modus eksistensial yang sebenarnya nir-esensi.

Tapi apa mau dikata, saat ini video porno lokal begitu massal. Teknologi merupakan salah satu faktor pendorongnya. Kemudahan melakukan aktivitas rekam visual nampaknya dengan baik dimanfaatkan oleh mereka untuk membuat semacam diary percintaan. Sebenarnya tidak berbeda jauh ketika mereka menuliskannya, sebagai memoriam di buku agenda mereka. Hanya saja, yang membedakan secara tegas, bahwa media video menurut pasti bermula dari keinginan untuk dipertontonkan kepada orang lain.

Kecenderungan semacam ini menjamur di banyak kota di Indonesia. Saya ingin mengatakan ada semacam kecenderungan umum bahwa muda-mudi kita hari ini terjebak kepada kelimpahruahan, kemudahan, kecepatan teknologi. Jika bangbross.com, mereka membuat video porno dalam rangka komersil. Namun bagi pengkarya lokal, jangan-jangan mereka hanya tergiur dengan berbagai macam kemudahan di atas. Hari ini banyak provider memberikan kemudahan, misal saja IM3. Jika kita mengirim 10 buah SMS, maka mereka akan mendapat gratis 10 buah juga. Dan biasanya penggunaan pada bonus SMS tidak akan terlalu produktif atau bermanfaat. Nah, keisengan muncul di sana-sini. Entah sekedar mencari nomor lain, me-random nomor asing dan sebagainya. Sekedar bagaimana caranya untuk memanfaatkan bonus yang tersisa. Jika asumsi kedua saya yang benar, maka perilaku mereka hanya bisa dinilai dari ketidakmampuan beradaptasi dengan kecanggihan teknologi. Bisa dibilang mereka belum melek teknologi, dalam konteks pemanfaatannya bagi kehidupan manusia agar lebih beradab.

Terlepas pada dua asumsi yang saya ajukan, pada dasarnya saya menolak segala jenis tindakan pornoaksi dan juga pornografi. Mengingat, karya-karya yang mungkin sengaja atau tidak sengaja memasuki ruang publik, menjadi masalah bagi yang lain. Tidak ada pelarangan saya kira, jika mereka ingin berkarya, dengan catatan adanya jaminan tidak memasuki ruang publik. Video porno lokal, pantasnya hanya dikonsumsi bagi para pengkaryanya. Yang kemudian kita mungkin akan menyebutnya dengan ‘film dokumenter percintaan’.

Terakhir, saya menolak tindak pornografi dan pornoaksi. Juga saya menolak adanya Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Karena akar masalah menurut saya bukan pada konteks moral atau nilai ketimuran yang tercabik. Melainkan pada transformasi pendidikan kita yang tidak tuntas, salah satunya juga pendidikan tentang melek teknologi.[]

0 comments:

 
Toggle Footer